MAKALAH
PENERAPAN
CTL DENGAN KOOPERATIF NHT PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN
MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 MALANG
Diajukan
untuk memenuhi tugas mandiri
Mata kuliah: Model Pembelajaran Biologi
Dosen
pengampu : Eka Fitriah, S.Si, M.Pd
![]() |
Disusun
oleh:
Nama : Helmi Apriliyatmi Hapwiyah
NIM : 14111610109
Kelas/Semester : Biologi B/5
KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji kami
panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta
kemudahan dalam segala hal sehingga dalam pembuatan makalah ini, yang kami beri
judul “penerapan CTL dengan kooperatif NHT pada mata pelajaran biologi untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang”
dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Tak lupa pula shalawat
serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita nabi besar
Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya, dan semmoga kita termasuk umatnya
yang diberi syafa’at di yaumil akhir nanti. Amin.
Selanjutnya
kami ucapkan terimakasih terutama kepada dosen pengampu mata kuliah Model
Pembelajaran Biologi yang telah membimbing dalam pembuatan makalah. Tak lupa
kami ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan seperjuangan yang memberi dorongan
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Dari
makalah yang kami buat ini, berharap semoga dapat memberikan manfaat yang
berarti bagi para pembacanya dan dapat memberikan informasi tambahan. Akhir kata kami ucapkan mohon maaf apabila
terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk dapat memperbaiki makalah selanjutnya.
Cirebon,
September 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Proses
pembelajaran secara umum baik pada pendidikan dasar dan terutama pendidikan
menengah, masih sedikit sekali dan bahkan jarang ditemukan sebuah proses
pembelajaran yang mampu menciptakan dan menumbuhkan motivasi belajar dan
kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim atau kelompok bagi peserta didiknya.
Umumnya dalam proses pembelajaran masih sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa
memperhatikan kekontekstualitas materi ajar sehingga peserta didik kurang
termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran
biologi di sekolah-sekolah pada umumnya masih menggunakan model pembelajaran
konvensional, yang biasanya menggunakan pembelajaran yang bersifat langsung.
Model pembelajaran konvensional memiliki ciri yaitu suatu model pembelajaran
yang berpusat pada guru atau yang sering disebut dengan Teacher Center, dan memiliki urutan pembelajaran: penjelasan, contoh-contoh,
latihan, balikan.
Pembelajaran
yang terpusat pada guru mengakibatkan peserta didik kurang aktif, oleh karena
itu perlu digeser sedemikian rupa sehingga menjadi lebih terpusat pada peserta
didik. Demikian pula adanya asumsi bahwa seluruh peserta didik di kelas mempunyai
karakteristik sama membawa konsekuensi pada pemberian perlakuan belajar yang
serba sama pula pada mereka, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk
berkembang sesuai perbedaan yang dimilikinya. Menurut Murphy, seorang psikolog
kenamaan, berpandangan bahwa proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara
organisme yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu
(Suryabrata, 2002).
Kurang aktifnya siswa dalam mengajukan
pertanyaan atau bertanya menunjukkan rendahnya minat belajar, berbicara atau
mengobrol dengan teman sebangku di luar materi pelajaran dan tertidur saat
pelajaran berlangsung menunjukkan rendahnya perhatian belajar, tidak mencatat
dan bermain telepon seluller menunjukkan rendahnya konsentrasi belajar
sedangkan yang menunjukkan rendahnya ketekunan adalah tidak mengerjakan tugas,
terlambat masuk kelas dan meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung tanpa
alasan yang jelas.
Usaha untuk mengatasi rendahnya
motivasi belajar tersebut, salah satunya dengan memperbaiki kualitas proses
pembelajaran. Adanya proses pembelajaran yang lebih menyenangkan, tidak
monoton, melibatkan siswa dan bermakna bagi siswa diharapkan mampu menumbuhkan
motivasi belajar yang akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
B.
Rumusan
Masalah
Permasalahan tersebut
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengertian
model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
2. Apa
saja karakteristik dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
3. Apa
langkah-langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL dengan kooperatif
NHT?
4. Apa
kelebihan dan kekurangan model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT pada
bidang studi biologi?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
tentang model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT Mengetahui karakteristik
model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT
2. Mengetahui
langkah-langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL dengan kooperatif
NHT
3. Mengetahui
kelebihan dan kekurangan pada model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT pada
bidang studi biologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Model Pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT Pada Bidang studi Biologi
CTL
adalah
suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi bahan ajar
dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara
pengetahuan dan aplikasinya dalam hidupnya. CTL mempunyai beberapa
strategi dan komponen yang mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Strategi tersebut antara lain relating, applying dan transferring, sedangkan
komponen CTL antara lain konstruktivisme, inkuiri, pemodelan dan
bertanya. (Buana, 2009:5)
Setjo
(2004:7) menyatakan bahwa strategi applying dan transferring sangat
memotivasi siswa untuk belajar. Dua strategi ini membuat siswa termotivasi
karena memberi pengalaman dalam menerapkan konsep pengetahuan yang diperolehnya
dan memberi pengalaman siswa untuk menggunakan pengalaman dalam konteks yang
baru. Komponen kontruktivisme, inkuiri dan pemodelan membuat hasil pembelajaran
lebih bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, siswa dituntut dan didorong untuk
aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran, sehingga mampu
membangkitkan motivasi belajar siswa. Adanya komponen bertanya dalam CTL,
mengembangkan rasa keingintahuan siswa terhadap materi yang dipelajari, rasa
ingin tahu ini mencerminkan suatu bentuk kebutuhan akan suatu informasi yang
dilandasi oleh motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang penting atau bermanfaat
bagi diri siswa.
Oleh
sebab itu, melalui model pembelajaran kontekstual, mengajar bukan transformasi
pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghapal sejumlah konsep-konsep yang
sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada
upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya.
Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan
masyarakat (bukan dekat dari segi fisik). Akan tetapi, secara fungsional apa
yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan
permasalaha kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat).
(Rusman, 2012:190)
Pembelajaran
kooperatif adalah kerja kelompok yang terkelola dan terorganisasikan sedemikian
sehingga peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai
tujuan-tujuan akademik, effektif dan sosial (Johnson dan Johnson,1989). Dalam
model pembelajaran kooperatif terdapat lima prinsip yang harus tercermin
didalamnya.. lima prinsip tersebut adalah : 1) saling ketergantungan positif;
2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan
5) evaluasi proses kelompok.
Dalam
model pembelajaran kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilisator yang
berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi,
dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada
siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa
mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan
ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan
menerapkan ide-ide mereka sendiri. (Rusmana, 2012).
Salah
satu model dalam pembelajaran kooperatif adalah NHT. Model NHT adalah suatu
model pembelajaran yang dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawan. Model
ini menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memenuhi
pola-pola interaksi khusus siswa. Struktur-struktur tersebut menghendaki agar
para siswa bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara
kooperatif (Nurhadi dan Senduk, 2003:65). Kelebihan belajar kooperatif dengan
model struktural NHT menurut Hill & Hill (1993) dalam Arief (2004:28)
yaitu: 1) meningkatkan prestasi siswa, 2) memperdalam pemahaman siswa, 3)
menyenangkan siswa dalam belajar, 4) mengembangkan sikap positif siswa, 5)
mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, 6) mengembangkan rasa percaya diri siswa,
7) mengembangkan rasa saling memiliki dan 8) mengembangkan keterampilan untuk
masa depan.
Metode
kooperatif model NHT terdiri dari tahap Heads Together, saat
pelaksanaan tahap ini siswa dalam satu kelompok saling bekerjasama supaya
kelompoknya menjadi yang terbaik ketika memasuki tahap Answering. Tahap Answering
menuntut konsentrasi semua siswa dalam menyiapkan jawaban pertanyaan dengan
sebaik-baiknya, apabila jawaban benar maka akan diberi reward bagi
individu dan kelompok, begitu pula ketika ada siswa yang memberi penjelasan
atau tanggapan atas jawaban siswa lainnya.
Kagan
(1993)
menjelaskan, pada saat Heads Together akuntabilitas setiap individu juga
dibangun, sedangkan saat Answering siswa tahu bahwa salah satu dari
nomor akan dipanggil, maka dibutuhkan kemampuan untuk konsentrasi mendengarkan
jika nomornya dipanggil, kemudian kemampuan untuk sharing jawaban bagi
siswa yang nomornya tidak dipanggil karena mereka ingin kelompoknya menjadi
yang terbaik. Sardiman (2008:93) menjelaskan bahwa saingan atau kompetisi antar
kelompok dan individu dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong
belajar siswa. Hamachek (1990:292) menjelaskan, pendekatan kooperatif dan
kompetisi dapat meningkatkan motivasi.
B.
Karakteristik
Model Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik model
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan strategi koopertif
Number Head Together (NHT), antara lain sebagai berikut:
1.
Kerja sama.
2.
Saling menunjang.
3.
Menyenangkan tidak membosankan.
4.
Belajar dengan bergairah.
5.
Pembelajaran terintegrasi.
6.
Menggunakan berbagai sumber.
7.
Siswa aktif.
8.
Sharing dengan teman.
9.
Siswa kritis guru kreatif.
10.
Dinding kelas dan lorong-lorong penuh
dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel).
11.
Laporan kepada orang tua bukan hanya
rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dn
lain-lain. (Rusman, 2012: 198)
12.
Kelompok dibentuk dan siswa yang
memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
13.
Bila mungkin, anggota kelompok berasal
dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
14.
Pengahargaan lebih berorientasi kelompok
dari pada individu.
C.
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Kooperatif
Pada intinya
pengembangan setiap komponen CTL tersebut
dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengembangkan
pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan
cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan
dan keterampilan baru yang akan dimilikinya.
2. Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang akan diajarkan.
3. Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4. Mengembangkan
masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, tanya jawab,
dn lain sebagainya.
5. Menghadirkan
model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media
yang sebenarnya.
6. Membiasakan
anak untuk melalukan refleksi diri setiap kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
7. Melakukan
penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap
siswa. (Rusmana, 2012: 192)
Dalam
mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat
fase sebagai sintaks NHT:
a. Fase
1 : Penomoran
Dalam fase ini, guru
membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok
diberi nomor antara 1-5.
b. Fase
2 : Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah
pertnyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat
spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, “Berapakah jumlah gigi orang
dewasa?” atau berbentuk arahan, misalnya “Pastikan setiap orang mengetahui 5
buah ibu kota provinsi yang terletak di Pulau Sumatera.”
c. Fase
3: Berpikir bersama
Kelompok saling
mendekat dan mencoba menjawab bersama dengan menyatukan pendapatnya terhadap
jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui
jawaban tim.
d. Fase
4: Menjawab
Guru memanggil salah
satu nomor tertentu, kemudian siswa yanng nomornya sesuai mengcungkan tangannya
dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Kegiatan ini diulang
kembali oleh guru sampai semua pertanyaan terjawab habis.
( Wrasono, 2012: 261).
D.
Kelebihan
dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif
Model
pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT memiliki kelebihan dan kekurangan dalam
penerapannya. Kelebihan dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT,
diantaranya sebagai berikut:
1.
Meningkatkan prestasi akademik.
2.
Meningkatkan saling pengertian antar ras
dan antar etnik.
3.
Meningkatkan kepercayaan diri.
4.
Meningkatkan tumbuhnya empati.
5.
Meningkatkan berbagai keterampilan
sosial, seperti mau mendengar, resolusi konflik, sabar untuk antre menunggu
giliran, keterampilan kepemimpinan, serta keterampilan bekerja sama dalam tim
kerja.
6.
Mempererat hubungan sosial.
7.
Iklim kelas menjadi baik dengan
meningkatnya kesukaan bersekolah, kesukaan asyik dalam kelas, kesukaan belajar
isi/kurikulum pembelajaran dan kesukaan terhadap guru.
8.
Meningktakan inisiatif siswa dan
bertanggung jawab untuk memperoleh pencapaian yang baik dalam belajar,
meningkatkan kontrol diri para siswa untuk tidak mengabaikan pembelajaran.
9.
Meningkatkan ketrampilan untuk menerima
perbedaan.
10. Salah
satu jalan menuju tahap pemikiran tingkat tinggi adalah berinteraksi dengan
sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang orang lain.
11. Meningkatkan
tanggung jawab pribadi.
12. Meningkatkan
partisipasi secara setara dan adil.
13. Meningkatkan
durasi partisipasi. Presentase waktu yang digunakan untuk benar-benar belajar
oleh setiap siswa meningkat.
14. Memperbaiki
orientasi sosial. Para siswa tidak lagi melihat siswa yang lain sebagai
penghalang, tetapi sebagai mitra untuk mencapai keberhasilan. Para siswa paham
bahwa kesuksesan anggota tim yang lain akan meningkatkan probabilitas
pencapaian kesuksesannya sendiri.
15. Memperbaiki
orientasi pembelajaran. Sasaran pembelajaran siswa sekarang tidak lagi
semat-mata untuk memperoleh nilai, tetapi demi kesenangan karena bekerja sama
dalam tim, kepuasan karena menyelesaikan tugas yang menantang bersama-sama, dan
merasa dihargai sebagai anggota kelompok dan warga kelas.
16. Meningkatkan
pengetahuan pribadi dan keterampilan perwujudan pribadi, para siswa akan
menyadari dirinya apakah mereka terlalu dominan, pemalu atau bersikap kasar
atau bersikap terlalu membantu siswa yang lain dan mendapatkan umpan balik
sebagai hasil interaksi tersebut.
17. Meningkatkan
kecakapan sebagai pekerja (workplace skill), para siswa banyak belajar bagamana
saling bergantung secara positif dalam suatu tim. (Warsono, 2012: 243)
Adapun
kekurangan pada model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT:
1.
Timbulnya pemikiran tingkat tinggi
(higher order thinking) dari para siswa yang ternyata sesuai dengan
keterbatasan kemampuan berfikir dan tingkat kedewasaan para siswa.
2.
Seringkali siswa yang lebih cerdas
meninggalkan siswa yang lebih lemah pembelajarannya.
3.
Kesempatan untuk menerapkan pemikiran
tingkat tinggi (higher order thinking). Karena waktu yang sering kali terbatas,
kebanyakan kelompok siswa hanya berfokus pada implementasi pemikiran tingkat
rendah, asalkan tugas-tugas dari guru dapat diselesaikan.
4.
Upaya pengelompokan para siswa dengan
kecakapan yang berbeda-beda. Sementara para ahli meyakini bahwa pembentukan
kelompok heterogen terhadap siswa-siswa yang berbakat, seperti itu justru akan
menurunkan kemampuan belajar mereka atau kemampuan belajar mereka menjadi
kurang berkembang karena diganggu dengan keharusan membantu teman lain yang
kurang cepat berfikir.
5.
Umumnya jumlah siswa di Indonesia masih terlalu besar, sehingga kelas sulit
diatur untuk melakukan diskusi kelompok kecil. (Warsono, 2012: 240).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan mengenai model pembelajaran contextual teaching and leraning (CTL) dengan
kooperatif number head together (NHT) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Model pembelajaran contextual teaching
and learning dengan kooperatif number
head together (NHT) adalah suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru
menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa
untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam hidupnya dengan
menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memenuhi
pola-pola interaksi khusus siswa.
2.
Karakteristik model pembelajaran CTL
dengan kooperatif NHT adalah kerja sama, saling menunjang, menyenangkan tidak
membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan
berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif,
dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta,
gambar, artikel), laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil
karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dn lain-lain, kelompok
dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, bila
mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
berbeda-beda, dan pengahargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.
3.
Langkah-langkah model pembelajaran CTL dengan
kooperatif NHT adalah fase 1 : penomoran, fase 2 : mengajukan pertanyaan, fase
3: berpikir bersama, fase 4: Menjawab.
4.
Kelebihan dan kekurangan dari model
pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT. Kelebihan model pembelajaran CTL dengan
kooperatif NHT adalah: a). meningkatkan prestasi akademik. b). meningkatkan
saling pengertian antar ras dan antar etnik. c). meningkatkan kepercayaan diri.
d). meningkatkan tumbuhnya empati. e). meningkatkan berbagai keterampilan
sosial. f). mempererat hubungan sosial. g). iklim kelas menjadi baik dengan
meningkatnya kesukaan bersekolah. h). meningktakan inisiatif siswa dan
bertanggung jawab. i). meningkatkan ketrampilan untuk menerima perbedaan. j). salah
satu jalan menuju tahap pemikiran tingkat tinggi. k). meningkatkan tanggung
jawab pribadi. l). meningkatkan partisipasi secara setara dan adil. m). meningkatkan
durasi partisipasi. n). meningkatkan pengetahuan pribadi dan keterampilan
perwujudan pribadi. o). meningkatkan kecakapan sebagai pekerja (workplace
skill).
Sedangkan
kekurangannya adalah: a). Timbulnya pemikiran tingkat tinggi (higher order
thinking) dari para siswa. b). Seringkali siswa yang lebih cerdas meninggalkan
siswa yang lebih lemah pembelajarannya. c). Kebanyakan kelompok siswa hanya
berfokus pada implementasi pemikiran tingkat rendah. d). Pembentukan kelompok
heterogen terhadap siswa-siswa yang berbakat, seperti itu justru akan
menurunkan kemampuan belajar. e). Umumnya jumlah siswa di Indonesia masih terlalu besar, sehingga kelas sulit
diatur untuk melakukan diskusi kelompok kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Buana,
2009. Muhammad Fajar. Penerapan CTL dengan Kooperatif
NHT pada Mata Pelajaran Biologi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA
Muhammadiyah ! Malang (Jurnal). Semarang:
Rusman,
2012. Model-Model Pembelajaran
Mengembangkan Profesionalisme Guru. Bandung: PT Rajagrafindo Persada.
Trianto,
2011. Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif. Surabaya: Prenada Media Group.
Wahidin,
2006. Metode Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam. Bandung: Sangga Buana.
Warsono
dan Hariyanto, 2012. Pembelajaran aktif
Teori dan Assemen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar