A. Gambaran
Umum Sistem Peredaran Darah
Dalam dihidupnya, organisme
memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses
metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna, juga menghasilkan sampah
(zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh
seperti makanan dan oksigen serta hasil metabolisme dan sisa-sisanya, diangkut
dan diedarkan di dalam tubuh melalui sistem peredaran darah.
Hasil pencernaan makanan dan
oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah ke seluruh jaringan tubuh.
Sebaliknya, sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan
tubuh menuju organ-organ pembuangan. (Pratiwi. 2007: 80)
Sistem peredaran darah mengangkut
cairan keseluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan
berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap
nutien, dan membuang zat-zat sisa. Sistem peredaran darah membawa darah yang
kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Ketika darah mengalir melalui jaringan di
dalam pembuluh mikroskopis yang disebut kapiler, zat-zat kimia akan diangkut
antara darah dan cairan intersisial yang secara langsung menggenangu sel-sel
itu. (Campbell. 2001: 42)
B. Sistem
Peredaran Darah Hewan
Pada hewan metazoa (bersel
banyak) tingkat tinggi, seperti juga pada manusia, peredaran darahnya melalui
pembulu. Sistem transportasi hewan metazoa disusun oleh organ-organ berupa
jantung, pembuluh darah, dan darah.
1. Mekanisme
Peredaran Darah Pada Hewan
Pada hewan tingkat tinggi
terdapat dua tipe sistem peredaran darah, yaitu sistem peredaran darah terbuka
dan sistem peredaran darah tertutup. Berikut ini akan dibahas kedua sistem
peredaran darah tersebut.
a. Sistem
Peredaran Darah Terbuka
Sistem peredaran darah terbuka
adalah peredaran darah atau distribusi darah ke seluruh tubuh (jaringan) yang
tidak selalu melewati pembuluh darah. Kadang darah secara langsung menuju
jaringan tubuh tanpa melalui pembuluh, tidak ada perbedaan antara darah dan
cairan intersisial, dan cairan tubuh umum sebenarnya jauh lebih tepat disebut
hemolimfa. Satu atau lebih jantung memompakan hemolimfa ke dalam sistem sinus
yang saling berhubungan, yang merupakan ruangan yang mengelilinai organ
tersebut.
Disini, pertukaran kimiawi
terjadi antara hemolimfa dan sel-sel tubuh. Pada belalang dan artropda lain,
jantung tersebut merupakan tabung panjang yang berlokasi di bagian dorsal.
Ketika jantung berkontarsi, jantung tersebut akan memompa hemolimfa keluar
melalui pembuluh dan kemudian masuk ke dalam sinus. Ketika janting mengalami
relaksasi, jantung akan menyedot hemolimfa masuk ke dalam sistem sirkulasi
melalui pori-pori yang disebut ostia. Pergerakan tubuh yang menekan dan memeras
sinus membantu mensirkulasikan hemolimfa. (Campbell. 2001: 43)
b. Sistem
Peredaran Darah tertutup
Dalam sistem peredaran darah
tertutup, darah hanya terdapat secara terbatas dalam pembuluh dan terpisahkan
dari cairan intersisial. Satu atau lebih jantung memompa darah ke dalam
pembuluh-pembuluh besar yang bercabang menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih kecil
yang mengalir melalui organ-organ. Di sini, mater-materi di pertukarkan antara
darah dan cairan intersisial yang menggenangi sel tersebut. (Campbell. 2001:
43).
2. Sistem
Peredaran Darah Avertebrata
Sistem peredaran darah pada hewan
avertebrata masih belum lengkap seperti pada sistem peredaran hewan vertebrata.
Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata tidak dijumpai suatu pusat
koordinasi peredaran.
a. Serangga

Pada
belalang, jantung tubular dorsal memompa maju hemolimfa melalui pembuluh
anterior dan menuju ke bagian samping hewan itu melalui beberapa pembuluh
lateral yang berurutan. Hemolimfanya diperas ke arah samping melalui sinus oleh
gerakan tubuh, dan masuk kembali ke jantung melalui ostia, yang dilengkapi
dengan katup yang akan menutup ketika jantung berkontraksi. (Campbell. 2001:
43).
b. Cacing
Tanah

Pada
seekor cacing tanah, tiga pembuluh utama, satu dorsal dan dua ventral,
bercabang ke dalam pembuluh-pembuluh yang lebih kecil yang mengalirkan darah ke
berbagai organ. Pembuluh dorsal berfungsi sebagai jantung utama, yang memompa
darah maju ke depan oleh gerak peristaltik. Dekat dengan ujung anterior cacing
tersebut, lima pasang pembuluh melengkung mengitari saluran pencernaan,
sehingga menghubungkan pembuluh dorsal dan pembuluh ventral. Pembuluh
berpasangan itu berfungsi sebagai jantung tambahan, yang mendorong darah ke
arah ventral. Darah mengalir ke arah samping di dalam pembuluh ventral.
(Campbell. 2001: 43).
3. Sistem
Peredaran Darah Vertebrata
Sistem peredaran darah vertebrata
terdiri dari jantung, arteri, vena, kapiler, dan darah. Jantung adalah pusat
peredaran. Jantung yang tersusun oleh otot yang kuat memiliki kontraksi yang
ritmik (teratur), biasa kita sebut detak atau denyut. Dengan kekuatan kontraksinya,
jantung mampu mendorong darah meninggalkan jantung.
a. Pisces

Seekor
ikan mempunyai sebuah jantung dengan dua ruangan (bilik) utama, yaitu satu
atrium dan satu ventrikel. Darah yang dipompakan dari ventrikel mengalir
pertama-tama ke insang, tempat terjadinya pengambilan oksigen oleh darah dan
pembebasan karbon dioksida melewati dinding kapiler. Kapiler insang mengumpul
ke dalam suatu pembuluh yang membawa darah yang kaya akan oksigen ke hamparan
kapiler di semua bagian tubuh lainnya.
Darah itu kemudian kembali
melalui vena ke atrium jantung. Perhatikan bahwa pada seekor ikan, darah harus
mengalir melalui dua hamparan kapiler selama masing-masing sirkuit
(perputaran), satu dalam insang dan yang kedua, yang disebut kapiler sistemik,
dalam organ selain insang. Ketika darah mengalir melalui hamparan kepiler,
tekanan darah, tekanan hidrostatik yang mendorong darah mengalir melalui
pembuluh. Dengan demikian, darah yang kaya oksigen dari insang mengalir ke
organ-organ lain dengan sangat lambat pada ikan, tetapi proses tersebut dibantu
oleh pergerakan tubuh selama berenang. (Campbell. 2001: 44).
b. Amphibia
Amphibi memiliki jantung berbilik
tiga, dengan dua atria dan satu ventrikel. Ventrikel akan memompakan darah ke
dalam sebuah arteri bercabang yang mengarahkan darah melalui dua sirkuit,
sirkuit pulmokutaneus dan sirkuit sistemik. Sirkuit pulmokutaneus mengarahkan
ke jaringan pertukaran gas (dalam paru-paru dan kulit pada katak), dimana darah
akan mengambil oksigen sembari mengalir melalui kapiler.
Darah yang kaya oksigen kembali ke
atrium kiri jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke
dalam sirkuit sistemik. Sirkuit sistemik membawa darah yang kaya oksigen ke
atrium kanan melalui vena. Skema ini, yang disebut sirkulasi ganda menjamin
aliran darah yang kuat ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu
dipompa untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekananya dalam hamparan kapiler
pada paru-paru atau kulit. Keadaan ini sangat berbeda dari sirkulasi tunggal
dalam ikan, di mana darah mengalir secara langsung dari organ respirasi
(insang) ke organ lain dengan tekanan yang semakin berkurang.
Dalam ventrikel tunggal pada
jantung katak, terdapat pencampuran darah kaya oksigen yang telah kembali dari
paru-paru dengan darah yang kurang oksigen yang telah kembali dari bagian tubuh
yang lain. Akan tetapi, suatu abungan (ridge) di dalam ventrikel akan
mengalihkan sebagian besar dari darah yang kaya oksigen itu dari atrium kiri ke
dalam sirkuit sistemik dan sebagian besar darah yang miskin oksigen itu dari
atrium kanan ke dalam sirkuit pulmokutaneus. (Campbell. 2001: 45).
c.
Reptilia
Reptilia
Pada
reptilia, terdapat lebih sedikit lagi percampuran darah yang kaya oksigen
dengan darah yang kurang oksigen. Meskipun jantung reptilia berbiliki tiga,
ventrikel tunggal itu terbagi secara parsial. Reptilia mempunyai sirkulasi
ganda yaitu, sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner, yang mengalirkan darah dari
jantung ke jaringan pertukaran-gas dalam paru-paru dan kembali ke jantung. Pada
satu ordo reptilia, crocodilia, ventrikel secara sempurna terbagi menjadi bilik
kiri dan bilik kanan. (Campbell. 2001: 45).
d. Aves
Jantung berbilik empat pada
burung mempunyai dua atria dan dua ventrikel yang terpisah secara sempurna.
Terdapat sirkulasi ganda (sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner), bagian kiri
jantung hanya menangani darah yang kaya oksigen, sementara bagian kanan jantung
hanya menerima dan memompakan darah yang miskin oksigen. Pengiriman oksigen ke
seluruh bagian tubuh akan semakin
mengikat karena tidak ada
pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen, dan
sirkulasi ganda akan memulihkan tekanan setelah darah baru saja lewat melalui
kapiler paru-paru. Sebagai hewan endotermik, yang menggunakan panas yang
dibebaskan dari metabolisme untuk
menghangatkan
tubuh, burung memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya
dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran tubuh yang sama. (Campbell.
2001: 45-46).
mengikat karena tidak ada
pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen, dan
sirkulasi ganda akan memulihkan tekanan setelah darah baru saja lewat melalui
kapiler paru-paru. Sebagai hewan endotermik, yang menggunakan panas yang
dibebaskan dari metabolisme untuk
menghangatkan
tubuh, burung memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya
dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran tubuh yang sama. (Campbell.
2001: 45-46).
C. Sistem
Peredaran Darah Manusia
Sistem
peredaran darah pada manusia tersusun atas darah, pembuluh darah, dan jantung
sebagai pusat peredaran darah.
1.
Darah
Darah vertebrata merupakan suatu
jenis jaringan ikat yang terdiri atas beberapa jenis sel yang tersuspensi dalam
suatu matriks cairan yang disebut plasma. Tubuh manusia pada umumnya mengandung
kurang lebih 4 sampai 6 L darah. Jika sampel darah diambil, sel-sel darah dapat
dipisahkan dari plasma dengan cara memasukkan darah tersebut ke dalam alat
sentrifugasi dan memutarnya dengan kecepatan tertentu. (antikoagulan harus
ditambahkan untuk mencegah penggumpalan darah). Unsur seluler (sel dan fragmen
sel), yang berkisar sekitar 45% dari volume darah, akan mengendap ke dasar
tabung sentrifuge, dan membentuk pelet padat berwarna merah. Di atas pelet
seluler ini terdapat plasma transparan berwarna kekuning-kuningan. (Campbell.
2007: 53)
a.
Plasma Darah
Plasma darah mengandung sekitar
90% air. Di antara berbagai jenis zat yang larut dalam air terdapat garam-garam
anorganik, yang kadang-kadang disebut sebagai elektrolit darah dan terdapat di
dalam palsma dalam bentuk ion terlarut. Konsentrasi gabungan ion-ion ini
penting dalam pemeliharaan keseimbangan osmotik darah. Beberapa ion tersebut
juga membantu menyangga pH darah, yang mempunyai pH 7,4 pada manusia. Kemampuan
otot dan saraf untuk berfungsi secara normal juga bergantung pada konsentrasi ion-ion kunci dalam cairan
intersisial, yang mencerminkan konsentrasi ion-ion tersebut dalam plasma.
Ginjal mempertahankan elektrolit plasma pada konsentrasi yang tepat, yang merupakan
sebuah contoh homeostasis.
Kelompok zat terlarut penting
yang lain adalah protein plasma, yang mempunyai sejumlah fungsi. Secara
kolektif, protein plasma tersebut bertindak sebagai penyangga (buffer) melawan
perubahan pH, membantu mempertahankan keseimbangan osmotik antara darah dan cairan
intersisial, dan turut mempengaruhi viskositas atau kekentalan darah. Berbagai
jenis protein plasma juga mempunyai fungsi spesifik. Beberapa di antaranya
berfungsi sebagai pengantar untuk lipid yang tidak larut dalam air dan dapat
bergerak dalam darah hanya ketika terikat dengan protein. Kelompok protein
lain, imunoglobulin, adalah antibodi yang membantu memerangi virus dan zat
asing lainnya yang menyerang tubuh. Dan beberapa di antara protein plasma, yang
disebut fibrinogen, merupakan faktor penggumpalan yang membantu menyumbat
kebocoran ketika pembuluh darah mengalami perlukaan. Plasma darah yang telah
dihilangkan faktor penggumpalannya disebut serum.
Plasma juga mengandung berbagai
zat yang berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain,
yang meliputi nutrien, produk buangan metabolisme, gas-gas respirasi, dan
hormon. Plasma darah dan cairan intersisial memiliki komposisi yang serupa,
kecuali bahwa plasma mempunyai kandungan protein yang jauh lebih besar
dibandingkan dengan cairan intersisial (ingat bahwa dinding kapiler sangat
tidak permeabel terhadap protein). (Campbell. 2001: 53).
b. Sel
Darah
Terdapat tiga kelas sel yang
tersebar di seluruh plasma darah: sel darah merah, yang mengangkut oksigen, dan
sel darah putih, yang berfungsi dalam pertahanan tubuh. Unsur seluler yang
ketiga, keping darah adalah bagian-bagian sel yang terlibat dalam penggumpalan
darah.
1) Sel
Darah Merah (eritrosit)
Sel darah merah (red blood cell),
atau eritrosit (erythrocyte), sejauh ini merupakan sel darah yang paling banyak
jumlahnya, jauh melebihi yang lain. Setiap milimeter kubik darah manusia
mengandung 5 sampai 6 juta sel darah merah, dan terdapat sekitar 25 triliun
jenis sel ini dalam keseluruhan 5 L darah dalam tubuh.
Struktur sel darah merah
merupakan contoh lain yang sangat baik tentang struktur yang disesuaikan dengan
fungsinya. Sebuah eritrosit manusia berbentuk cakram bikonkaf, bagian tengahnya
lebih tipis dibandingkan dengan bagian tepi. Eritrosit mamalia tidak mengandung
nukleus (inti), suatu karakteristik yang tidak umum pada sel hidup (kelas
vertebrata lain mempunyai eritrosit yang bernukleus). Lebih jauh lagi, semua
sel darah merah tidak memiliki mitokondria dan menghasilkan ATP-nya secara
ekslusif melalui metabolisme anaerobik. Fungsi utama eritrosit adalah membawa
oksigen, dan akan sangat tidak efisien jika metabolisme eritrosit sendiri
bersifat aerobik dan mengkonsumsi sebagian oksigen yang mereka bawa. Ukuran
eritrosit yang kecil (berdiameter sekitar 12
m) juga sesuai dengan fungsinya. Supaya dapat diangkut, oksigen
harus berdifusi melewati membran plasma sel darah merah. Semakin kecil sel
darah merah semakin besar pula total luas permukaan membran plasma dalam suatu
volume darah. Bentuk bikonkaf eritrosit juga turut menambah luas permukaannya.
Meskipun sel darah merah berukuran sangat
kecil, sel itu mengandung sekitar 250 juta molekul hemoglobin, sejenis protein
pengikat dan pembawa oksigen yang mengandung besi. Baru-baru ini para peneliti
telah menemukan bahwa hemoglobin juga berikatan dengan molekul gas nitrat
oksida (NO) selain dengan O2. Ketika sel darah merah lewat melalui
hamparan kapiler paru-paru insang atau organ respirasi lainnya, oksigen akan
berdifusi ke dalam eritrosit dan hemoglobin akan berikatan dengan O2
dan NO. Hemoglobin akan membongkar muatannya dalam kapiler sirkuit sistemik. Di
sana O2 akan berdifusi ke dalam sel-sel tubuh. NO akan
merelaksasikan dinding kapiler, sehingga dapat mengembang. Hal tersebut mungkin
berperan dalam membantu mengirimkan O2 ke sel. (Campbell. 2001:
54-55).
2)
Sel Darah Putih (Leukosit)

Terdapat lima jenis utama sel
darah putih (white blood cell) atau leukosit: monosit, neutrofil, basofil,
eosinofil, dan limfosit. Fungsinya secara kolektif adalah untuk melawan dan
memerangi infeksi dengan berbagai cara. Sebagai contoh, monosit dan neutrofil
adalah fagosit, yang menelan dan mencerna bakteri dan serpihan sel-sel mati
dari tubuh kita sendiri. Limfosit akan terspesialisasi menjadi sel dan sel T, yang menghasilkan respons
kekebalan melawan zat-zat asing. Sel darah putih menghabiskan sebagian besar
waktunya di luar sistem sirkulasi, berpatroli di dalam cairan intersisial dan
sistem limfatik, di mana sebagian besar pertempuran melawan patogen dilakukan.
Secara normal, satu milimeter kubik darah manusia mempunyai sekitar 5.000
sampai 10.000 leukosit. Jumlah sel ini akan meningkat untuk sementara waktu
ketika tubuh sedang berperang melawan suatu infeksi. (Campbell. 2001: 55).
3)
Keping Darah (Trombosit)
Keping darah (platelet) atau
trombosit adalah fragmen-fragmen sel dengan diameter sekitar 2 sampai 3
m. Keping darah tidak mempunyai nukleus dan bermula sebagai
suatu fragmen sitoplasmik yang memisahkan dari sel besar dalam sumsum tulang.
Keping darah kemudian memasuki darah dan berfungsi dalam proses penting
penggumpalan darah. (Campbell. 2001: 55).
c.
Penggumpalan Darah

Kita
semua pernah mengalami luka dan terpotong atau tergores selama hidup kita, akan
tetapi kita tidak mengalami pendarahan yang menyebabkan kematian karena darah
kita mengandung materi yang dapat menyumbat kebocoran atau luka dalam pembuluh
darah kita. Bahan perekat itu selalu ada dalam darah kita dalam bentuk inaktif
yang disebut fibrinogen. Gumpalan akan terbentuk hanya ketika protein plasma
ini diubah ke dalam bentuk aktifnya, fibrin yang mengumpul menjadi
benang-benang yang membentuk anyaman gumpalan-gumpalan. Mekanisme penggumpalan
itu umumnya dimulai dengan pembebasan faktor penggumpalan dari trombosit dan
melibatkan rantaian reaksi yang kompleks yang pada akhirnya akan mengubah
bentuk fibrinogen menjadi fibrin. Lebih dari selusin faktor penggumpalan telah
ditemukan, namun mekanismenya masih belum dipahami sepenuhnya. Cacat turunan
dalam setiap tahapan proses penggumpalan itu menyebabkan hemofilia, penyakit
yang ditandai dengan pendarahan berlebihan meskipun akibat luka atau goresan
yang sangat kecil.
Faktor anti penggumpalan dalam
darah dalam keadaan normal mencegah penggumpalan secara spontan ketika tidak
ada cedera atau perlukaan. Akan tetapi, kadang-kadang trombosit mengumpul dan
fibrin mengalami koagulasi di dalam pembuluh darah dan menghambat aliran darah.
Gumpalan seperti itu disebut trombus. Gumpalan ini lebih mungkin terbentuk pada
individu yang mengidap penyakit kardiovaskuler yang merupakan penyakit jantung
dan pembuluh darah. (Campbell, 2001: 55-56).
d.
Penggolongan Darah
Golongan darah manusia dibedakan
berdasarkan komposisi aglutinogen dan aglutininnya.
Aglutinogen adalah
antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi
(penggumpalan darah). Aglutinogen disebut zat spesifik golongan karena
digunakan untuk menentukan golongan darah. Ada banyak aglutinogen yang menjadi
dasar pengelompokan golongan darah. Misalnya aglutinogen A dan B menjadi dasar
pengelompokan golongan darah sistem ABO dan aglutinogen Rhesus D menjadi dasar
pengelompokan untuk sistem Rhesus.
Aglutinin adalah substansi yang
menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi. Dr. Karl Landsteiner seorang
ahli imunologi dan patologi berkebangsaan Austria (1868-1943) dan Julius Donath
adalah penemu perbedaan antigen dan antibodi dalam sel darah manusia.
1)
Golongan Darah Sistem ABO
Pada golongan darah sistem ABO,
darah ddigolongkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB dan O untuk tujuan
transfusi darah. Apabila pada sel darah merah seseorang tidak terdapat
aglutinogen A ataupun B, darah digolongkan O. Jika hanya terdapat aglutinogen
A, darah digolongkan A. Jika terdapat aglutinogen B, darah digolongkan B, dan
jika terdapat aglutinogen A dan B, darah digolongkan AB.
Jika dalam sel darah sesorang
tidak terdapat aglutinogen A, maka dalam plasma akan terbentuk antibodi yang
dikenal sebagai aglutinin (anti-A) dan jika dalam sel darah merah tidak terdapat
aglutinogen B, dalam plasma terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin
(anti B). Berarti, golongan darah AB memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B
serta tidak memiliki aglutinin sama sekali. Lihat tabel.
Genotipe
|
Golongan
|
Aglutinogen
|
Aglutinin
|
|
00
|
0
|
-
|
Anti-A
dan anti-B
|
|
0A atau
AA
|
A
|
A
|
Anti-B
|
|
0B atau
BB
|
B
|
B
|
Anti-A
|
|
AB
|
AB
|
A dan B
|
-
|
|

Sebelum transfusi darah, terlebih
dahulu dilakukan penentuan golongan darah antara resipien dan donornya,
sehingga darah dapat dicari kesesuaiannya. Pengujian darah dilakukan sebagai
berikut ini. Jika darah seseorang yang di uji dicampur dengan serum aglutinin A
menggumpal, maka kemungkinan golongan darah orang tersebut adalah A atau AB.
Jika darah tidak menggumpal, kemungkinan golongan darah B atau O. Apabila diuji
dengan serum aglutinin B menggumpal, kemungkinan adalah golongan darah B atau
AB. Akan tetapi, bila tidak menggumpal, maka kemungkinan golongan darah A atau
O.
2)
Golongan Darah Sistem Rhesus

Golongan
darah sistem Rhesus di dasarkan atas ada tidaknya aglutinogen Rhesus (Rh) yang
disebut juga faktor Rhesus. Pada tahun 1940, Landsteiner menemukan bahwa
golongan darah A dapat diberikan pada kera jenis Macaca mulata, tetapi 15% lainnya tidak dapat diberikan karena
terjadi aglutinasi. Dari penelitian ini, golongan darah A dibagi lagi menjadi
golongan darah A (Rh+) atau A-, yaitu yang dapat
diberikan kepada Macaca mulata dan
golongan darah A (Rh-) atau A+ yang tidak dapat
diberikan. Golongan darah yang lain pun dibedakan menjadi Rh+ dan Rh-.
Seseorang yang memiliki faktor Rh
di dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh+, sedangkan orang
yang tidak memiliki faktor Rh dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh-.
Faktor Rh tidak begitu berpengaruh dalam transfusi darah, tetapi pada kasus
tertentu dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Mekanismenya dapat
dilihat pada gambar.
Jika seorang ibu Rh- kawin
dengan lelaki Rh+, maka anak dalam kandungannya mungkin Rh+.
Saat dalam kandungan , sel darah merah Rh+ anaknya dapat keluar
menembus plasenta ke sistem sirkulasi ibunya, yaitu saat plasenta rusak sebelum
atau sesudah bayi dilahirkan. Hal itu menyebabkan si ibu memproduksi antibodi
anti-Rh. Jika ibu hamil lagi dan anaknya memiliki faktor Rh+, maka
antibodi anti-Rh ibu akan masuk lewat plasenta dan merusak sel darah merah
anak. Akibatnya terjadi kerusakan sel darah merah pada anak kedua yang dapat
menyebabkan kematian. Keadaan seperti ini disebut penyakit eritroblastosis fetalis.
Philip Levine seorang ahli
serologi Amerika mengemukakan bahwa penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis) disebabkan oleh
sel-sel darah bayi yang mati oleh aglutinin yang berasal dari ibunya.
Pertolongan yang dapat diberikan ialah mengganti darah bayi seluruhnya.
(Pratiwi. 2007:85-86).
KEGIATAN
PRAKTIUKUM
A. TUJUAN
1.
Menentukan golongan darah pada manusia
2.
Menghitung
denyut nadi pada manusia
3.
Mengetahui
cara menghitung tekanan darah pada manusia
B. DASAR
TEORI
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah
medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato-
yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Darah beredar ke seluruh tubuh dengan membawa oksigen
dan zat makanan. Setelah terjadi pertukaran gas dan sisa metabolism di
sel/jaringan, darah akan membawa karbondioksida menuju ke paru-paru untuk
ditukarkan dengan oksigen kembali. Proses ini akan membawa darah masuk ke
jantung, tekanan darah ketika masuk dan keluar jantung kita kenali sebagai
detak jantung.
Berdasarkan kandungan jenis karbohidrat dan protein
yang ada pada sel darah merah, kita mengenal istilah penggolongan darah. Ada
beberapa macam penggolongan darah pada manusia, salah satu diantaranya ialah
menurut sistem ABO. Menurut sistem ini, darah manusia dibagi dalam 4 golongan
yaitu golongan darah A, B, AB dan O.
Ø Golongan darah
A : apabila dalam butir darahnya
mempunyai aglutinogen A, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin b
Ø Golongan darah
B : apabila dalam butir darahnya
mempunyai aglutinogen B, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a
Ø Golongan darah AB : apabila
dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen A dan B, sedangkan dalam plasma
darahnya tidak mengandung aglutinin.
Ø Golongan darah A : apabila dalam butir darahnya tidak
mempunyai aglutinogen , sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a
dan b.
Bila antigen A bercampur dengan aglutinin a atau
aglutinogen B bercampur dengan aglutinin b maka akan terjadi
aglutinasi/penggumpalan. Dalam transfusi darah yang diperhatikan bagi si donor
adalah aglutinogennya.
C. ALAT
DAN BAHAN
1. Alat
Ø Mikroskop
Ø kaca objek
Ø Jarum outoclick
2. Bahan
Ø Serum a dan b
Ø Alkohol 96%
D. METODE
KERJA
1. Golongan darah
Ø Sediakan sebuah kaca objek yang bersih
Ø Bersihkan jari anda dengan alkohol kemudian dengan
menggunakan autoclick ambil darah pada ujung jari sebanyak 1 tetes pada kedua
ujung kaca objek
Ø Tambahkan pada masing-masing darah tersebut serum a
dan b
Ø Aduklah masing-masing campuran serum dan darah anda
tadi dengan menggunakan tusuk gigi
Ø Perhatikan apa yang terjadi pada keduanya, bila perlu
amati dengan menggunakan loupe
Bila
campuran darah pada serum a menggumpal, maka anda bergolongan darah A
Bila
campuran darah pada serum b menggumpal, maka anda bergolongan darah B
Bila kedua
campuran darah menggumpal, maka anda bergolongan darah AB
Bila kedua
campuran darah tidak menggumpal, maka anda bergolongan darah O
2. Tekanan darah
Ø Dengan menggunakan spigmomanometer, ukurlah tekanan
darah anda.
Ø Catat hasilnya dalam tabel bandingkan hasilnya dengan
teman sekelompokmu.
3. Denyut nadi
Ø Hitunglah berapa denyut nadimu selama 1 menit dalam
keadaan istirahat/ aktivitas rendah.
Ø Lari-lari di tempat selama 1 menit, kemudian hitung
kembali denyut nadimu.
Ø Catat hasilnya dalam tabel, kemudian bandingkan
hasilnya dengan teman sekelompokmu.
E. HASIL
PENGAMATAN
Tabel
Pengamatan
1. Golongan Darah
No
|
Nama
|
Anti A
|
Anti B
|
Golongan
Darah
|
- Denyut Nadi
No
|
Nama
|
Frekuensi
Denyut Nadi
|
|
Diam
|
Aktivitas
|
||
- Tekanan Darah
No
|
Nama
|
Sistole
|
Diastole
|
- Tinggi Badan – Berat Badan
No
|
Nama
|
Tinggi
Badan
|
Berat
Badan
|
2. Alat-alat
Peredaran Darah
Alat-alat peredaran pada manusia
terdiri dari jantung dan pembuluh-pembuluh darah.
a.
Jantung

Jantung manusia yang berada
persis di bawah tulang dada (sternum) misalnya, berukuran sekitar satu kepalan
tangan. Jantung terutama tersusun dari jaringan otot jantung. Kedua atria
mempunyai dinding yang relatif tipis dan berfungsi sebagai ruangan penampungan
bagi darah yang kembali ke jantung dan hanya memompa darah dalam jarak yang
sangat dekat menuju ventrikel. Ventrikel mempunyai dinding yang lebih tebal dan
jauh lebih kuat dibandingkan dengan atrium khususnya ventrikel kiri, yang harus
memompakan darah keluar ke seluruh organ tubuh melalui sirkuit sistemik.
Empat katup dalam jantung, yang
masing-masing terdiri atas kelepak-kelepak (flaps) jaringan ikat, berfungsi
untuk mencegah aliran balik darah. Antara setiap atrium dan ventrikel terdapat
katup atrioventrikel (artioventricular valva, AV). Katup AV ditambatkan oleh
serabut kuat yang mencegah terjadinya perputaran balik aliran darah dari dalam
keluar. Tekanan yang dibangkitkan oleh kontraksi ventrikel yang sangat kuat akan
menutup katup AV, sehingga menjaga darah tidak mengalir kembali ke dalam
atrium. Katup semilunar (semilunar valve) terletak di kedua pintu keluar
jantung, tempat aorta meninggalkan ventrikel kiri dan artei pulmoner meninggalkan
ventrikel kanan. Darah dipompakan keluar dan masuk ke dalam arteri melalui
katup semilunar, yang dipaksa membuka oleh tekanan yang diciptakan oleh
kontraksi ventrikel. Ketika ventrikel berelaksasi, darah mulai mengalir kembali
menuju jantung, menutup katup semilunar, yang mencegah darah mengalir kembali
ke dalam ventrikel. Dinding arteri yang elastis akan mengembang ketika menerima
darah yang dikeluarkan dari ventrikel. (Campbell. 2001: 46-47).
b.
Pembuluh-Pembuluh Darah
Pada abad ke-17, penyelidikan
tentang peredaran darah telah dilakukan oleh para ahli. Penelitian tersebut
menemukan bahwa darah di dalam tubuh mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah.
1)
Pembulu Nadi (Arteri)
Pada saat jantung berkontraksi
(sistol), darah akan keluar dari bilik menuju pembuluh nadi (arteri). Pembuluh
nadi adalah pembuluh yang membawa darah dari jantung dan umumnya mengandung
banyak oksigen. Pembuluh ini tebal, elastis, dan memiliki sebuah katup (valvula
semilunaris) yang berada tepat di luar jantung. Letak pembuluh nadi biasanya di
dalam tubuh, hanya beberapa yang terletak di dekat permukaan sehingga dapat
dirasakan denyutnya.
Secara anatomi, pembuluh nadi
tersusun atas tiga lapisan jaringan. Lapisan luar berupa jaringan ikat yang
kuat dan elastis. Lapisan tengah berupa otot polos yang berkontraksi secara tak
sadar. Otot polos akan merenggang pada saat darah melewatinya sehingga lapisan
ini tidak melipat. Lapisan dalam berupa jaringan endotelium yang melindungi
jaringan di dalamnya. Pembuluh nadi yang dilewati darah adalah sebagai berikut.
(Pratiwi. 2007: 88).
a)
Pembuluh nadi besar (aorta)
Aorta adalah pembuluh yang
dilewati darah dari bilik kiri jantung menuju ke seluruh tubuh. Aorta becabang-cabang,
makin lama makin kecil, dan disebut pembuluh nadi (arteri). Arteri
becabang-cabang lagi makin kecil, disebut arteriola. Arteriola becabang halus
diseluruh tubuh dan disebut kapiler.
Kapiler sangat halus dan tersusun
oleh satu lapis jaringan endotelium. Kapiler dapat masuk sampai ke sel-sel
tubuh. Disinilah terjadi pertukaran gas, air, dan garam mineral ataupun larutan
bahan organik dari kapiler darah dengan sel-sel darah tubuh. Kapiler-kapiler
akan saling bertautan dinamakan venula. Darah yang telah beredar dari seluruh
tubuh melewati venula dan menuju vena yang lebih besar, kemudian akhirnya
menuju vena kava (pembuluh balik tubuh) dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990:
190).
b) Pembuluh
Nadi Paru-Paru (Arteri Pulmonalis)
Pembuluh nadi paru-paru adalah
pembuluh yang dilewati darah dari bilik kanan menuju paru-paru (pulmo).
Pembuluh ini banyak mengandung karbon dioksida yang akan dilepaskan ke
paru-paru. Di dalam paru-paru, yaitu di alveolus, darah melepas karbon dioksida
dan mengikat oksigen. Dari kapiler di paru-paru, darah akan menuju ke venula,
kemudian ke vena pulmonalis dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990: 192-193).
2)
Pembuluh Balik (Vena)
Pembuluh balik adalah pembuluh
yang membawa darah kembali ke jantung, yang umumnya mengandung karbon dioksida.
Pembuluh balik (vena) lebih mudah dikenali daripada nadi karena letaknya di
daerah permukaan. Seperti halnya nadi, pembuluh balik juga disusun oleh tiga
lapisan, tetapi dinding pembuluh ini lebih tipis dan tidak elastis. Tekanan
pembuluh balik lemah lemah dibandingkan dengan tekanan pembuluh nadi dan di
sepanjang pembuluh balik terdapat katup yang menjaga agar darah tak kembali.
Saat jantung berelaksasi
(diastol), darah dari tubuh dan paru-paru akan masuk ke jantung melalui vena.
Pembuluh balik ini merupakan tempat masuknya darah ke jantung. Vena diselubungi
oleh otot rangka dan memiliki sebuah katup, yaitu valvula semilunaris.
Pembuluh balik yang masuk ke
jantung adalah sebagai berikut:
a)
Vena Kava
Vena kava bercabang-cabang
menjadi pembuluh yang lebih kecil, yaitu vena. Vena bercabang-cabang lagi
menjadi kapiler vena yang disebut venula. Venula berada di dalam sel-sel tubuh
dan berhubungan dengan kapiler arteri. Ada dua macam vena kava, yaitu vena kaca
superior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari bagian
atas tubuh (kepala, leher dan anggota badan atas) ke serambi kanan jantung dan
vena kava inferior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari
bagian tubuh lainnya dan anggota badan bawah tubuh ke serambi kanan jantung.
(Wldan. 1990: 195-196).
b)
Vena Pulmonalis
Vena ini mebawa darah yang
mengandung O2 dari paru-paru ke serambi kiri jantung.
3.
Mekanisme Peredaran Darah Manusia

Ada dua macam peredaran darah
dalam tubuh manusia. Peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru
melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena
pulmonalis disebut peredaran darah kecil. Sedangkan peredaran darah dari bilik
kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi
kanan jantung melalui vena kava disebut peredaran darah besar. Oleh karena pada
manusia terdapat kedua macam peredaran
darah tersebut, maka manusia dikatakan memiliki peredaran darah ganda. (Pratiwi. 2007: 88-89).
D. Kelainan
Pada Sistem Peredaran Darah
Kelainan dan gangguan pada sistem
peredaran darah dapat ditimbulkan karena pewarisan sifat (keturunan), rusaknya
alat peredaran darah akibat kecelakaan, atau akibat makanan yang dikonsumsi
banyak mengandung lemak dan zat kapur. Zat makanan tersebut dapat menyebabkan
penyumbatan pembuluh darah atau berkurangnya elastisitas otot jantung dalam
mekanisme pompa dan isap.
Kelainan atau gangguan pada
sistem peredaran darah antara lain:
a.
Anemia (kurang darah), dikarenakan
kurangnya kadar Hb atau kurangnya jumlah eritrosit dalam darah.
b.
Varises adalah pelebaran pembuluh darah
di betis.
c.
Hemoroid (ambeien), adalah pelebaran
pembuluh darah di sekitar dubur (anus).
d.
Arteriosklerosis, adalah pengerasan pembuluh nadi
karena timbunan atau endapan kapur.
e.
Artherosklerosis, ialah pengerasan pembuluh nadi
karena endapan lemak.
f.
Embolus, ialah tersumbatnya pembuluh
darah karena benda yang bergerak.
g.
Trombus, ialah tersumbatnya pembuluh
darah karena benda yang tidak bergerak.
h.
Hemofilia, ialah kelainan darah sukar
membeku karena faktor hereditas atau keturunan.
i.
Leukemia (kanker darah), ialah
bertambahnya leukosit secara tak terkendali.
j.
Penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis
fetalis), adalah rusaknya eritrosit bayi atau janin akibat aglutinasi dari
antibodi ibu, apabila ibu bergolongan darah Rh- dan embrio Rh+.
Penyakit ini terjadi pada kandungan kedua, jika kandungan pertama embrio juga
bergolongan darah Rh+.
k.
Penyakit jantung koroner (PJK), yaitu penyempitan
arteikoronaria yang mengangkut O2 ke jantung.
l.
Talasemia, merupakan anemia akibat
rusaknya gen pembentuk hemoglobin yang bersifat menurun.
Rangkuman
Sistem peredaran darah mengangkut cairan keseluruh
tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel
tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutien, dan membuang
zat-zat sisa.
Sistem peredaran darah pada hewan terbagi menjadi
sistem peredaran darah terbuka yaitu sistem peredaran darah ke seluruh tubuh
yang tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah
tertutup adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati
pembuluh-pembuluh darah. Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata dan
sistem peredaran pada hewan vertebrata.
Sistem peredaran manusia terdiri dari plasma darah
dan sel-sel darah. Alat peredaran darahnya berupa jantung sebagai pusat peredaran
darah dan pembuluh-pembuluh darah. Mekanisme sistem peredaran darah manusia
terdiri dari dua macam yaitu, sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran
darah besar. Sistem peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik
kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke
serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar
adalah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta
dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
Mekanisme pembekuan darah yaitu kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh.
Trombosit ikut keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan
kasar dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim)
yang disebut trombokinase. Trombokinase akan masuk ke dalam
plasma darah dan akan mengubah protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin.
Perubahan tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah.
Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung
globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati.
Pembentukannya dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen
menjadi benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin
menyebabkan luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi.
Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan,
apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan
terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat
fatal dalam tubuh kita.
Penggolongan darah terbagi menjadi dua yaitu,
penggolongan darah sistem ABO dan penggolongan darah sistem rhesus. Kelainan
atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises,
hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus,
trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.
Soal Latihan
A. Pilihlah
satu jawaban yang tepat!
1.
Peredaran darah cacing tanah merupakan sistem
peredaran darah ...
a.
Ganda b.
Tunggal c. Tertutup d. Terbuka e. Primer
2.
Peredaran darah pada belalang adalah sistem peredaran
darah yang ....
a.
Tertutup c.
Tunggal e. Terbuka
b. Ganda d. primer
3.
Jantung katak terdiri dari ...
a.
1 serambi,
dan 2 bilik d. 2 serambi,
dan 1 bilik
b.
2 serambi,
dan 2 bilik e. 1 serambi,
dan 1 bilik
c.
3 serambi,
dan 1 bilik
4.
Sistem peredaran darah manusia terdiri dari komponen
berikut kecuali:
a.
Darah
b.
Jantung
c.
Vena
d.
Arteri
e.
Ginjal
5.
Fungsi hemoglobin adalah…
a.
Membawa CO2 ke jaringan
b.
Membawa CO2 dari jaringan
c.
Membantu dalam proses pembekuan darah
d.
Mengikat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh
e.
Membawa glukosa ke seluruh tubuh
6.
Darah tersusun dari sel-sel darah dan…
a.
Plasma darah
b.
Eritrosit
c.
Leukosit
d.
Trombosit
e.
Fibrinogen
7.
Sel darah sebagai pertahanan tubuh dari sel-sel asing
yang menyebabkan penyakit adalah fungsi dari…
a.
Eritrosit
b.
Trombosit
c.
Leukosit
d.
Trombokinase
e.
Agranuler
8.
Golongan darah A memiliki aglutinogen…
a.
A
b.
B
c.
AB
d.
O
e.
Rh+
9. Enzim yang
berperan dalam pengubahan protrombin menjadi trombin adalah…
a. Polimerase
b. Histamin
c. Heparin
d. Trombokinase
e. Vitamin K
10. Zat yang
menentukan golongan darah manusia adalah . . . .
a. aglutinin
dan eritrosit
b. aglutinin
dan leukosit
c. aglutinin
dan aglutinogen
d. aglutinogen
dan eritrosit
e. aglutinogen
dan leukosit
B. Jawablah
pertanyaan berikut!
1.
Apa
yang dimaksud dengan sistem peredaran darah terbuka dengan sistem peredaran
darah tertutup?
2.
Secara
teori, bila seseorang bergolongan darah AB memerlukan transfusi darah, orang
bergolongan darah apa saja yang dapat menyumbangkan darahnya untuk orang
tersebut? Jelaskan!
3.
Jelaskan
sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran darah besar?
4.
Bagaimana
mekanisme pembekuan darah?
5.
Sebutkan
kelainan-kelainan yang terjadi pada sistem peredaran darah?
KUNCI JAWABAN
A. Pilihan
Ganda
1.
C
2.
E
3.
D
4.
E
5.
E
6.
D
7.
C
8.
A
9.
D
10.
C
B. Essay
1.
Sistem
peredaran darah terbuka adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang
tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah tertutup
adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati pembuluh darah.
2.
Seluruh
golongan darah yang menyumbang orang yang bergolongan darah AB, karena golongan
darah AB memiliki aglutinogen A dan B,
sedangkan tidak mempunyai aglutinin anti-A dan anti-B.
3.
Sistem
peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju
paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung
melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar adalah peredaran
darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya
kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
4.
Mekanisme
pembekuan darah yaitu kulit
terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar juga
bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan menyebabkan
trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase.
Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah protrombin
menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut dipengaruhi
ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah
senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini
merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati. Pembentukannya
dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi
benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka
akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah
sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini
beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya
akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh
kita.
5.
Kelainan
atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises,
hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus,
trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil. A. 2001. “Biologi edisi ke-5 jilid
ke-2”. Erlangga : Jakarta
Pratiwi,
dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI.
Erlangga: Jakarta.
Yatim,
Wildan. 1990. Histologi. Tarsito:
Bandung.
BIOGRAFI PENULIS
Penulis memiliki nama lengkap
Helmi Apriliyatmi Hapwiyah, lahir pada tanggal 21 April 1993 di Indramayu.
Pendidikan dasar di SD Negeri Eretan Wetan 1, pada tahun 1999 sampai dengan
tahun 2005. Kemudian, melanjutkan
pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Kandanghaur dari tahun 2005
sampai dengan selesai pada tahun 2008. Seusai menjalani pendidikan sekolah
menengah, penulis kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1
Kandanghaur dari tahun 2008 sampai 2011.

PROPOSISI
MATERI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SISTEM PEREDARAN DARAH BERDASARKAN RUJUKAN
BIOLOGI untuk SMA Kelas XI DAN PENGETAHUAN SISWA![]() |
PETA KONSEP
![]() |
Membahas tentang
Pada
meliputi
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
A. Gambaran
Umum Sistem Peredaran Darah
Dalam dihidupnya, organisme
memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses
metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna, juga menghasilkan sampah
(zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh
seperti makanan dan oksigen serta hasil metabolisme dan sisa-sisanya, diangkut
dan diedarkan di dalam tubuh melalui sistem peredaran darah.
Hasil pencernaan makanan dan
oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah ke seluruh jaringan tubuh.
Sebaliknya, sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan
tubuh menuju organ-organ pembuangan. (Pratiwi. 2007: 80)
Sistem peredaran darah mengangkut
cairan keseluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan
berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap
nutien, dan membuang zat-zat sisa. Sistem peredaran darah membawa darah yang
kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Ketika darah mengalir melalui jaringan di
dalam pembuluh mikroskopis yang disebut kapiler, zat-zat kimia akan diangkut
antara darah dan cairan intersisial yang secara langsung menggenangu sel-sel
itu. (Campbell. 2001: 42)
B. Sistem
Peredaran Darah Hewan
Pada hewan metazoa (bersel
banyak) tingkat tinggi, seperti juga pada manusia, peredaran darahnya melalui
pembulu. Sistem transportasi hewan metazoa disusun oleh organ-organ berupa
jantung, pembuluh darah, dan darah.
1. Mekanisme
Peredaran Darah Pada Hewan
Pada hewan tingkat tinggi
terdapat dua tipe sistem peredaran darah, yaitu sistem peredaran darah terbuka
dan sistem peredaran darah tertutup. Berikut ini akan dibahas kedua sistem
peredaran darah tersebut.
a. Sistem
Peredaran Darah Terbuka
Sistem peredaran darah terbuka
adalah peredaran darah atau distribusi darah ke seluruh tubuh (jaringan) yang
tidak selalu melewati pembuluh darah. Kadang darah secara langsung menuju
jaringan tubuh tanpa melalui pembuluh, tidak ada perbedaan antara darah dan
cairan intersisial, dan cairan tubuh umum sebenarnya jauh lebih tepat disebut
hemolimfa. Satu atau lebih jantung memompakan hemolimfa ke dalam sistem sinus
yang saling berhubungan, yang merupakan ruangan yang mengelilinai organ
tersebut.
Disini, pertukaran kimiawi
terjadi antara hemolimfa dan sel-sel tubuh. Pada belalang dan artropda lain,
jantung tersebut merupakan tabung panjang yang berlokasi di bagian dorsal.
Ketika jantung berkontarsi, jantung tersebut akan memompa hemolimfa keluar
melalui pembuluh dan kemudian masuk ke dalam sinus. Ketika janting mengalami
relaksasi, jantung akan menyedot hemolimfa masuk ke dalam sistem sirkulasi
melalui pori-pori yang disebut ostia. Pergerakan tubuh yang menekan dan memeras
sinus membantu mensirkulasikan hemolimfa. (Campbell. 2001: 43)
b. Sistem
Peredaran Darah tertutup
Dalam sistem peredaran darah
tertutup, darah hanya terdapat secara terbatas dalam pembuluh dan terpisahkan
dari cairan intersisial. Satu atau lebih jantung memompa darah ke dalam
pembuluh-pembuluh besar yang bercabang menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih kecil
yang mengalir melalui organ-organ. Di sini, mater-materi di pertukarkan antara
darah dan cairan intersisial yang menggenangi sel tersebut. (Campbell. 2001:
43).
2. Sistem
Peredaran Darah Avertebrata
Sistem peredaran darah pada hewan
avertebrata masih belum lengkap seperti pada sistem peredaran hewan vertebrata.
Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata tidak dijumpai suatu pusat
koordinasi peredaran.
a. Serangga

Pada
belalang, jantung tubular dorsal memompa maju hemolimfa melalui pembuluh
anterior dan menuju ke bagian samping hewan itu melalui beberapa pembuluh
lateral yang berurutan. Hemolimfanya diperas ke arah samping melalui sinus oleh
gerakan tubuh, dan masuk kembali ke jantung melalui ostia, yang dilengkapi
dengan katup yang akan menutup ketika jantung berkontraksi. (Campbell. 2001:
43).
b. Cacing
Tanah

Pada
seekor cacing tanah, tiga pembuluh utama, satu dorsal dan dua ventral,
bercabang ke dalam pembuluh-pembuluh yang lebih kecil yang mengalirkan darah ke
berbagai organ. Pembuluh dorsal berfungsi sebagai jantung utama, yang memompa
darah maju ke depan oleh gerak peristaltik. Dekat dengan ujung anterior cacing
tersebut, lima pasang pembuluh melengkung mengitari saluran pencernaan,
sehingga menghubungkan pembuluh dorsal dan pembuluh ventral. Pembuluh
berpasangan itu berfungsi sebagai jantung tambahan, yang mendorong darah ke
arah ventral. Darah mengalir ke arah samping di dalam pembuluh ventral.
(Campbell. 2001: 43).
3. Sistem
Peredaran Darah Vertebrata
Sistem peredaran darah vertebrata
terdiri dari jantung, arteri, vena, kapiler, dan darah. Jantung adalah pusat
peredaran. Jantung yang tersusun oleh otot yang kuat memiliki kontraksi yang
ritmik (teratur), biasa kita sebut detak atau denyut. Dengan kekuatan kontraksinya,
jantung mampu mendorong darah meninggalkan jantung.
a. Pisces

Seekor
ikan mempunyai sebuah jantung dengan dua ruangan (bilik) utama, yaitu satu
atrium dan satu ventrikel. Darah yang dipompakan dari ventrikel mengalir
pertama-tama ke insang, tempat terjadinya pengambilan oksigen oleh darah dan
pembebasan karbon dioksida melewati dinding kapiler. Kapiler insang mengumpul
ke dalam suatu pembuluh yang membawa darah yang kaya akan oksigen ke hamparan
kapiler di semua bagian tubuh lainnya.
Darah itu kemudian kembali
melalui vena ke atrium jantung. Perhatikan bahwa pada seekor ikan, darah harus
mengalir melalui dua hamparan kapiler selama masing-masing sirkuit
(perputaran), satu dalam insang dan yang kedua, yang disebut kapiler sistemik,
dalam organ selain insang. Ketika darah mengalir melalui hamparan kepiler,
tekanan darah, tekanan hidrostatik yang mendorong darah mengalir melalui
pembuluh. Dengan demikian, darah yang kaya oksigen dari insang mengalir ke
organ-organ lain dengan sangat lambat pada ikan, tetapi proses tersebut dibantu
oleh pergerakan tubuh selama berenang. (Campbell. 2001: 44).
b. Amphibia
Amphibi memiliki jantung berbilik
tiga, dengan dua atria dan satu ventrikel. Ventrikel akan memompakan darah ke
dalam sebuah arteri bercabang yang mengarahkan darah melalui dua sirkuit,
sirkuit pulmokutaneus dan sirkuit sistemik. Sirkuit pulmokutaneus mengarahkan
ke jaringan pertukaran gas (dalam paru-paru dan kulit pada katak), dimana darah
akan mengambil oksigen sembari mengalir melalui kapiler.
Darah yang kaya oksigen kembali ke
atrium kiri jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke
dalam sirkuit sistemik. Sirkuit sistemik membawa darah yang kaya oksigen ke
atrium kanan melalui vena. Skema ini, yang disebut sirkulasi ganda menjamin
aliran darah yang kuat ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu
dipompa untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekananya dalam hamparan kapiler
pada paru-paru atau kulit. Keadaan ini sangat berbeda dari sirkulasi tunggal
dalam ikan, di mana darah mengalir secara langsung dari organ respirasi
(insang) ke organ lain dengan tekanan yang semakin berkurang.
Dalam ventrikel tunggal pada
jantung katak, terdapat pencampuran darah kaya oksigen yang telah kembali dari
paru-paru dengan darah yang kurang oksigen yang telah kembali dari bagian tubuh
yang lain. Akan tetapi, suatu abungan (ridge) di dalam ventrikel akan
mengalihkan sebagian besar dari darah yang kaya oksigen itu dari atrium kiri ke
dalam sirkuit sistemik dan sebagian besar darah yang miskin oksigen itu dari
atrium kanan ke dalam sirkuit pulmokutaneus. (Campbell. 2001: 45).
c.
Reptilia
Reptilia
Pada
reptilia, terdapat lebih sedikit lagi percampuran darah yang kaya oksigen
dengan darah yang kurang oksigen. Meskipun jantung reptilia berbiliki tiga,
ventrikel tunggal itu terbagi secara parsial. Reptilia mempunyai sirkulasi
ganda yaitu, sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner, yang mengalirkan darah dari
jantung ke jaringan pertukaran-gas dalam paru-paru dan kembali ke jantung. Pada
satu ordo reptilia, crocodilia, ventrikel secara sempurna terbagi menjadi bilik
kiri dan bilik kanan. (Campbell. 2001: 45).
d. Aves
Jantung berbilik empat pada
burung mempunyai dua atria dan dua ventrikel yang terpisah secara sempurna.
Terdapat sirkulasi ganda (sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner), bagian kiri
jantung hanya menangani darah yang kaya oksigen, sementara bagian kanan jantung
hanya menerima dan memompakan darah yang miskin oksigen. Pengiriman oksigen ke
seluruh bagian tubuh akan semakin
mengikat karena tidak ada
pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen, dan
sirkulasi ganda akan memulihkan tekanan setelah darah baru saja lewat melalui
kapiler paru-paru. Sebagai hewan endotermik, yang menggunakan panas yang
dibebaskan dari metabolisme untuk
menghangatkan
tubuh, burung memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya
dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran tubuh yang sama. (Campbell.
2001: 45-46).
mengikat karena tidak ada
pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen, dan
sirkulasi ganda akan memulihkan tekanan setelah darah baru saja lewat melalui
kapiler paru-paru. Sebagai hewan endotermik, yang menggunakan panas yang
dibebaskan dari metabolisme untuk
menghangatkan
tubuh, burung memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya
dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran tubuh yang sama. (Campbell.
2001: 45-46).
C. Sistem
Peredaran Darah Manusia
Sistem
peredaran darah pada manusia tersusun atas darah, pembuluh darah, dan jantung
sebagai pusat peredaran darah.
1.
Darah
Darah vertebrata merupakan suatu
jenis jaringan ikat yang terdiri atas beberapa jenis sel yang tersuspensi dalam
suatu matriks cairan yang disebut plasma. Tubuh manusia pada umumnya mengandung
kurang lebih 4 sampai 6 L darah. Jika sampel darah diambil, sel-sel darah dapat
dipisahkan dari plasma dengan cara memasukkan darah tersebut ke dalam alat
sentrifugasi dan memutarnya dengan kecepatan tertentu. (antikoagulan harus
ditambahkan untuk mencegah penggumpalan darah). Unsur seluler (sel dan fragmen
sel), yang berkisar sekitar 45% dari volume darah, akan mengendap ke dasar
tabung sentrifuge, dan membentuk pelet padat berwarna merah. Di atas pelet
seluler ini terdapat plasma transparan berwarna kekuning-kuningan. (Campbell.
2007: 53)
a.
Plasma Darah
Plasma darah mengandung sekitar
90% air. Di antara berbagai jenis zat yang larut dalam air terdapat garam-garam
anorganik, yang kadang-kadang disebut sebagai elektrolit darah dan terdapat di
dalam palsma dalam bentuk ion terlarut. Konsentrasi gabungan ion-ion ini
penting dalam pemeliharaan keseimbangan osmotik darah. Beberapa ion tersebut
juga membantu menyangga pH darah, yang mempunyai pH 7,4 pada manusia. Kemampuan
otot dan saraf untuk berfungsi secara normal juga bergantung pada konsentrasi ion-ion kunci dalam cairan
intersisial, yang mencerminkan konsentrasi ion-ion tersebut dalam plasma.
Ginjal mempertahankan elektrolit plasma pada konsentrasi yang tepat, yang merupakan
sebuah contoh homeostasis.
Kelompok zat terlarut penting
yang lain adalah protein plasma, yang mempunyai sejumlah fungsi. Secara
kolektif, protein plasma tersebut bertindak sebagai penyangga (buffer) melawan
perubahan pH, membantu mempertahankan keseimbangan osmotik antara darah dan cairan
intersisial, dan turut mempengaruhi viskositas atau kekentalan darah. Berbagai
jenis protein plasma juga mempunyai fungsi spesifik. Beberapa di antaranya
berfungsi sebagai pengantar untuk lipid yang tidak larut dalam air dan dapat
bergerak dalam darah hanya ketika terikat dengan protein. Kelompok protein
lain, imunoglobulin, adalah antibodi yang membantu memerangi virus dan zat
asing lainnya yang menyerang tubuh. Dan beberapa di antara protein plasma, yang
disebut fibrinogen, merupakan faktor penggumpalan yang membantu menyumbat
kebocoran ketika pembuluh darah mengalami perlukaan. Plasma darah yang telah
dihilangkan faktor penggumpalannya disebut serum.
Plasma juga mengandung berbagai
zat yang berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain,
yang meliputi nutrien, produk buangan metabolisme, gas-gas respirasi, dan
hormon. Plasma darah dan cairan intersisial memiliki komposisi yang serupa,
kecuali bahwa plasma mempunyai kandungan protein yang jauh lebih besar
dibandingkan dengan cairan intersisial (ingat bahwa dinding kapiler sangat
tidak permeabel terhadap protein). (Campbell. 2001: 53).
b. Sel
Darah
Terdapat tiga kelas sel yang
tersebar di seluruh plasma darah: sel darah merah, yang mengangkut oksigen, dan
sel darah putih, yang berfungsi dalam pertahanan tubuh. Unsur seluler yang
ketiga, keping darah adalah bagian-bagian sel yang terlibat dalam penggumpalan
darah.
1) Sel
Darah Merah (eritrosit)
Sel darah merah (red blood cell),
atau eritrosit (erythrocyte), sejauh ini merupakan sel darah yang paling banyak
jumlahnya, jauh melebihi yang lain. Setiap milimeter kubik darah manusia
mengandung 5 sampai 6 juta sel darah merah, dan terdapat sekitar 25 triliun
jenis sel ini dalam keseluruhan 5 L darah dalam tubuh.
Struktur sel darah merah
merupakan contoh lain yang sangat baik tentang struktur yang disesuaikan dengan
fungsinya. Sebuah eritrosit manusia berbentuk cakram bikonkaf, bagian tengahnya
lebih tipis dibandingkan dengan bagian tepi. Eritrosit mamalia tidak mengandung
nukleus (inti), suatu karakteristik yang tidak umum pada sel hidup (kelas
vertebrata lain mempunyai eritrosit yang bernukleus). Lebih jauh lagi, semua
sel darah merah tidak memiliki mitokondria dan menghasilkan ATP-nya secara
ekslusif melalui metabolisme anaerobik. Fungsi utama eritrosit adalah membawa
oksigen, dan akan sangat tidak efisien jika metabolisme eritrosit sendiri
bersifat aerobik dan mengkonsumsi sebagian oksigen yang mereka bawa. Ukuran
eritrosit yang kecil (berdiameter sekitar 12
m) juga sesuai dengan fungsinya. Supaya dapat diangkut, oksigen
harus berdifusi melewati membran plasma sel darah merah. Semakin kecil sel
darah merah semakin besar pula total luas permukaan membran plasma dalam suatu
volume darah. Bentuk bikonkaf eritrosit juga turut menambah luas permukaannya.
Meskipun sel darah merah berukuran sangat
kecil, sel itu mengandung sekitar 250 juta molekul hemoglobin, sejenis protein
pengikat dan pembawa oksigen yang mengandung besi. Baru-baru ini para peneliti
telah menemukan bahwa hemoglobin juga berikatan dengan molekul gas nitrat
oksida (NO) selain dengan O2. Ketika sel darah merah lewat melalui
hamparan kapiler paru-paru insang atau organ respirasi lainnya, oksigen akan
berdifusi ke dalam eritrosit dan hemoglobin akan berikatan dengan O2
dan NO. Hemoglobin akan membongkar muatannya dalam kapiler sirkuit sistemik. Di
sana O2 akan berdifusi ke dalam sel-sel tubuh. NO akan
merelaksasikan dinding kapiler, sehingga dapat mengembang. Hal tersebut mungkin
berperan dalam membantu mengirimkan O2 ke sel. (Campbell. 2001:
54-55).
2)
Sel Darah Putih (Leukosit)

Terdapat lima jenis utama sel
darah putih (white blood cell) atau leukosit: monosit, neutrofil, basofil,
eosinofil, dan limfosit. Fungsinya secara kolektif adalah untuk melawan dan
memerangi infeksi dengan berbagai cara. Sebagai contoh, monosit dan neutrofil
adalah fagosit, yang menelan dan mencerna bakteri dan serpihan sel-sel mati
dari tubuh kita sendiri. Limfosit akan terspesialisasi menjadi sel dan sel T, yang menghasilkan respons
kekebalan melawan zat-zat asing. Sel darah putih menghabiskan sebagian besar
waktunya di luar sistem sirkulasi, berpatroli di dalam cairan intersisial dan
sistem limfatik, di mana sebagian besar pertempuran melawan patogen dilakukan.
Secara normal, satu milimeter kubik darah manusia mempunyai sekitar 5.000
sampai 10.000 leukosit. Jumlah sel ini akan meningkat untuk sementara waktu
ketika tubuh sedang berperang melawan suatu infeksi. (Campbell. 2001: 55).
3)
Keping Darah (Trombosit)
Keping darah (platelet) atau
trombosit adalah fragmen-fragmen sel dengan diameter sekitar 2 sampai 3
m. Keping darah tidak mempunyai nukleus dan bermula sebagai
suatu fragmen sitoplasmik yang memisahkan dari sel besar dalam sumsum tulang.
Keping darah kemudian memasuki darah dan berfungsi dalam proses penting
penggumpalan darah. (Campbell. 2001: 55).
c.
Penggumpalan Darah

Kita
semua pernah mengalami luka dan terpotong atau tergores selama hidup kita, akan
tetapi kita tidak mengalami pendarahan yang menyebabkan kematian karena darah
kita mengandung materi yang dapat menyumbat kebocoran atau luka dalam pembuluh
darah kita. Bahan perekat itu selalu ada dalam darah kita dalam bentuk inaktif
yang disebut fibrinogen. Gumpalan akan terbentuk hanya ketika protein plasma
ini diubah ke dalam bentuk aktifnya, fibrin yang mengumpul menjadi
benang-benang yang membentuk anyaman gumpalan-gumpalan. Mekanisme penggumpalan
itu umumnya dimulai dengan pembebasan faktor penggumpalan dari trombosit dan
melibatkan rantaian reaksi yang kompleks yang pada akhirnya akan mengubah
bentuk fibrinogen menjadi fibrin. Lebih dari selusin faktor penggumpalan telah
ditemukan, namun mekanismenya masih belum dipahami sepenuhnya. Cacat turunan
dalam setiap tahapan proses penggumpalan itu menyebabkan hemofilia, penyakit
yang ditandai dengan pendarahan berlebihan meskipun akibat luka atau goresan
yang sangat kecil.
Faktor anti penggumpalan dalam
darah dalam keadaan normal mencegah penggumpalan secara spontan ketika tidak
ada cedera atau perlukaan. Akan tetapi, kadang-kadang trombosit mengumpul dan
fibrin mengalami koagulasi di dalam pembuluh darah dan menghambat aliran darah.
Gumpalan seperti itu disebut trombus. Gumpalan ini lebih mungkin terbentuk pada
individu yang mengidap penyakit kardiovaskuler yang merupakan penyakit jantung
dan pembuluh darah. (Campbell, 2001: 55-56).
d.
Penggolongan Darah
Golongan darah manusia dibedakan
berdasarkan komposisi aglutinogen dan aglutininnya.
Aglutinogen adalah
antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi
(penggumpalan darah). Aglutinogen disebut zat spesifik golongan karena
digunakan untuk menentukan golongan darah. Ada banyak aglutinogen yang menjadi
dasar pengelompokan golongan darah. Misalnya aglutinogen A dan B menjadi dasar
pengelompokan golongan darah sistem ABO dan aglutinogen Rhesus D menjadi dasar
pengelompokan untuk sistem Rhesus.
Aglutinin adalah substansi yang
menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi. Dr. Karl Landsteiner seorang
ahli imunologi dan patologi berkebangsaan Austria (1868-1943) dan Julius Donath
adalah penemu perbedaan antigen dan antibodi dalam sel darah manusia.
1)
Golongan Darah Sistem ABO
Pada golongan darah sistem ABO,
darah ddigolongkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB dan O untuk tujuan
transfusi darah. Apabila pada sel darah merah seseorang tidak terdapat
aglutinogen A ataupun B, darah digolongkan O. Jika hanya terdapat aglutinogen
A, darah digolongkan A. Jika terdapat aglutinogen B, darah digolongkan B, dan
jika terdapat aglutinogen A dan B, darah digolongkan AB.
Jika dalam sel darah sesorang
tidak terdapat aglutinogen A, maka dalam plasma akan terbentuk antibodi yang
dikenal sebagai aglutinin (anti-A) dan jika dalam sel darah merah tidak terdapat
aglutinogen B, dalam plasma terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin
(anti B). Berarti, golongan darah AB memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B
serta tidak memiliki aglutinin sama sekali. Lihat tabel.
Genotipe
|
Golongan
|
Aglutinogen
|
Aglutinin
|
|
00
|
0
|
-
|
Anti-A
dan anti-B
|
|
0A atau
AA
|
A
|
A
|
Anti-B
|
|
0B atau
BB
|
B
|
B
|
Anti-A
|
|
AB
|
AB
|
A dan B
|
-
|
|

Sebelum transfusi darah, terlebih
dahulu dilakukan penentuan golongan darah antara resipien dan donornya,
sehingga darah dapat dicari kesesuaiannya. Pengujian darah dilakukan sebagai
berikut ini. Jika darah seseorang yang di uji dicampur dengan serum aglutinin A
menggumpal, maka kemungkinan golongan darah orang tersebut adalah A atau AB.
Jika darah tidak menggumpal, kemungkinan golongan darah B atau O. Apabila diuji
dengan serum aglutinin B menggumpal, kemungkinan adalah golongan darah B atau
AB. Akan tetapi, bila tidak menggumpal, maka kemungkinan golongan darah A atau
O.
2)
Golongan Darah Sistem Rhesus

Golongan
darah sistem Rhesus di dasarkan atas ada tidaknya aglutinogen Rhesus (Rh) yang
disebut juga faktor Rhesus. Pada tahun 1940, Landsteiner menemukan bahwa
golongan darah A dapat diberikan pada kera jenis Macaca mulata, tetapi 15% lainnya tidak dapat diberikan karena
terjadi aglutinasi. Dari penelitian ini, golongan darah A dibagi lagi menjadi
golongan darah A (Rh+) atau A-, yaitu yang dapat
diberikan kepada Macaca mulata dan
golongan darah A (Rh-) atau A+ yang tidak dapat
diberikan. Golongan darah yang lain pun dibedakan menjadi Rh+ dan Rh-.
Seseorang yang memiliki faktor Rh
di dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh+, sedangkan orang
yang tidak memiliki faktor Rh dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh-.
Faktor Rh tidak begitu berpengaruh dalam transfusi darah, tetapi pada kasus
tertentu dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Mekanismenya dapat
dilihat pada gambar.
Jika seorang ibu Rh- kawin
dengan lelaki Rh+, maka anak dalam kandungannya mungkin Rh+.
Saat dalam kandungan , sel darah merah Rh+ anaknya dapat keluar
menembus plasenta ke sistem sirkulasi ibunya, yaitu saat plasenta rusak sebelum
atau sesudah bayi dilahirkan. Hal itu menyebabkan si ibu memproduksi antibodi
anti-Rh. Jika ibu hamil lagi dan anaknya memiliki faktor Rh+, maka
antibodi anti-Rh ibu akan masuk lewat plasenta dan merusak sel darah merah
anak. Akibatnya terjadi kerusakan sel darah merah pada anak kedua yang dapat
menyebabkan kematian. Keadaan seperti ini disebut penyakit eritroblastosis fetalis.
Philip Levine seorang ahli
serologi Amerika mengemukakan bahwa penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis) disebabkan oleh
sel-sel darah bayi yang mati oleh aglutinin yang berasal dari ibunya.
Pertolongan yang dapat diberikan ialah mengganti darah bayi seluruhnya.
(Pratiwi. 2007:85-86).
KEGIATAN
PRAKTIUKUM
A. TUJUAN
1.
Menentukan golongan darah pada manusia
2.
Menghitung
denyut nadi pada manusia
3.
Mengetahui
cara menghitung tekanan darah pada manusia
B. DASAR
TEORI
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah
medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato-
yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Darah beredar ke seluruh tubuh dengan membawa oksigen
dan zat makanan. Setelah terjadi pertukaran gas dan sisa metabolism di
sel/jaringan, darah akan membawa karbondioksida menuju ke paru-paru untuk
ditukarkan dengan oksigen kembali. Proses ini akan membawa darah masuk ke
jantung, tekanan darah ketika masuk dan keluar jantung kita kenali sebagai
detak jantung.
Berdasarkan kandungan jenis karbohidrat dan protein
yang ada pada sel darah merah, kita mengenal istilah penggolongan darah. Ada
beberapa macam penggolongan darah pada manusia, salah satu diantaranya ialah
menurut sistem ABO. Menurut sistem ini, darah manusia dibagi dalam 4 golongan
yaitu golongan darah A, B, AB dan O.
Ø Golongan darah
A : apabila dalam butir darahnya
mempunyai aglutinogen A, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin b
Ø Golongan darah
B : apabila dalam butir darahnya
mempunyai aglutinogen B, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a
Ø Golongan darah AB : apabila
dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen A dan B, sedangkan dalam plasma
darahnya tidak mengandung aglutinin.
Ø Golongan darah A : apabila dalam butir darahnya tidak
mempunyai aglutinogen , sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a
dan b.
Bila antigen A bercampur dengan aglutinin a atau
aglutinogen B bercampur dengan aglutinin b maka akan terjadi
aglutinasi/penggumpalan. Dalam transfusi darah yang diperhatikan bagi si donor
adalah aglutinogennya.
C. ALAT
DAN BAHAN
1. Alat
Ø Mikroskop
Ø kaca objek
Ø Jarum outoclick
2. Bahan
Ø Serum a dan b
Ø Alkohol 96%
D. METODE
KERJA
1. Golongan darah
Ø Sediakan sebuah kaca objek yang bersih
Ø Bersihkan jari anda dengan alkohol kemudian dengan
menggunakan autoclick ambil darah pada ujung jari sebanyak 1 tetes pada kedua
ujung kaca objek
Ø Tambahkan pada masing-masing darah tersebut serum a
dan b
Ø Aduklah masing-masing campuran serum dan darah anda
tadi dengan menggunakan tusuk gigi
Ø Perhatikan apa yang terjadi pada keduanya, bila perlu
amati dengan menggunakan loupe
Bila
campuran darah pada serum a menggumpal, maka anda bergolongan darah A
Bila
campuran darah pada serum b menggumpal, maka anda bergolongan darah B
Bila kedua
campuran darah menggumpal, maka anda bergolongan darah AB
Bila kedua
campuran darah tidak menggumpal, maka anda bergolongan darah O
2. Tekanan darah
Ø Dengan menggunakan spigmomanometer, ukurlah tekanan
darah anda.
Ø Catat hasilnya dalam tabel bandingkan hasilnya dengan
teman sekelompokmu.
3. Denyut nadi
Ø Hitunglah berapa denyut nadimu selama 1 menit dalam
keadaan istirahat/ aktivitas rendah.
Ø Lari-lari di tempat selama 1 menit, kemudian hitung
kembali denyut nadimu.
Ø Catat hasilnya dalam tabel, kemudian bandingkan
hasilnya dengan teman sekelompokmu.
E. HASIL
PENGAMATAN
Tabel
Pengamatan
1. Golongan Darah
No
|
Nama
|
Anti A
|
Anti B
|
Golongan
Darah
|
- Denyut Nadi
No
|
Nama
|
Frekuensi
Denyut Nadi
|
|
Diam
|
Aktivitas
|
||
- Tekanan Darah
No
|
Nama
|
Sistole
|
Diastole
|
- Tinggi Badan – Berat Badan
No
|
Nama
|
Tinggi
Badan
|
Berat
Badan
|
2. Alat-alat
Peredaran Darah
Alat-alat peredaran pada manusia
terdiri dari jantung dan pembuluh-pembuluh darah.
a.
Jantung

Jantung manusia yang berada
persis di bawah tulang dada (sternum) misalnya, berukuran sekitar satu kepalan
tangan. Jantung terutama tersusun dari jaringan otot jantung. Kedua atria
mempunyai dinding yang relatif tipis dan berfungsi sebagai ruangan penampungan
bagi darah yang kembali ke jantung dan hanya memompa darah dalam jarak yang
sangat dekat menuju ventrikel. Ventrikel mempunyai dinding yang lebih tebal dan
jauh lebih kuat dibandingkan dengan atrium khususnya ventrikel kiri, yang harus
memompakan darah keluar ke seluruh organ tubuh melalui sirkuit sistemik.
Empat katup dalam jantung, yang
masing-masing terdiri atas kelepak-kelepak (flaps) jaringan ikat, berfungsi
untuk mencegah aliran balik darah. Antara setiap atrium dan ventrikel terdapat
katup atrioventrikel (artioventricular valva, AV). Katup AV ditambatkan oleh
serabut kuat yang mencegah terjadinya perputaran balik aliran darah dari dalam
keluar. Tekanan yang dibangkitkan oleh kontraksi ventrikel yang sangat kuat akan
menutup katup AV, sehingga menjaga darah tidak mengalir kembali ke dalam
atrium. Katup semilunar (semilunar valve) terletak di kedua pintu keluar
jantung, tempat aorta meninggalkan ventrikel kiri dan artei pulmoner meninggalkan
ventrikel kanan. Darah dipompakan keluar dan masuk ke dalam arteri melalui
katup semilunar, yang dipaksa membuka oleh tekanan yang diciptakan oleh
kontraksi ventrikel. Ketika ventrikel berelaksasi, darah mulai mengalir kembali
menuju jantung, menutup katup semilunar, yang mencegah darah mengalir kembali
ke dalam ventrikel. Dinding arteri yang elastis akan mengembang ketika menerima
darah yang dikeluarkan dari ventrikel. (Campbell. 2001: 46-47).
b.
Pembuluh-Pembuluh Darah
Pada abad ke-17, penyelidikan
tentang peredaran darah telah dilakukan oleh para ahli. Penelitian tersebut
menemukan bahwa darah di dalam tubuh mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah.
1)
Pembulu Nadi (Arteri)
Pada saat jantung berkontraksi
(sistol), darah akan keluar dari bilik menuju pembuluh nadi (arteri). Pembuluh
nadi adalah pembuluh yang membawa darah dari jantung dan umumnya mengandung
banyak oksigen. Pembuluh ini tebal, elastis, dan memiliki sebuah katup (valvula
semilunaris) yang berada tepat di luar jantung. Letak pembuluh nadi biasanya di
dalam tubuh, hanya beberapa yang terletak di dekat permukaan sehingga dapat
dirasakan denyutnya.
Secara anatomi, pembuluh nadi
tersusun atas tiga lapisan jaringan. Lapisan luar berupa jaringan ikat yang
kuat dan elastis. Lapisan tengah berupa otot polos yang berkontraksi secara tak
sadar. Otot polos akan merenggang pada saat darah melewatinya sehingga lapisan
ini tidak melipat. Lapisan dalam berupa jaringan endotelium yang melindungi
jaringan di dalamnya. Pembuluh nadi yang dilewati darah adalah sebagai berikut.
(Pratiwi. 2007: 88).
a)
Pembuluh nadi besar (aorta)
Aorta adalah pembuluh yang
dilewati darah dari bilik kiri jantung menuju ke seluruh tubuh. Aorta becabang-cabang,
makin lama makin kecil, dan disebut pembuluh nadi (arteri). Arteri
becabang-cabang lagi makin kecil, disebut arteriola. Arteriola becabang halus
diseluruh tubuh dan disebut kapiler.
Kapiler sangat halus dan tersusun
oleh satu lapis jaringan endotelium. Kapiler dapat masuk sampai ke sel-sel
tubuh. Disinilah terjadi pertukaran gas, air, dan garam mineral ataupun larutan
bahan organik dari kapiler darah dengan sel-sel darah tubuh. Kapiler-kapiler
akan saling bertautan dinamakan venula. Darah yang telah beredar dari seluruh
tubuh melewati venula dan menuju vena yang lebih besar, kemudian akhirnya
menuju vena kava (pembuluh balik tubuh) dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990:
190).
b) Pembuluh
Nadi Paru-Paru (Arteri Pulmonalis)
Pembuluh nadi paru-paru adalah
pembuluh yang dilewati darah dari bilik kanan menuju paru-paru (pulmo).
Pembuluh ini banyak mengandung karbon dioksida yang akan dilepaskan ke
paru-paru. Di dalam paru-paru, yaitu di alveolus, darah melepas karbon dioksida
dan mengikat oksigen. Dari kapiler di paru-paru, darah akan menuju ke venula,
kemudian ke vena pulmonalis dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990: 192-193).
2)
Pembuluh Balik (Vena)
Pembuluh balik adalah pembuluh
yang membawa darah kembali ke jantung, yang umumnya mengandung karbon dioksida.
Pembuluh balik (vena) lebih mudah dikenali daripada nadi karena letaknya di
daerah permukaan. Seperti halnya nadi, pembuluh balik juga disusun oleh tiga
lapisan, tetapi dinding pembuluh ini lebih tipis dan tidak elastis. Tekanan
pembuluh balik lemah lemah dibandingkan dengan tekanan pembuluh nadi dan di
sepanjang pembuluh balik terdapat katup yang menjaga agar darah tak kembali.
Saat jantung berelaksasi
(diastol), darah dari tubuh dan paru-paru akan masuk ke jantung melalui vena.
Pembuluh balik ini merupakan tempat masuknya darah ke jantung. Vena diselubungi
oleh otot rangka dan memiliki sebuah katup, yaitu valvula semilunaris.
Pembuluh balik yang masuk ke
jantung adalah sebagai berikut:
a)
Vena Kava
Vena kava bercabang-cabang
menjadi pembuluh yang lebih kecil, yaitu vena. Vena bercabang-cabang lagi
menjadi kapiler vena yang disebut venula. Venula berada di dalam sel-sel tubuh
dan berhubungan dengan kapiler arteri. Ada dua macam vena kava, yaitu vena kaca
superior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari bagian
atas tubuh (kepala, leher dan anggota badan atas) ke serambi kanan jantung dan
vena kava inferior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari
bagian tubuh lainnya dan anggota badan bawah tubuh ke serambi kanan jantung.
(Wldan. 1990: 195-196).
b)
Vena Pulmonalis
Vena ini mebawa darah yang
mengandung O2 dari paru-paru ke serambi kiri jantung.
3.
Mekanisme Peredaran Darah Manusia

Ada dua macam peredaran darah
dalam tubuh manusia. Peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru
melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena
pulmonalis disebut peredaran darah kecil. Sedangkan peredaran darah dari bilik
kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi
kanan jantung melalui vena kava disebut peredaran darah besar. Oleh karena pada
manusia terdapat kedua macam peredaran
darah tersebut, maka manusia dikatakan memiliki peredaran darah ganda. (Pratiwi. 2007: 88-89).
D. Kelainan
Pada Sistem Peredaran Darah
Kelainan dan gangguan pada sistem
peredaran darah dapat ditimbulkan karena pewarisan sifat (keturunan), rusaknya
alat peredaran darah akibat kecelakaan, atau akibat makanan yang dikonsumsi
banyak mengandung lemak dan zat kapur. Zat makanan tersebut dapat menyebabkan
penyumbatan pembuluh darah atau berkurangnya elastisitas otot jantung dalam
mekanisme pompa dan isap.
Kelainan atau gangguan pada
sistem peredaran darah antara lain:
a.
Anemia (kurang darah), dikarenakan
kurangnya kadar Hb atau kurangnya jumlah eritrosit dalam darah.
b.
Varises adalah pelebaran pembuluh darah
di betis.
c.
Hemoroid (ambeien), adalah pelebaran
pembuluh darah di sekitar dubur (anus).
d.
Arteriosklerosis, adalah pengerasan pembuluh nadi
karena timbunan atau endapan kapur.
e.
Artherosklerosis, ialah pengerasan pembuluh nadi
karena endapan lemak.
f.
Embolus, ialah tersumbatnya pembuluh
darah karena benda yang bergerak.
g.
Trombus, ialah tersumbatnya pembuluh
darah karena benda yang tidak bergerak.
h.
Hemofilia, ialah kelainan darah sukar
membeku karena faktor hereditas atau keturunan.
i.
Leukemia (kanker darah), ialah
bertambahnya leukosit secara tak terkendali.
j.
Penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis
fetalis), adalah rusaknya eritrosit bayi atau janin akibat aglutinasi dari
antibodi ibu, apabila ibu bergolongan darah Rh- dan embrio Rh+.
Penyakit ini terjadi pada kandungan kedua, jika kandungan pertama embrio juga
bergolongan darah Rh+.
k.
Penyakit jantung koroner (PJK), yaitu penyempitan
arteikoronaria yang mengangkut O2 ke jantung.
l.
Talasemia, merupakan anemia akibat
rusaknya gen pembentuk hemoglobin yang bersifat menurun.
Rangkuman
Sistem peredaran darah mengangkut cairan keseluruh
tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel
tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutien, dan membuang
zat-zat sisa.
Sistem peredaran darah pada hewan terbagi menjadi
sistem peredaran darah terbuka yaitu sistem peredaran darah ke seluruh tubuh
yang tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah
tertutup adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati
pembuluh-pembuluh darah. Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata dan
sistem peredaran pada hewan vertebrata.
Sistem peredaran manusia terdiri dari plasma darah
dan sel-sel darah. Alat peredaran darahnya berupa jantung sebagai pusat peredaran
darah dan pembuluh-pembuluh darah. Mekanisme sistem peredaran darah manusia
terdiri dari dua macam yaitu, sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran
darah besar. Sistem peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik
kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke
serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar
adalah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta
dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
Mekanisme pembekuan darah yaitu kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh.
Trombosit ikut keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan
kasar dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim)
yang disebut trombokinase. Trombokinase akan masuk ke dalam
plasma darah dan akan mengubah protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin.
Perubahan tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah.
Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung
globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati.
Pembentukannya dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen
menjadi benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin
menyebabkan luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi.
Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan,
apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan
terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat
fatal dalam tubuh kita.
Penggolongan darah terbagi menjadi dua yaitu,
penggolongan darah sistem ABO dan penggolongan darah sistem rhesus. Kelainan
atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises,
hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus,
trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.
Soal Latihan
A. Pilihlah
satu jawaban yang tepat!
1.
Peredaran darah cacing tanah merupakan sistem
peredaran darah ...
a.
Ganda b.
Tunggal c. Tertutup d. Terbuka e. Primer
2.
Peredaran darah pada belalang adalah sistem peredaran
darah yang ....
a.
Tertutup c.
Tunggal e. Terbuka
b. Ganda d. primer
3.
Jantung katak terdiri dari ...
a.
1 serambi,
dan 2 bilik d. 2 serambi,
dan 1 bilik
b.
2 serambi,
dan 2 bilik e. 1 serambi,
dan 1 bilik
c.
3 serambi,
dan 1 bilik
4.
Sistem peredaran darah manusia terdiri dari komponen
berikut kecuali:
a.
Darah
b.
Jantung
c.
Vena
d.
Arteri
e.
Ginjal
5.
Fungsi hemoglobin adalah…
a.
Membawa CO2 ke jaringan
b.
Membawa CO2 dari jaringan
c.
Membantu dalam proses pembekuan darah
d.
Mengikat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh
e.
Membawa glukosa ke seluruh tubuh
6.
Darah tersusun dari sel-sel darah dan…
a.
Plasma darah
b.
Eritrosit
c.
Leukosit
d.
Trombosit
e.
Fibrinogen
7.
Sel darah sebagai pertahanan tubuh dari sel-sel asing
yang menyebabkan penyakit adalah fungsi dari…
a.
Eritrosit
b.
Trombosit
c.
Leukosit
d.
Trombokinase
e.
Agranuler
8.
Golongan darah A memiliki aglutinogen…
a.
A
b.
B
c.
AB
d.
O
e.
Rh+
9. Enzim yang
berperan dalam pengubahan protrombin menjadi trombin adalah…
a. Polimerase
b. Histamin
c. Heparin
d. Trombokinase
e. Vitamin K
10. Zat yang
menentukan golongan darah manusia adalah . . . .
a. aglutinin
dan eritrosit
b. aglutinin
dan leukosit
c. aglutinin
dan aglutinogen
d. aglutinogen
dan eritrosit
e. aglutinogen
dan leukosit
B. Jawablah
pertanyaan berikut!
1.
Apa
yang dimaksud dengan sistem peredaran darah terbuka dengan sistem peredaran
darah tertutup?
2.
Secara
teori, bila seseorang bergolongan darah AB memerlukan transfusi darah, orang
bergolongan darah apa saja yang dapat menyumbangkan darahnya untuk orang
tersebut? Jelaskan!
3.
Jelaskan
sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran darah besar?
4.
Bagaimana
mekanisme pembekuan darah?
5.
Sebutkan
kelainan-kelainan yang terjadi pada sistem peredaran darah?
KUNCI JAWABAN
A. Pilihan
Ganda
1.
C
2.
E
3.
D
4.
E
5.
E
6.
D
7.
C
8.
A
9.
D
10.
C
B. Essay
1.
Sistem
peredaran darah terbuka adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang
tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah tertutup
adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati pembuluh darah.
2.
Seluruh
golongan darah yang menyumbang orang yang bergolongan darah AB, karena golongan
darah AB memiliki aglutinogen A dan B,
sedangkan tidak mempunyai aglutinin anti-A dan anti-B.
3.
Sistem
peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju
paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung
melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar adalah peredaran
darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya
kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
4.
Mekanisme
pembekuan darah yaitu kulit
terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar juga
bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan menyebabkan
trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase.
Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah protrombin
menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut dipengaruhi
ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah
senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini
merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati. Pembentukannya
dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi
benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka
akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah
sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini
beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya
akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh
kita.
5.
Kelainan
atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises,
hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus,
trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil. A. 2001. “Biologi edisi ke-5 jilid
ke-2”. Erlangga : Jakarta
Pratiwi,
dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI.
Erlangga: Jakarta.
Yatim,
Wildan. 1990. Histologi. Tarsito:
Bandung.
BIOGRAFI PENULIS
Penulis memiliki nama lengkap
Helmi Apriliyatmi Hapwiyah, lahir pada tanggal 21 April 1993 di Indramayu.
Pendidikan dasar di SD Negeri Eretan Wetan 1, pada tahun 1999 sampai dengan
tahun 2005. Kemudian, melanjutkan
pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Kandanghaur dari tahun 2005
sampai dengan selesai pada tahun 2008. Seusai menjalani pendidikan sekolah
menengah, penulis kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1
Kandanghaur dari tahun 2008 sampai 2011.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar