Kamis, 02 Oktober 2014

buku SISTEM PEREDARAN DARAH






A.  Gambaran Umum Sistem Peredaran Darah
Dalam dihidupnya, organisme memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna, juga menghasilkan sampah (zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh seperti makanan dan oksigen serta hasil metabolisme dan sisa-sisanya, diangkut dan diedarkan di dalam tubuh melalui sistem peredaran darah.
Hasil pencernaan makanan dan oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah ke seluruh jaringan tubuh. Sebaliknya, sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan tubuh menuju organ-organ pembuangan. (Pratiwi. 2007: 80)
Sistem peredaran darah mengangkut cairan keseluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutien, dan membuang zat-zat sisa. Sistem peredaran darah membawa darah yang kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Ketika darah mengalir melalui jaringan di dalam pembuluh mikroskopis yang disebut kapiler, zat-zat kimia akan diangkut antara darah dan cairan intersisial yang secara langsung menggenangu sel-sel itu. (Campbell. 2001: 42)

B.   Sistem Peredaran Darah Hewan
Pada hewan metazoa (bersel banyak) tingkat tinggi, seperti juga pada manusia, peredaran darahnya melalui pembulu. Sistem transportasi hewan metazoa disusun oleh organ-organ berupa jantung, pembuluh darah, dan darah.
1.    Mekanisme Peredaran Darah Pada Hewan
Pada hewan tingkat tinggi terdapat dua tipe sistem peredaran darah, yaitu sistem peredaran darah terbuka dan sistem peredaran darah tertutup. Berikut ini akan dibahas kedua sistem peredaran darah tersebut.
a.    Sistem Peredaran Darah Terbuka
Sistem peredaran darah terbuka adalah peredaran darah atau distribusi darah ke seluruh tubuh (jaringan) yang tidak selalu melewati pembuluh darah. Kadang darah secara langsung menuju jaringan tubuh tanpa melalui pembuluh, tidak ada perbedaan antara darah dan cairan intersisial, dan cairan tubuh umum sebenarnya jauh lebih tepat disebut hemolimfa. Satu atau lebih jantung memompakan hemolimfa ke dalam sistem sinus yang saling berhubungan, yang merupakan ruangan yang mengelilinai organ tersebut.
Disini, pertukaran kimiawi terjadi antara hemolimfa dan sel-sel tubuh. Pada belalang dan artropda lain, jantung tersebut merupakan tabung panjang yang berlokasi di bagian dorsal. Ketika jantung berkontarsi, jantung tersebut akan memompa hemolimfa keluar melalui pembuluh dan kemudian masuk ke dalam sinus. Ketika janting mengalami relaksasi, jantung akan menyedot hemolimfa masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui pori-pori yang disebut ostia. Pergerakan tubuh yang menekan dan memeras sinus membantu mensirkulasikan hemolimfa. (Campbell. 2001: 43)
b.    Sistem Peredaran Darah tertutup
Dalam sistem peredaran darah tertutup, darah hanya terdapat secara terbatas dalam pembuluh dan terpisahkan dari cairan intersisial. Satu atau lebih jantung memompa darah ke dalam pembuluh-pembuluh besar yang bercabang menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih kecil yang mengalir melalui organ-organ. Di sini, mater-materi di pertukarkan antara darah dan cairan intersisial yang menggenangi sel tersebut. (Campbell. 2001: 43).

2.    Sistem Peredaran Darah Avertebrata
Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata masih belum lengkap seperti pada sistem peredaran hewan vertebrata. Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata tidak dijumpai suatu pusat koordinasi peredaran.
a.    Serangga
Text Box: Gambar 1. Sistem peredaran belalang.
(livebiologi.blogspot.com)
Description: http://koesmilanisty.mywapblog.com/files/serangga.jpgPada belalang, jantung tubular dorsal memompa maju hemolimfa melalui pembuluh anterior dan menuju ke bagian samping hewan itu melalui beberapa pembuluh lateral yang berurutan. Hemolimfanya diperas ke arah samping melalui sinus oleh gerakan tubuh, dan masuk kembali ke jantung melalui ostia, yang dilengkapi dengan katup yang akan menutup ketika jantung berkontraksi. (Campbell. 2001: 43).
b.    Cacing Tanah
Text Box: Gambar 2. Sistem Peredaran Cacing Tanah ( www.adesurya.com)

Description: http://budisma.web.id/wp-content/uploads/2011/09/Gambar-5.18-Sistem-peredaran-darah-cacing.jpgPada seekor cacing tanah, tiga pembuluh utama, satu dorsal dan dua ventral, bercabang ke dalam pembuluh-pembuluh yang lebih kecil yang mengalirkan darah ke berbagai organ. Pembuluh dorsal berfungsi sebagai jantung utama, yang memompa darah maju ke depan oleh gerak peristaltik. Dekat dengan ujung anterior cacing tersebut, lima pasang pembuluh melengkung mengitari saluran pencernaan, sehingga menghubungkan pembuluh dorsal dan pembuluh ventral. Pembuluh berpasangan itu berfungsi sebagai jantung tambahan, yang mendorong darah ke arah ventral. Darah mengalir ke arah samping di dalam pembuluh ventral. (Campbell. 2001: 43).

3.    Sistem Peredaran Darah Vertebrata
Sistem peredaran darah vertebrata terdiri dari jantung, arteri, vena, kapiler, dan darah. Jantung adalah pusat peredaran. Jantung yang tersusun oleh otot yang kuat memiliki kontraksi yang ritmik (teratur), biasa kita sebut detak atau denyut. Dengan kekuatan kontraksinya, jantung mampu mendorong darah meninggalkan jantung.
a.    Pisces
Text Box: Gambar 3. Sistem peredaran darah pisces
(www.sibarasok.com)
Description: http://budisma.web.id/wp-content/uploads/2012/10/ikan.jpgSeekor ikan mempunyai sebuah jantung dengan dua ruangan (bilik) utama, yaitu satu atrium dan satu ventrikel. Darah yang dipompakan dari ventrikel mengalir pertama-tama ke insang, tempat terjadinya pengambilan oksigen oleh darah dan pembebasan karbon dioksida melewati dinding kapiler. Kapiler insang mengumpul ke dalam suatu pembuluh yang membawa darah yang kaya akan oksigen ke hamparan kapiler di semua bagian tubuh lainnya.
Darah itu kemudian kembali melalui vena ke atrium jantung. Perhatikan bahwa pada seekor ikan, darah harus mengalir melalui dua hamparan kapiler selama masing-masing sirkuit (perputaran), satu dalam insang dan yang kedua, yang disebut kapiler sistemik, dalam organ selain insang. Ketika darah mengalir melalui hamparan kepiler, tekanan darah, tekanan hidrostatik yang mendorong darah mengalir melalui pembuluh. Dengan demikian, darah yang kaya oksigen dari insang mengalir ke organ-organ lain dengan sangat lambat pada ikan, tetapi proses tersebut dibantu oleh pergerakan tubuh selama berenang. (Campbell. 2001: 44).
b.    Amphibia
Amphibi memiliki jantung berbilik tiga, dengan dua atria dan satu ventrikel. Ventrikel akan memompakan darah ke dalam sebuah arteri bercabang yang mengarahkan darah melalui dua sirkuit, sirkuit pulmokutaneus dan sirkuit sistemik. Sirkuit pulmokutaneus mengarahkan ke jaringan pertukaran gas (dalam paru-paru dan kulit pada katak), dimana darah akan mengambil oksigen sembari mengalir melalui kapiler.
Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit sistemik. Sirkuit sistemik membawa darah yang kaya oksigen ke atrium kanan melalui vena. Skema ini, yang disebut sirkulasi ganda menjamin aliran darah yang kuat ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu dipompa untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekananya dalam hamparan kapiler pada paru-paru atau kulit. Keadaan ini sangat berbeda dari sirkulasi tunggal dalam ikan, di mana darah mengalir secara langsung dari organ respirasi (insang) ke organ lain dengan tekanan yang semakin berkurang.
Dalam ventrikel tunggal pada jantung katak, terdapat pencampuran darah kaya oksigen yang telah kembali dari paru-paru dengan darah yang kurang oksigen yang telah kembali dari bagian tubuh yang lain. Akan tetapi, suatu abungan (ridge) di dalam ventrikel akan mengalihkan sebagian besar dari darah yang kaya oksigen itu dari atrium kiri ke dalam sirkuit sistemik dan sebagian besar darah yang miskin oksigen itu dari atrium kanan ke dalam sirkuit pulmokutaneus. (Campbell. 2001: 45).
c.    Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEii7vvpAbUEqywrukP4u9NDSRDLzG55cjUUXE73HrgwM6cx-NYSCrJ_OfSkjDRrPfFHMApDOm4JO2NYnjtbdfqIU8D87bQh-vLNX1QBgQYXRUo2Tnt3pHET6I3WqXHw66WfA4X8LbQsL_ZF/s1600/3.jpgReptilia
Text Box: Gambar 5. Sistem Peredaran darah reptilia (dc126.4shared.com)Pada reptilia, terdapat lebih sedikit lagi percampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen. Meskipun jantung reptilia berbiliki tiga, ventrikel tunggal itu terbagi secara parsial. Reptilia mempunyai sirkulasi ganda yaitu, sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner, yang mengalirkan darah dari jantung ke jaringan pertukaran-gas dalam paru-paru dan kembali ke jantung. Pada satu ordo reptilia, crocodilia, ventrikel secara sempurna terbagi menjadi bilik kiri dan bilik kanan. (Campbell. 2001: 45).
d.    Aves
Jantung berbilik empat pada burung mempunyai dua atria dan dua ventrikel yang terpisah secara sempurna. Terdapat sirkulasi ganda (sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner), bagian kiri jantung hanya menangani darah yang kaya oksigen, sementara bagian kanan jantung hanya menerima dan memompakan darah yang miskin oksigen. Pengiriman oksigen ke seluruh bagian tubuh akan semakin Description: aves.jpgmengikat karena tidak ada pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen, dan sirkulasi ganda akan memulihkan tekanan setelah darah baru saja lewat melalui kapiler paru-paru. Sebagai hewan endotermik, yang menggunakan panas yang dibebaskan dari metabolisme untuk Text Box: Gambar 6. Sistem Peredaran Darah Aves (iyusabdusyakir.wordpress.com)menghangatkan tubuh, burung memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran tubuh yang sama. (Campbell. 2001: 45-46).

C.  Sistem Peredaran Darah Manusia
Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas darah, pembuluh darah, dan jantung sebagai pusat peredaran darah.
1.    Darah
Darah vertebrata merupakan suatu jenis jaringan ikat yang terdiri atas beberapa jenis sel yang tersuspensi dalam suatu matriks cairan yang disebut plasma. Tubuh manusia pada umumnya mengandung kurang lebih 4 sampai 6 L darah. Jika sampel darah diambil, sel-sel darah dapat dipisahkan dari plasma dengan cara memasukkan darah tersebut ke dalam alat sentrifugasi dan memutarnya dengan kecepatan tertentu. (antikoagulan harus ditambahkan untuk mencegah penggumpalan darah). Unsur seluler (sel dan fragmen sel), yang berkisar sekitar 45% dari volume darah, akan mengendap ke dasar tabung sentrifuge, dan membentuk pelet padat berwarna merah. Di atas pelet seluler ini terdapat plasma transparan berwarna kekuning-kuningan. (Campbell. 2007: 53) 
a.    Plasma Darah
Plasma darah mengandung sekitar 90% air. Di antara berbagai jenis zat yang larut dalam air terdapat garam-garam anorganik, yang kadang-kadang disebut sebagai elektrolit darah dan terdapat di dalam palsma dalam bentuk ion terlarut. Konsentrasi gabungan ion-ion ini penting dalam pemeliharaan keseimbangan osmotik darah. Beberapa ion tersebut juga membantu menyangga pH darah, yang mempunyai pH 7,4 pada manusia. Kemampuan otot dan saraf untuk berfungsi secara normal juga bergantung  pada konsentrasi ion-ion kunci dalam cairan intersisial, yang mencerminkan konsentrasi ion-ion tersebut dalam plasma. Ginjal mempertahankan elektrolit plasma pada konsentrasi yang tepat, yang merupakan sebuah contoh homeostasis.
Kelompok zat terlarut penting yang lain adalah protein plasma, yang mempunyai sejumlah fungsi. Secara kolektif, protein plasma tersebut bertindak sebagai penyangga (buffer) melawan perubahan pH, membantu mempertahankan keseimbangan osmotik antara darah dan cairan intersisial, dan turut mempengaruhi viskositas atau kekentalan darah. Berbagai jenis protein plasma juga mempunyai fungsi spesifik. Beberapa di antaranya berfungsi sebagai pengantar untuk lipid yang tidak larut dalam air dan dapat bergerak dalam darah hanya ketika terikat dengan protein. Kelompok protein lain, imunoglobulin, adalah antibodi yang membantu memerangi virus dan zat asing lainnya yang menyerang tubuh. Dan beberapa di antara protein plasma, yang disebut fibrinogen, merupakan faktor penggumpalan yang membantu menyumbat kebocoran ketika pembuluh darah mengalami perlukaan. Plasma darah yang telah dihilangkan faktor penggumpalannya disebut serum.
Plasma juga mengandung berbagai zat yang berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain, yang meliputi nutrien, produk buangan metabolisme, gas-gas respirasi, dan hormon. Plasma darah dan cairan intersisial memiliki komposisi yang serupa, kecuali bahwa plasma mempunyai kandungan protein yang jauh lebih besar dibandingkan dengan cairan intersisial (ingat bahwa dinding kapiler sangat tidak permeabel terhadap protein). (Campbell. 2001: 53).
b.    Sel Darah
Terdapat tiga kelas sel yang tersebar di seluruh plasma darah: sel darah merah, yang mengangkut oksigen, dan sel darah putih, yang berfungsi dalam pertahanan tubuh. Unsur seluler yang ketiga, keping darah adalah bagian-bagian sel yang terlibat dalam penggumpalan darah.
1)   Sel Darah Merah (eritrosit)
Sel darah merah (red blood cell), atau eritrosit (erythrocyte), sejauh ini merupakan sel darah yang paling banyak jumlahnya, jauh melebihi yang lain. Setiap milimeter kubik darah manusia mengandung 5 sampai 6 juta sel darah merah, dan terdapat sekitar 25 triliun jenis sel ini dalam keseluruhan 5 L darah dalam tubuh.
Struktur sel darah merah merupakan contoh lain yang sangat baik tentang struktur yang disesuaikan dengan fungsinya. Sebuah eritrosit manusia berbentuk cakram bikonkaf, bagian tengahnya lebih tipis dibandingkan dengan bagian tepi. Eritrosit mamalia tidak mengandung nukleus (inti), suatu karakteristik yang tidak umum pada sel hidup (kelas vertebrata lain mempunyai eritrosit yang bernukleus). Lebih jauh lagi, semua sel darah merah tidak memiliki mitokondria dan menghasilkan ATP-nya secara ekslusif melalui metabolisme anaerobik. Fungsi utama eritrosit adalah membawa oksigen, dan akan sangat tidak efisien jika metabolisme eritrosit sendiri bersifat aerobik dan mengkonsumsi sebagian oksigen yang mereka bawa. Ukuran eritrosit yang kecil (berdiameter sekitar 12 m) juga sesuai dengan fungsinya. Supaya dapat diangkut, oksigen harus berdifusi melewati membran plasma sel darah merah. Semakin kecil sel darah merah semakin besar pula total luas permukaan membran plasma dalam suatu volume darah. Bentuk bikonkaf eritrosit juga turut menambah luas permukaannya.
Meskipun sel darah merah berukuran sangat kecil, sel itu mengandung sekitar 250 juta molekul hemoglobin, sejenis protein pengikat dan pembawa oksigen yang mengandung besi. Baru-baru ini para peneliti telah menemukan bahwa hemoglobin juga berikatan dengan molekul gas nitrat oksida (NO) selain dengan O2. Ketika sel darah merah lewat melalui hamparan kapiler paru-paru insang atau organ respirasi lainnya, oksigen akan berdifusi ke dalam eritrosit dan hemoglobin akan berikatan dengan O2 dan NO. Hemoglobin akan membongkar muatannya dalam kapiler sirkuit sistemik. Di sana O2 akan berdifusi ke dalam sel-sel tubuh. NO akan merelaksasikan dinding kapiler, sehingga dapat mengembang. Hal tersebut mungkin berperan dalam membantu mengirimkan O2 ke sel. (Campbell. 2001: 54-55).
2)   Sel Darah Putih (Leukosit)
Text Box: Gambar 8. Sel-Sel darah (biologigonz.blogspot.com)

Description: darah.jpgTerdapat lima jenis utama sel darah putih (white blood cell) atau leukosit: monosit, neutrofil, basofil, eosinofil, dan limfosit. Fungsinya secara kolektif adalah untuk melawan dan memerangi infeksi dengan berbagai cara. Sebagai contoh, monosit dan neutrofil adalah fagosit, yang menelan dan mencerna bakteri dan serpihan sel-sel mati dari tubuh kita sendiri. Limfosit akan terspesialisasi menjadi sel  dan sel T, yang menghasilkan respons kekebalan melawan zat-zat asing. Sel darah putih menghabiskan sebagian besar waktunya di luar sistem sirkulasi, berpatroli di dalam cairan intersisial dan sistem limfatik, di mana sebagian besar pertempuran melawan patogen dilakukan. Secara normal, satu milimeter kubik darah manusia mempunyai sekitar 5.000 sampai 10.000 leukosit. Jumlah sel ini akan meningkat untuk sementara waktu ketika tubuh sedang berperang melawan suatu infeksi. (Campbell. 2001: 55).
3)   Keping Darah (Trombosit)
Keping darah (platelet) atau trombosit adalah fragmen-fragmen sel dengan diameter sekitar 2 sampai 3 m. Keping darah tidak mempunyai nukleus dan bermula sebagai suatu fragmen sitoplasmik yang memisahkan dari sel besar dalam sumsum tulang. Keping darah kemudian memasuki darah dan berfungsi dalam proses penting penggumpalan darah. (Campbell. 2001: 55).
c.    Penggumpalan Darah
Text Box: Gambar 12. Mekanisme Penggumpalan darah (biologigonz.blogspot.com) Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRoWaMFc15AgFAy_i_jclxWyMEjRPwhL8sCk8nOiXHnBl_Auoj-u5Mrm3dvWsTyK-MXzDUyEdNoqwzwuUT35fiR0tmvv12Jz1G4iE0c8zyt7lTDSqoXCsw3r0-190mPDEabruZKk0F04PQ/s400/PEMBEKUAN+DARAH.jpgKita semua pernah mengalami luka dan terpotong atau tergores selama hidup kita, akan tetapi kita tidak mengalami pendarahan yang menyebabkan kematian karena darah kita mengandung materi yang dapat menyumbat kebocoran atau luka dalam pembuluh darah kita. Bahan perekat itu selalu ada dalam darah kita dalam bentuk inaktif yang disebut fibrinogen. Gumpalan akan terbentuk hanya ketika protein plasma ini diubah ke dalam bentuk aktifnya, fibrin yang mengumpul menjadi benang-benang yang membentuk anyaman gumpalan-gumpalan. Mekanisme penggumpalan itu umumnya dimulai dengan pembebasan faktor penggumpalan dari trombosit dan melibatkan rantaian reaksi yang kompleks yang pada akhirnya akan mengubah bentuk fibrinogen menjadi fibrin. Lebih dari selusin faktor penggumpalan telah ditemukan, namun mekanismenya masih belum dipahami sepenuhnya. Cacat turunan dalam setiap tahapan proses penggumpalan itu menyebabkan hemofilia, penyakit yang ditandai dengan pendarahan berlebihan meskipun akibat luka atau goresan yang sangat kecil.
Faktor anti penggumpalan dalam darah dalam keadaan normal mencegah penggumpalan secara spontan ketika tidak ada cedera atau perlukaan. Akan tetapi, kadang-kadang trombosit mengumpul dan fibrin mengalami koagulasi di dalam pembuluh darah dan menghambat aliran darah. Gumpalan seperti itu disebut trombus. Gumpalan ini lebih mungkin terbentuk pada individu yang mengidap penyakit kardiovaskuler yang merupakan penyakit jantung dan pembuluh darah. (Campbell, 2001: 55-56).
d.    Penggolongan Darah
Golongan darah manusia dibedakan berdasarkan komposisi aglutinogen dan aglutininnya.
Aglutinogen adalah antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi (penggumpalan darah). Aglutinogen disebut zat spesifik golongan karena digunakan untuk menentukan golongan darah. Ada banyak aglutinogen yang menjadi dasar pengelompokan golongan darah. Misalnya aglutinogen A dan B menjadi dasar pengelompokan golongan darah sistem ABO dan aglutinogen Rhesus D menjadi dasar pengelompokan untuk sistem Rhesus.
Aglutinin adalah substansi yang menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi. Dr. Karl Landsteiner seorang ahli imunologi dan patologi berkebangsaan Austria (1868-1943) dan Julius Donath adalah penemu perbedaan antigen dan antibodi dalam sel darah manusia.
1)   Golongan Darah Sistem ABO
Pada golongan darah sistem ABO, darah ddigolongkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB dan O untuk tujuan transfusi darah. Apabila pada sel darah merah seseorang tidak terdapat aglutinogen A ataupun B, darah digolongkan O. Jika hanya terdapat aglutinogen A, darah digolongkan A. Jika terdapat aglutinogen B, darah digolongkan B, dan jika terdapat aglutinogen A dan B, darah digolongkan AB.
Jika dalam sel darah sesorang tidak terdapat aglutinogen A, maka dalam plasma akan terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin (anti-A) dan jika dalam sel darah merah tidak terdapat aglutinogen B, dalam plasma terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin (anti B). Berarti, golongan darah AB memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B serta tidak memiliki aglutinin sama sekali. Lihat tabel.
Genotipe
Golongan
Aglutinogen
Aglutinin
00
0
-
Anti-A dan anti-B
0A atau AA
A
A
Anti-B
0B atau BB
B
B
Anti-A
AB
AB
A dan B
-






Text Box: Gambar 13. Penggolongan darah sistem ABO (ginautari.wordpress.com)Description: penggolongan darah ABO.jpgSebelum transfusi darah, terlebih dahulu dilakukan penentuan golongan darah antara resipien dan donornya, sehingga darah dapat dicari kesesuaiannya. Pengujian darah dilakukan sebagai berikut ini. Jika darah seseorang yang di uji dicampur dengan serum aglutinin A menggumpal, maka kemungkinan golongan darah orang tersebut adalah A atau AB. Jika darah tidak menggumpal, kemungkinan golongan darah B atau O. Apabila diuji dengan serum aglutinin B menggumpal, kemungkinan adalah golongan darah B atau AB. Akan tetapi, bila tidak menggumpal, maka kemungkinan golongan darah A atau O.
2)   Golongan Darah Sistem Rhesus
Text Box: Gambar 14. Penggolongan darah sistem Rhesusu (ginautari.wordpress.com)Description: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQpnVdTOXUb4ACoteIy-4oxrRk-MFb8XfDBUHwg_WiEP290zHr3UgGolongan darah sistem Rhesus di dasarkan atas ada tidaknya aglutinogen Rhesus (Rh) yang disebut juga faktor Rhesus. Pada tahun 1940, Landsteiner menemukan bahwa golongan darah A dapat diberikan pada kera jenis Macaca mulata, tetapi 15% lainnya tidak dapat diberikan karena terjadi aglutinasi. Dari penelitian ini, golongan darah A dibagi lagi menjadi golongan darah A (Rh+) atau A-, yaitu yang dapat diberikan kepada Macaca mulata dan golongan darah A (Rh-) atau A+ yang tidak dapat diberikan. Golongan darah yang lain pun dibedakan menjadi Rh+ dan Rh-.
Seseorang yang memiliki faktor Rh di dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh+, sedangkan orang yang tidak memiliki faktor Rh dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh-. Faktor Rh tidak begitu berpengaruh dalam transfusi darah, tetapi pada kasus tertentu dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Mekanismenya dapat dilihat pada gambar.
Jika seorang ibu Rh- kawin dengan lelaki Rh+, maka anak dalam kandungannya mungkin Rh+. Saat dalam kandungan , sel darah merah Rh+ anaknya dapat keluar menembus plasenta ke sistem sirkulasi ibunya, yaitu saat plasenta rusak sebelum atau sesudah bayi dilahirkan. Hal itu menyebabkan si ibu memproduksi antibodi anti-Rh. Jika ibu hamil lagi dan anaknya memiliki faktor Rh+, maka antibodi anti-Rh ibu akan masuk lewat plasenta dan merusak sel darah merah anak. Akibatnya terjadi kerusakan sel darah merah pada anak kedua yang dapat menyebabkan kematian. Keadaan seperti ini disebut penyakit eritroblastosis fetalis.
Philip Levine seorang ahli serologi Amerika mengemukakan bahwa penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis) disebabkan oleh sel-sel darah bayi yang mati oleh aglutinin yang berasal dari ibunya. Pertolongan yang dapat diberikan ialah mengganti darah bayi seluruhnya. (Pratiwi. 2007:85-86).




KEGIATAN PRAKTIUKUM
A.  TUJUAN
1.       Menentukan golongan darah pada manusia
2.       Menghitung denyut nadi pada manusia
3.       Mengetahui cara menghitung tekanan darah pada manusia
B.   DASAR TEORI
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Darah beredar ke seluruh tubuh dengan membawa oksigen dan zat makanan. Setelah terjadi pertukaran gas dan sisa metabolism di sel/jaringan, darah akan membawa karbondioksida menuju ke paru-paru untuk ditukarkan dengan oksigen kembali. Proses ini akan membawa darah masuk ke jantung, tekanan darah ketika masuk dan keluar jantung kita kenali sebagai detak jantung.
Berdasarkan kandungan jenis karbohidrat dan protein yang ada pada sel darah merah, kita mengenal istilah penggolongan darah. Ada beberapa macam penggolongan darah pada manusia, salah satu diantaranya ialah menurut sistem ABO. Menurut sistem ini, darah manusia dibagi dalam 4 golongan yaitu golongan darah A, B, AB dan O.
Ø Golongan darah A       : apabila dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen A, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin b
Ø Golongan darah B       : apabila dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen B, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a
Ø Golongan darah AB    : apabila dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen A dan B, sedangkan dalam plasma darahnya tidak mengandung aglutinin.
Ø Golongan darah A : apabila dalam butir darahnya tidak mempunyai aglutinogen , sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a dan b.
Bila antigen A bercampur dengan aglutinin a atau aglutinogen B bercampur dengan aglutinin b maka akan terjadi aglutinasi/penggumpalan. Dalam transfusi darah yang diperhatikan bagi si donor adalah aglutinogennya.

C.  ALAT DAN BAHAN
1.    Alat
Ø Mikroskop
Ø kaca objek
Ø Jarum outoclick
2.    Bahan
Ø Serum a dan b
Ø Alkohol 96%
D.  METODE KERJA
1.    Golongan darah
Ø Sediakan sebuah kaca objek yang bersih
Ø Bersihkan jari anda dengan alkohol kemudian dengan menggunakan autoclick ambil darah pada ujung jari sebanyak 1 tetes pada kedua ujung kaca objek
Ø Tambahkan pada masing-masing darah tersebut serum a dan b
Ø Aduklah masing-masing campuran serum dan darah anda tadi dengan menggunakan tusuk gigi
Ø Perhatikan apa yang terjadi pada keduanya, bila perlu amati dengan menggunakan loupe

Bila campuran darah pada serum a menggumpal, maka anda bergolongan darah A
Bila campuran darah pada serum b menggumpal, maka anda bergolongan darah B
Bila kedua campuran darah menggumpal, maka anda bergolongan darah AB
Bila kedua campuran darah tidak menggumpal, maka anda bergolongan darah O
2.    Tekanan darah
Ø Dengan menggunakan spigmomanometer, ukurlah tekanan darah anda.
Ø Catat hasilnya dalam tabel bandingkan hasilnya dengan teman sekelompokmu.
3.    Denyut nadi
Ø Hitunglah berapa denyut nadimu selama 1 menit dalam keadaan istirahat/ aktivitas rendah.
Ø Lari-lari di tempat selama 1 menit, kemudian hitung kembali denyut nadimu.
Ø Catat hasilnya dalam tabel, kemudian bandingkan hasilnya dengan teman sekelompokmu.

E.   HASIL PENGAMATAN
Tabel Pengamatan
1.    Golongan Darah
No
Nama
Anti A
Anti B
Golongan Darah







  1. Denyut Nadi
No
Nama
Frekuensi Denyut Nadi
Diam
Aktivitas






  1. Tekanan Darah
No
Nama
Sistole
Diastole






  1. Tinggi Badan – Berat Badan
No
Nama
Tinggi Badan
Berat Badan







2.    Alat-alat Peredaran Darah
Alat-alat peredaran pada manusia terdiri dari jantung dan pembuluh-pembuluh darah.
a.    Jantung
Text Box: Gambar 9. Jantung (coretandokter.wordpress.com)Description: jantung.jpgJantung manusia yang berada persis di bawah tulang dada (sternum) misalnya, berukuran sekitar satu kepalan tangan. Jantung terutama tersusun dari jaringan otot jantung. Kedua atria mempunyai dinding yang relatif tipis dan berfungsi sebagai ruangan penampungan bagi darah yang kembali ke jantung dan hanya memompa darah dalam jarak yang sangat dekat menuju ventrikel. Ventrikel mempunyai dinding yang lebih tebal dan jauh lebih kuat dibandingkan dengan atrium khususnya ventrikel kiri, yang harus memompakan darah keluar ke seluruh organ tubuh melalui sirkuit sistemik.
Empat katup dalam jantung, yang masing-masing terdiri atas kelepak-kelepak (flaps) jaringan ikat, berfungsi untuk mencegah aliran balik darah. Antara setiap atrium dan ventrikel terdapat katup atrioventrikel (artioventricular valva, AV). Katup AV ditambatkan oleh serabut kuat yang mencegah terjadinya perputaran balik aliran darah dari dalam keluar. Tekanan yang dibangkitkan oleh kontraksi ventrikel yang sangat kuat akan menutup katup AV, sehingga menjaga darah tidak mengalir kembali ke dalam atrium. Katup semilunar (semilunar valve) terletak di kedua pintu keluar jantung, tempat aorta meninggalkan ventrikel kiri dan artei pulmoner meninggalkan ventrikel kanan. Darah dipompakan keluar dan masuk ke dalam arteri melalui katup semilunar, yang dipaksa membuka oleh tekanan yang diciptakan oleh kontraksi ventrikel. Ketika ventrikel berelaksasi, darah mulai mengalir kembali menuju jantung, menutup katup semilunar, yang mencegah darah mengalir kembali ke dalam ventrikel. Dinding arteri yang elastis akan mengembang ketika menerima darah yang dikeluarkan dari ventrikel. (Campbell. 2001: 46-47).
b.    Pembuluh-Pembuluh Darah
Pada abad ke-17, penyelidikan tentang peredaran darah telah dilakukan oleh para ahli. Penelitian tersebut menemukan bahwa darah di dalam tubuh mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah.
1)   Pembulu Nadi (Arteri)
Pada saat jantung berkontraksi (sistol), darah akan keluar dari bilik menuju pembuluh nadi (arteri). Pembuluh nadi adalah pembuluh yang membawa darah dari jantung dan umumnya mengandung banyak oksigen. Pembuluh ini tebal, elastis, dan memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar jantung. Letak pembuluh nadi biasanya di dalam tubuh, hanya beberapa yang terletak di dekat permukaan sehingga dapat dirasakan denyutnya.
Secara anatomi, pembuluh nadi tersusun atas tiga lapisan jaringan. Lapisan luar berupa jaringan ikat yang kuat dan elastis. Lapisan tengah berupa otot polos yang berkontraksi secara tak sadar. Otot polos akan merenggang pada saat darah melewatinya sehingga lapisan ini tidak melipat. Lapisan dalam berupa jaringan endotelium yang melindungi jaringan di dalamnya. Pembuluh nadi yang dilewati darah adalah sebagai berikut. (Pratiwi. 2007: 88).
a)   Pembuluh nadi besar (aorta)
Aorta adalah pembuluh yang dilewati darah dari bilik kiri jantung menuju ke seluruh tubuh. Aorta becabang-cabang, makin lama makin kecil, dan disebut pembuluh nadi (arteri). Arteri becabang-cabang lagi makin kecil, disebut arteriola. Arteriola becabang halus diseluruh tubuh dan disebut kapiler.
Kapiler sangat halus dan tersusun oleh satu lapis jaringan endotelium. Kapiler dapat masuk sampai ke sel-sel tubuh. Disinilah terjadi pertukaran gas, air, dan garam mineral ataupun larutan bahan organik dari kapiler darah dengan sel-sel darah tubuh. Kapiler-kapiler akan saling bertautan dinamakan venula. Darah yang telah beredar dari seluruh tubuh melewati venula dan menuju vena yang lebih besar, kemudian akhirnya menuju vena kava (pembuluh balik tubuh) dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990: 190).
b)   Pembuluh Nadi Paru-Paru (Arteri Pulmonalis)
Pembuluh nadi paru-paru adalah pembuluh yang dilewati darah dari bilik kanan menuju paru-paru (pulmo). Pembuluh ini banyak mengandung karbon dioksida yang akan dilepaskan ke paru-paru. Di dalam paru-paru, yaitu di alveolus, darah melepas karbon dioksida dan mengikat oksigen. Dari kapiler di paru-paru, darah akan menuju ke venula, kemudian ke vena pulmonalis dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990: 192-193).
2)   Pembuluh Balik (Vena)
Pembuluh balik adalah pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung, yang umumnya mengandung karbon dioksida. Pembuluh balik (vena) lebih mudah dikenali daripada nadi karena letaknya di daerah permukaan. Seperti halnya nadi, pembuluh balik juga disusun oleh tiga lapisan, tetapi dinding pembuluh ini lebih tipis dan tidak elastis. Tekanan pembuluh balik lemah lemah dibandingkan dengan tekanan pembuluh nadi dan di sepanjang pembuluh balik terdapat katup yang menjaga agar darah tak kembali.
Saat jantung berelaksasi (diastol), darah dari tubuh dan paru-paru akan masuk ke jantung melalui vena. Pembuluh balik ini merupakan tempat masuknya darah ke jantung. Vena diselubungi oleh otot rangka dan memiliki sebuah katup, yaitu valvula semilunaris.
Pembuluh balik yang masuk ke jantung adalah sebagai berikut:
a)   Vena Kava
Vena kava bercabang-cabang menjadi pembuluh yang lebih kecil, yaitu vena. Vena bercabang-cabang lagi menjadi kapiler vena yang disebut venula. Venula berada di dalam sel-sel tubuh dan berhubungan dengan kapiler arteri. Ada dua macam vena kava, yaitu vena kaca superior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari bagian atas tubuh (kepala, leher dan anggota badan atas) ke serambi kanan jantung dan vena kava inferior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari bagian tubuh lainnya dan anggota badan bawah tubuh ke serambi kanan jantung. (Wldan. 1990: 195-196).
b)   Vena Pulmonalis
Vena ini mebawa darah yang mengandung O2 dari paru-paru ke serambi kiri jantung.

3.    Mekanisme Peredaran Darah Manusia
Text Box: Gambar 11. Sistem Peredaran Manusia (learningjust4u.wordpress.com)Description: sistem peredaran manusia.jpgAda dua macam peredaran darah dalam tubuh manusia. Peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis disebut peredaran darah kecil. Sedangkan peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava disebut peredaran darah besar. Oleh karena pada manusia terdapat kedua macam peredaran  darah tersebut, maka manusia dikatakan memiliki peredaran darah ganda. (Pratiwi. 2007: 88-89).

D.  Kelainan Pada Sistem Peredaran Darah
Kelainan dan gangguan pada sistem peredaran darah dapat ditimbulkan karena pewarisan sifat (keturunan), rusaknya alat peredaran darah akibat kecelakaan, atau akibat makanan yang dikonsumsi banyak mengandung lemak dan zat kapur. Zat makanan tersebut dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah atau berkurangnya elastisitas otot jantung dalam mekanisme pompa dan isap.
Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain:
a.    Anemia (kurang darah), dikarenakan kurangnya kadar Hb atau kurangnya jumlah eritrosit dalam darah.
b.    Varises adalah pelebaran pembuluh darah di betis.
c.    Hemoroid (ambeien), adalah pelebaran pembuluh darah di sekitar dubur (anus).
d.    Arteriosklerosis, adalah pengerasan pembuluh nadi karena timbunan atau endapan kapur.
e.    Artherosklerosis, ialah pengerasan pembuluh nadi karena endapan lemak.
f.     Embolus, ialah tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang bergerak.
g.    Trombus, ialah tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang tidak bergerak.
h.    Hemofilia, ialah kelainan darah sukar membeku karena faktor hereditas atau keturunan.
i.      Leukemia (kanker darah), ialah bertambahnya leukosit secara tak terkendali.
j.      Penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), adalah rusaknya eritrosit bayi atau janin akibat aglutinasi dari antibodi ibu, apabila ibu bergolongan darah Rh- dan embrio Rh+. Penyakit ini terjadi pada kandungan kedua, jika kandungan pertama embrio juga bergolongan darah Rh+.
k.    Penyakit jantung koroner (PJK), yaitu penyempitan arteikoronaria yang mengangkut O2 ke jantung.
l.      Talasemia, merupakan anemia akibat rusaknya gen pembentuk hemoglobin yang bersifat menurun.

Rangkuman
Sistem peredaran darah mengangkut cairan keseluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutien, dan membuang zat-zat sisa.
Sistem peredaran darah pada hewan terbagi menjadi sistem peredaran darah terbuka yaitu sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah tertutup adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati pembuluh-pembuluh darah. Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata dan sistem peredaran pada hewan vertebrata.
Sistem peredaran manusia terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Alat peredaran darahnya berupa jantung sebagai pusat peredaran darah dan pembuluh-pembuluh darah. Mekanisme sistem peredaran darah manusia terdiri dari dua macam yaitu, sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran darah besar. Sistem peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar adalah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
Mekanisme pembekuan darah yaitu kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase. Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati. Pembentukannya dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh kita.
Penggolongan darah terbagi menjadi dua yaitu, penggolongan darah sistem ABO dan penggolongan darah sistem rhesus. Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises, hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus, trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.
Soal Latihan
A.  Pilihlah satu jawaban yang tepat!

1.    Peredaran darah cacing tanah merupakan sistem peredaran darah ...
a.      Ganda     b. Tunggal     c. Tertutup       d. Terbuka       e. Primer
2.    Peredaran darah pada belalang adalah sistem peredaran darah yang ....
a.      Tertutup                        c. Tunggal                   e. Terbuka
 b.      Ganda                          d. primer
3.    Jantung katak terdiri dari ...
a.      1 serambi, dan 2 bilik               d. 2 serambi, dan 1 bilik
b.      2 serambi, dan 2 bilik               e. 1 serambi, dan 1 bilik
c.       3 serambi, dan 1 bilik
4.    Sistem peredaran darah manusia terdiri dari komponen berikut kecuali:
a.    Darah
b.    Jantung
c.    Vena
d.   Arteri
e.    Ginjal
5.    Fungsi hemoglobin adalah…
a.    Membawa CO2 ke jaringan
b.    Membawa CO2 dari jaringan
c.    Membantu dalam proses pembekuan darah
d.   Mengikat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh
e.    Membawa glukosa ke seluruh tubuh
6.    Darah tersusun dari sel-sel darah dan…
a.    Plasma darah
b.    Eritrosit
c.    Leukosit
d.   Trombosit
e.    Fibrinogen
7.    Sel darah sebagai pertahanan tubuh dari sel-sel asing yang menyebabkan penyakit adalah fungsi dari…
a.    Eritrosit
b.    Trombosit
c.    Leukosit
d.   Trombokinase
e.    Agranuler
8.    Golongan darah A memiliki aglutinogen…
a.    A
b.    B
c.    AB
d.   O
e.    Rh+
9.    Enzim yang berperan dalam pengubahan protrombin menjadi trombin adalah…
a.    Polimerase
b.    Histamin
c.    Heparin
d.   Trombokinase
e.    Vitamin K
10.    Zat yang menentukan golongan darah manusia adalah . . . .
a.    aglutinin dan eritrosit
b.    aglutinin dan leukosit
c.    aglutinin dan aglutinogen
d.   aglutinogen dan eritrosit
e.    aglutinogen dan leukosit

B.   Jawablah pertanyaan berikut!
1.    Apa yang dimaksud dengan sistem peredaran darah terbuka dengan sistem peredaran darah tertutup?
2.    Secara teori, bila seseorang bergolongan darah AB memerlukan transfusi darah, orang bergolongan darah apa saja yang dapat menyumbangkan darahnya untuk orang tersebut? Jelaskan!
3.    Jelaskan sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran darah besar?
4.    Bagaimana mekanisme pembekuan darah?
5.    Sebutkan kelainan-kelainan yang terjadi pada sistem peredaran darah?
KUNCI JAWABAN
A.  Pilihan Ganda
1.    C
2.    E
3.    D
4.    E
5.    E
6.    D
7.    C
8.    A
9.    D
10.     C

B.   Essay
1.    Sistem peredaran darah terbuka adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah tertutup adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati pembuluh darah.
2.    Seluruh golongan darah yang menyumbang orang yang bergolongan darah AB, karena golongan darah AB  memiliki aglutinogen A dan B, sedangkan tidak mempunyai aglutinin anti-A dan anti-B.
3.    Sistem peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar adalah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
4.    Mekanisme pembekuan darah yaitu kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase. Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati. Pembentukannya dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh kita.
5.    Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises, hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus, trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.













DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil. A. 2001. “Biologi edisi ke-5 jilid ke-2”. Erlangga : Jakarta
Pratiwi, dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI. Erlangga: Jakarta.
Yatim, Wildan. 1990. Histologi. Tarsito: Bandung.


























BIOGRAFI PENULIS
Description: Foto008.jpgPenulis memiliki nama lengkap Helmi Apriliyatmi Hapwiyah, lahir pada tanggal 21 April 1993 di Indramayu. Pendidikan dasar di SD Negeri Eretan Wetan 1, pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2005.  Kemudian, melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Kandanghaur dari tahun 2005 sampai dengan selesai pada tahun 2008. Seusai menjalani pendidikan sekolah menengah, penulis kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Kandanghaur dari tahun 2008 sampai 2011.


Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQlMC-YxOqzCfxrzxoa1RR8tfc4wo6XqJFVddL_e__Wz17OPFq1










Text Box: SISTEM PEREDARAN DARAHPROPOSISI MATERI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SISTEM PEREDARAN DARAH BERDASARKAN RUJUKAN BIOLOGI untuk SMA Kelas XI DAN PENGETAHUAN SISWA


 





















 












 

PETA KONSEP


 




Membahas tentang
 






                     Pada                                                                           meliputi








 






Text Box: PiscesTerdiri dari
 





Text Box: Aves     
                                       memiliki komponen                             terdiri dari
 







                                                               Terdiri dari                           Terdiri dari








 













A.  Gambaran Umum Sistem Peredaran Darah
Dalam dihidupnya, organisme memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna, juga menghasilkan sampah (zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh seperti makanan dan oksigen serta hasil metabolisme dan sisa-sisanya, diangkut dan diedarkan di dalam tubuh melalui sistem peredaran darah.
Hasil pencernaan makanan dan oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah ke seluruh jaringan tubuh. Sebaliknya, sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan tubuh menuju organ-organ pembuangan. (Pratiwi. 2007: 80)
Sistem peredaran darah mengangkut cairan keseluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutien, dan membuang zat-zat sisa. Sistem peredaran darah membawa darah yang kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Ketika darah mengalir melalui jaringan di dalam pembuluh mikroskopis yang disebut kapiler, zat-zat kimia akan diangkut antara darah dan cairan intersisial yang secara langsung menggenangu sel-sel itu. (Campbell. 2001: 42)

B.   Sistem Peredaran Darah Hewan
Pada hewan metazoa (bersel banyak) tingkat tinggi, seperti juga pada manusia, peredaran darahnya melalui pembulu. Sistem transportasi hewan metazoa disusun oleh organ-organ berupa jantung, pembuluh darah, dan darah.
1.    Mekanisme Peredaran Darah Pada Hewan
Pada hewan tingkat tinggi terdapat dua tipe sistem peredaran darah, yaitu sistem peredaran darah terbuka dan sistem peredaran darah tertutup. Berikut ini akan dibahas kedua sistem peredaran darah tersebut.
a.    Sistem Peredaran Darah Terbuka
Sistem peredaran darah terbuka adalah peredaran darah atau distribusi darah ke seluruh tubuh (jaringan) yang tidak selalu melewati pembuluh darah. Kadang darah secara langsung menuju jaringan tubuh tanpa melalui pembuluh, tidak ada perbedaan antara darah dan cairan intersisial, dan cairan tubuh umum sebenarnya jauh lebih tepat disebut hemolimfa. Satu atau lebih jantung memompakan hemolimfa ke dalam sistem sinus yang saling berhubungan, yang merupakan ruangan yang mengelilinai organ tersebut.
Disini, pertukaran kimiawi terjadi antara hemolimfa dan sel-sel tubuh. Pada belalang dan artropda lain, jantung tersebut merupakan tabung panjang yang berlokasi di bagian dorsal. Ketika jantung berkontarsi, jantung tersebut akan memompa hemolimfa keluar melalui pembuluh dan kemudian masuk ke dalam sinus. Ketika janting mengalami relaksasi, jantung akan menyedot hemolimfa masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui pori-pori yang disebut ostia. Pergerakan tubuh yang menekan dan memeras sinus membantu mensirkulasikan hemolimfa. (Campbell. 2001: 43)
b.    Sistem Peredaran Darah tertutup
Dalam sistem peredaran darah tertutup, darah hanya terdapat secara terbatas dalam pembuluh dan terpisahkan dari cairan intersisial. Satu atau lebih jantung memompa darah ke dalam pembuluh-pembuluh besar yang bercabang menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih kecil yang mengalir melalui organ-organ. Di sini, mater-materi di pertukarkan antara darah dan cairan intersisial yang menggenangi sel tersebut. (Campbell. 2001: 43).

2.    Sistem Peredaran Darah Avertebrata
Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata masih belum lengkap seperti pada sistem peredaran hewan vertebrata. Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata tidak dijumpai suatu pusat koordinasi peredaran.
a.    Serangga
Text Box: Gambar 1. Sistem peredaran belalang.
(livebiologi.blogspot.com)
Description: http://koesmilanisty.mywapblog.com/files/serangga.jpgPada belalang, jantung tubular dorsal memompa maju hemolimfa melalui pembuluh anterior dan menuju ke bagian samping hewan itu melalui beberapa pembuluh lateral yang berurutan. Hemolimfanya diperas ke arah samping melalui sinus oleh gerakan tubuh, dan masuk kembali ke jantung melalui ostia, yang dilengkapi dengan katup yang akan menutup ketika jantung berkontraksi. (Campbell. 2001: 43).
b.    Cacing Tanah
Text Box: Gambar 2. Sistem Peredaran Cacing Tanah ( www.adesurya.com)

Description: http://budisma.web.id/wp-content/uploads/2011/09/Gambar-5.18-Sistem-peredaran-darah-cacing.jpgPada seekor cacing tanah, tiga pembuluh utama, satu dorsal dan dua ventral, bercabang ke dalam pembuluh-pembuluh yang lebih kecil yang mengalirkan darah ke berbagai organ. Pembuluh dorsal berfungsi sebagai jantung utama, yang memompa darah maju ke depan oleh gerak peristaltik. Dekat dengan ujung anterior cacing tersebut, lima pasang pembuluh melengkung mengitari saluran pencernaan, sehingga menghubungkan pembuluh dorsal dan pembuluh ventral. Pembuluh berpasangan itu berfungsi sebagai jantung tambahan, yang mendorong darah ke arah ventral. Darah mengalir ke arah samping di dalam pembuluh ventral. (Campbell. 2001: 43).

3.    Sistem Peredaran Darah Vertebrata
Sistem peredaran darah vertebrata terdiri dari jantung, arteri, vena, kapiler, dan darah. Jantung adalah pusat peredaran. Jantung yang tersusun oleh otot yang kuat memiliki kontraksi yang ritmik (teratur), biasa kita sebut detak atau denyut. Dengan kekuatan kontraksinya, jantung mampu mendorong darah meninggalkan jantung.
a.    Pisces
Text Box: Gambar 3. Sistem peredaran darah pisces
(www.sibarasok.com)
Description: http://budisma.web.id/wp-content/uploads/2012/10/ikan.jpgSeekor ikan mempunyai sebuah jantung dengan dua ruangan (bilik) utama, yaitu satu atrium dan satu ventrikel. Darah yang dipompakan dari ventrikel mengalir pertama-tama ke insang, tempat terjadinya pengambilan oksigen oleh darah dan pembebasan karbon dioksida melewati dinding kapiler. Kapiler insang mengumpul ke dalam suatu pembuluh yang membawa darah yang kaya akan oksigen ke hamparan kapiler di semua bagian tubuh lainnya.
Darah itu kemudian kembali melalui vena ke atrium jantung. Perhatikan bahwa pada seekor ikan, darah harus mengalir melalui dua hamparan kapiler selama masing-masing sirkuit (perputaran), satu dalam insang dan yang kedua, yang disebut kapiler sistemik, dalam organ selain insang. Ketika darah mengalir melalui hamparan kepiler, tekanan darah, tekanan hidrostatik yang mendorong darah mengalir melalui pembuluh. Dengan demikian, darah yang kaya oksigen dari insang mengalir ke organ-organ lain dengan sangat lambat pada ikan, tetapi proses tersebut dibantu oleh pergerakan tubuh selama berenang. (Campbell. 2001: 44).
b.    Amphibia
Amphibi memiliki jantung berbilik tiga, dengan dua atria dan satu ventrikel. Ventrikel akan memompakan darah ke dalam sebuah arteri bercabang yang mengarahkan darah melalui dua sirkuit, sirkuit pulmokutaneus dan sirkuit sistemik. Sirkuit pulmokutaneus mengarahkan ke jaringan pertukaran gas (dalam paru-paru dan kulit pada katak), dimana darah akan mengambil oksigen sembari mengalir melalui kapiler.
Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit sistemik. Sirkuit sistemik membawa darah yang kaya oksigen ke atrium kanan melalui vena. Skema ini, yang disebut sirkulasi ganda menjamin aliran darah yang kuat ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu dipompa untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekananya dalam hamparan kapiler pada paru-paru atau kulit. Keadaan ini sangat berbeda dari sirkulasi tunggal dalam ikan, di mana darah mengalir secara langsung dari organ respirasi (insang) ke organ lain dengan tekanan yang semakin berkurang.
Dalam ventrikel tunggal pada jantung katak, terdapat pencampuran darah kaya oksigen yang telah kembali dari paru-paru dengan darah yang kurang oksigen yang telah kembali dari bagian tubuh yang lain. Akan tetapi, suatu abungan (ridge) di dalam ventrikel akan mengalihkan sebagian besar dari darah yang kaya oksigen itu dari atrium kiri ke dalam sirkuit sistemik dan sebagian besar darah yang miskin oksigen itu dari atrium kanan ke dalam sirkuit pulmokutaneus. (Campbell. 2001: 45).
c.    Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEii7vvpAbUEqywrukP4u9NDSRDLzG55cjUUXE73HrgwM6cx-NYSCrJ_OfSkjDRrPfFHMApDOm4JO2NYnjtbdfqIU8D87bQh-vLNX1QBgQYXRUo2Tnt3pHET6I3WqXHw66WfA4X8LbQsL_ZF/s1600/3.jpgReptilia
Text Box: Gambar 5. Sistem Peredaran darah reptilia (dc126.4shared.com)Pada reptilia, terdapat lebih sedikit lagi percampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen. Meskipun jantung reptilia berbiliki tiga, ventrikel tunggal itu terbagi secara parsial. Reptilia mempunyai sirkulasi ganda yaitu, sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner, yang mengalirkan darah dari jantung ke jaringan pertukaran-gas dalam paru-paru dan kembali ke jantung. Pada satu ordo reptilia, crocodilia, ventrikel secara sempurna terbagi menjadi bilik kiri dan bilik kanan. (Campbell. 2001: 45).
d.    Aves
Jantung berbilik empat pada burung mempunyai dua atria dan dua ventrikel yang terpisah secara sempurna. Terdapat sirkulasi ganda (sirkuit sistemik dan sirkuit pulmoner), bagian kiri jantung hanya menangani darah yang kaya oksigen, sementara bagian kanan jantung hanya menerima dan memompakan darah yang miskin oksigen. Pengiriman oksigen ke seluruh bagian tubuh akan semakin Description: aves.jpgmengikat karena tidak ada pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang kurang oksigen, dan sirkulasi ganda akan memulihkan tekanan setelah darah baru saja lewat melalui kapiler paru-paru. Sebagai hewan endotermik, yang menggunakan panas yang dibebaskan dari metabolisme untuk Text Box: Gambar 6. Sistem Peredaran Darah Aves (iyusabdusyakir.wordpress.com)menghangatkan tubuh, burung memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran tubuh yang sama. (Campbell. 2001: 45-46).

C.  Sistem Peredaran Darah Manusia
Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas darah, pembuluh darah, dan jantung sebagai pusat peredaran darah.
1.    Darah
Darah vertebrata merupakan suatu jenis jaringan ikat yang terdiri atas beberapa jenis sel yang tersuspensi dalam suatu matriks cairan yang disebut plasma. Tubuh manusia pada umumnya mengandung kurang lebih 4 sampai 6 L darah. Jika sampel darah diambil, sel-sel darah dapat dipisahkan dari plasma dengan cara memasukkan darah tersebut ke dalam alat sentrifugasi dan memutarnya dengan kecepatan tertentu. (antikoagulan harus ditambahkan untuk mencegah penggumpalan darah). Unsur seluler (sel dan fragmen sel), yang berkisar sekitar 45% dari volume darah, akan mengendap ke dasar tabung sentrifuge, dan membentuk pelet padat berwarna merah. Di atas pelet seluler ini terdapat plasma transparan berwarna kekuning-kuningan. (Campbell. 2007: 53) 
a.    Plasma Darah
Plasma darah mengandung sekitar 90% air. Di antara berbagai jenis zat yang larut dalam air terdapat garam-garam anorganik, yang kadang-kadang disebut sebagai elektrolit darah dan terdapat di dalam palsma dalam bentuk ion terlarut. Konsentrasi gabungan ion-ion ini penting dalam pemeliharaan keseimbangan osmotik darah. Beberapa ion tersebut juga membantu menyangga pH darah, yang mempunyai pH 7,4 pada manusia. Kemampuan otot dan saraf untuk berfungsi secara normal juga bergantung  pada konsentrasi ion-ion kunci dalam cairan intersisial, yang mencerminkan konsentrasi ion-ion tersebut dalam plasma. Ginjal mempertahankan elektrolit plasma pada konsentrasi yang tepat, yang merupakan sebuah contoh homeostasis.
Kelompok zat terlarut penting yang lain adalah protein plasma, yang mempunyai sejumlah fungsi. Secara kolektif, protein plasma tersebut bertindak sebagai penyangga (buffer) melawan perubahan pH, membantu mempertahankan keseimbangan osmotik antara darah dan cairan intersisial, dan turut mempengaruhi viskositas atau kekentalan darah. Berbagai jenis protein plasma juga mempunyai fungsi spesifik. Beberapa di antaranya berfungsi sebagai pengantar untuk lipid yang tidak larut dalam air dan dapat bergerak dalam darah hanya ketika terikat dengan protein. Kelompok protein lain, imunoglobulin, adalah antibodi yang membantu memerangi virus dan zat asing lainnya yang menyerang tubuh. Dan beberapa di antara protein plasma, yang disebut fibrinogen, merupakan faktor penggumpalan yang membantu menyumbat kebocoran ketika pembuluh darah mengalami perlukaan. Plasma darah yang telah dihilangkan faktor penggumpalannya disebut serum.
Plasma juga mengandung berbagai zat yang berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain, yang meliputi nutrien, produk buangan metabolisme, gas-gas respirasi, dan hormon. Plasma darah dan cairan intersisial memiliki komposisi yang serupa, kecuali bahwa plasma mempunyai kandungan protein yang jauh lebih besar dibandingkan dengan cairan intersisial (ingat bahwa dinding kapiler sangat tidak permeabel terhadap protein). (Campbell. 2001: 53).
b.    Sel Darah
Terdapat tiga kelas sel yang tersebar di seluruh plasma darah: sel darah merah, yang mengangkut oksigen, dan sel darah putih, yang berfungsi dalam pertahanan tubuh. Unsur seluler yang ketiga, keping darah adalah bagian-bagian sel yang terlibat dalam penggumpalan darah.
1)   Sel Darah Merah (eritrosit)
Sel darah merah (red blood cell), atau eritrosit (erythrocyte), sejauh ini merupakan sel darah yang paling banyak jumlahnya, jauh melebihi yang lain. Setiap milimeter kubik darah manusia mengandung 5 sampai 6 juta sel darah merah, dan terdapat sekitar 25 triliun jenis sel ini dalam keseluruhan 5 L darah dalam tubuh.
Struktur sel darah merah merupakan contoh lain yang sangat baik tentang struktur yang disesuaikan dengan fungsinya. Sebuah eritrosit manusia berbentuk cakram bikonkaf, bagian tengahnya lebih tipis dibandingkan dengan bagian tepi. Eritrosit mamalia tidak mengandung nukleus (inti), suatu karakteristik yang tidak umum pada sel hidup (kelas vertebrata lain mempunyai eritrosit yang bernukleus). Lebih jauh lagi, semua sel darah merah tidak memiliki mitokondria dan menghasilkan ATP-nya secara ekslusif melalui metabolisme anaerobik. Fungsi utama eritrosit adalah membawa oksigen, dan akan sangat tidak efisien jika metabolisme eritrosit sendiri bersifat aerobik dan mengkonsumsi sebagian oksigen yang mereka bawa. Ukuran eritrosit yang kecil (berdiameter sekitar 12 m) juga sesuai dengan fungsinya. Supaya dapat diangkut, oksigen harus berdifusi melewati membran plasma sel darah merah. Semakin kecil sel darah merah semakin besar pula total luas permukaan membran plasma dalam suatu volume darah. Bentuk bikonkaf eritrosit juga turut menambah luas permukaannya.
Meskipun sel darah merah berukuran sangat kecil, sel itu mengandung sekitar 250 juta molekul hemoglobin, sejenis protein pengikat dan pembawa oksigen yang mengandung besi. Baru-baru ini para peneliti telah menemukan bahwa hemoglobin juga berikatan dengan molekul gas nitrat oksida (NO) selain dengan O2. Ketika sel darah merah lewat melalui hamparan kapiler paru-paru insang atau organ respirasi lainnya, oksigen akan berdifusi ke dalam eritrosit dan hemoglobin akan berikatan dengan O2 dan NO. Hemoglobin akan membongkar muatannya dalam kapiler sirkuit sistemik. Di sana O2 akan berdifusi ke dalam sel-sel tubuh. NO akan merelaksasikan dinding kapiler, sehingga dapat mengembang. Hal tersebut mungkin berperan dalam membantu mengirimkan O2 ke sel. (Campbell. 2001: 54-55).
2)   Sel Darah Putih (Leukosit)
Text Box: Gambar 8. Sel-Sel darah (biologigonz.blogspot.com)

Description: darah.jpgTerdapat lima jenis utama sel darah putih (white blood cell) atau leukosit: monosit, neutrofil, basofil, eosinofil, dan limfosit. Fungsinya secara kolektif adalah untuk melawan dan memerangi infeksi dengan berbagai cara. Sebagai contoh, monosit dan neutrofil adalah fagosit, yang menelan dan mencerna bakteri dan serpihan sel-sel mati dari tubuh kita sendiri. Limfosit akan terspesialisasi menjadi sel  dan sel T, yang menghasilkan respons kekebalan melawan zat-zat asing. Sel darah putih menghabiskan sebagian besar waktunya di luar sistem sirkulasi, berpatroli di dalam cairan intersisial dan sistem limfatik, di mana sebagian besar pertempuran melawan patogen dilakukan. Secara normal, satu milimeter kubik darah manusia mempunyai sekitar 5.000 sampai 10.000 leukosit. Jumlah sel ini akan meningkat untuk sementara waktu ketika tubuh sedang berperang melawan suatu infeksi. (Campbell. 2001: 55).
3)   Keping Darah (Trombosit)
Keping darah (platelet) atau trombosit adalah fragmen-fragmen sel dengan diameter sekitar 2 sampai 3 m. Keping darah tidak mempunyai nukleus dan bermula sebagai suatu fragmen sitoplasmik yang memisahkan dari sel besar dalam sumsum tulang. Keping darah kemudian memasuki darah dan berfungsi dalam proses penting penggumpalan darah. (Campbell. 2001: 55).
c.    Penggumpalan Darah
Text Box: Gambar 12. Mekanisme Penggumpalan darah (biologigonz.blogspot.com) Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRoWaMFc15AgFAy_i_jclxWyMEjRPwhL8sCk8nOiXHnBl_Auoj-u5Mrm3dvWsTyK-MXzDUyEdNoqwzwuUT35fiR0tmvv12Jz1G4iE0c8zyt7lTDSqoXCsw3r0-190mPDEabruZKk0F04PQ/s400/PEMBEKUAN+DARAH.jpgKita semua pernah mengalami luka dan terpotong atau tergores selama hidup kita, akan tetapi kita tidak mengalami pendarahan yang menyebabkan kematian karena darah kita mengandung materi yang dapat menyumbat kebocoran atau luka dalam pembuluh darah kita. Bahan perekat itu selalu ada dalam darah kita dalam bentuk inaktif yang disebut fibrinogen. Gumpalan akan terbentuk hanya ketika protein plasma ini diubah ke dalam bentuk aktifnya, fibrin yang mengumpul menjadi benang-benang yang membentuk anyaman gumpalan-gumpalan. Mekanisme penggumpalan itu umumnya dimulai dengan pembebasan faktor penggumpalan dari trombosit dan melibatkan rantaian reaksi yang kompleks yang pada akhirnya akan mengubah bentuk fibrinogen menjadi fibrin. Lebih dari selusin faktor penggumpalan telah ditemukan, namun mekanismenya masih belum dipahami sepenuhnya. Cacat turunan dalam setiap tahapan proses penggumpalan itu menyebabkan hemofilia, penyakit yang ditandai dengan pendarahan berlebihan meskipun akibat luka atau goresan yang sangat kecil.
Faktor anti penggumpalan dalam darah dalam keadaan normal mencegah penggumpalan secara spontan ketika tidak ada cedera atau perlukaan. Akan tetapi, kadang-kadang trombosit mengumpul dan fibrin mengalami koagulasi di dalam pembuluh darah dan menghambat aliran darah. Gumpalan seperti itu disebut trombus. Gumpalan ini lebih mungkin terbentuk pada individu yang mengidap penyakit kardiovaskuler yang merupakan penyakit jantung dan pembuluh darah. (Campbell, 2001: 55-56).
d.    Penggolongan Darah
Golongan darah manusia dibedakan berdasarkan komposisi aglutinogen dan aglutininnya.
Aglutinogen adalah antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi (penggumpalan darah). Aglutinogen disebut zat spesifik golongan karena digunakan untuk menentukan golongan darah. Ada banyak aglutinogen yang menjadi dasar pengelompokan golongan darah. Misalnya aglutinogen A dan B menjadi dasar pengelompokan golongan darah sistem ABO dan aglutinogen Rhesus D menjadi dasar pengelompokan untuk sistem Rhesus.
Aglutinin adalah substansi yang menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi. Dr. Karl Landsteiner seorang ahli imunologi dan patologi berkebangsaan Austria (1868-1943) dan Julius Donath adalah penemu perbedaan antigen dan antibodi dalam sel darah manusia.
1)   Golongan Darah Sistem ABO
Pada golongan darah sistem ABO, darah ddigolongkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB dan O untuk tujuan transfusi darah. Apabila pada sel darah merah seseorang tidak terdapat aglutinogen A ataupun B, darah digolongkan O. Jika hanya terdapat aglutinogen A, darah digolongkan A. Jika terdapat aglutinogen B, darah digolongkan B, dan jika terdapat aglutinogen A dan B, darah digolongkan AB.
Jika dalam sel darah sesorang tidak terdapat aglutinogen A, maka dalam plasma akan terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin (anti-A) dan jika dalam sel darah merah tidak terdapat aglutinogen B, dalam plasma terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin (anti B). Berarti, golongan darah AB memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B serta tidak memiliki aglutinin sama sekali. Lihat tabel.
Genotipe
Golongan
Aglutinogen
Aglutinin
00
0
-
Anti-A dan anti-B
0A atau AA
A
A
Anti-B
0B atau BB
B
B
Anti-A
AB
AB
A dan B
-






Text Box: Gambar 13. Penggolongan darah sistem ABO (ginautari.wordpress.com)Description: penggolongan darah ABO.jpgSebelum transfusi darah, terlebih dahulu dilakukan penentuan golongan darah antara resipien dan donornya, sehingga darah dapat dicari kesesuaiannya. Pengujian darah dilakukan sebagai berikut ini. Jika darah seseorang yang di uji dicampur dengan serum aglutinin A menggumpal, maka kemungkinan golongan darah orang tersebut adalah A atau AB. Jika darah tidak menggumpal, kemungkinan golongan darah B atau O. Apabila diuji dengan serum aglutinin B menggumpal, kemungkinan adalah golongan darah B atau AB. Akan tetapi, bila tidak menggumpal, maka kemungkinan golongan darah A atau O.
2)   Golongan Darah Sistem Rhesus
Text Box: Gambar 14. Penggolongan darah sistem Rhesusu (ginautari.wordpress.com)Description: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQpnVdTOXUb4ACoteIy-4oxrRk-MFb8XfDBUHwg_WiEP290zHr3UgGolongan darah sistem Rhesus di dasarkan atas ada tidaknya aglutinogen Rhesus (Rh) yang disebut juga faktor Rhesus. Pada tahun 1940, Landsteiner menemukan bahwa golongan darah A dapat diberikan pada kera jenis Macaca mulata, tetapi 15% lainnya tidak dapat diberikan karena terjadi aglutinasi. Dari penelitian ini, golongan darah A dibagi lagi menjadi golongan darah A (Rh+) atau A-, yaitu yang dapat diberikan kepada Macaca mulata dan golongan darah A (Rh-) atau A+ yang tidak dapat diberikan. Golongan darah yang lain pun dibedakan menjadi Rh+ dan Rh-.
Seseorang yang memiliki faktor Rh di dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh+, sedangkan orang yang tidak memiliki faktor Rh dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh-. Faktor Rh tidak begitu berpengaruh dalam transfusi darah, tetapi pada kasus tertentu dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Mekanismenya dapat dilihat pada gambar.
Jika seorang ibu Rh- kawin dengan lelaki Rh+, maka anak dalam kandungannya mungkin Rh+. Saat dalam kandungan , sel darah merah Rh+ anaknya dapat keluar menembus plasenta ke sistem sirkulasi ibunya, yaitu saat plasenta rusak sebelum atau sesudah bayi dilahirkan. Hal itu menyebabkan si ibu memproduksi antibodi anti-Rh. Jika ibu hamil lagi dan anaknya memiliki faktor Rh+, maka antibodi anti-Rh ibu akan masuk lewat plasenta dan merusak sel darah merah anak. Akibatnya terjadi kerusakan sel darah merah pada anak kedua yang dapat menyebabkan kematian. Keadaan seperti ini disebut penyakit eritroblastosis fetalis.
Philip Levine seorang ahli serologi Amerika mengemukakan bahwa penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis) disebabkan oleh sel-sel darah bayi yang mati oleh aglutinin yang berasal dari ibunya. Pertolongan yang dapat diberikan ialah mengganti darah bayi seluruhnya. (Pratiwi. 2007:85-86).




KEGIATAN PRAKTIUKUM
A.  TUJUAN
1.       Menentukan golongan darah pada manusia
2.       Menghitung denyut nadi pada manusia
3.       Mengetahui cara menghitung tekanan darah pada manusia
B.   DASAR TEORI
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Darah beredar ke seluruh tubuh dengan membawa oksigen dan zat makanan. Setelah terjadi pertukaran gas dan sisa metabolism di sel/jaringan, darah akan membawa karbondioksida menuju ke paru-paru untuk ditukarkan dengan oksigen kembali. Proses ini akan membawa darah masuk ke jantung, tekanan darah ketika masuk dan keluar jantung kita kenali sebagai detak jantung.
Berdasarkan kandungan jenis karbohidrat dan protein yang ada pada sel darah merah, kita mengenal istilah penggolongan darah. Ada beberapa macam penggolongan darah pada manusia, salah satu diantaranya ialah menurut sistem ABO. Menurut sistem ini, darah manusia dibagi dalam 4 golongan yaitu golongan darah A, B, AB dan O.
Ø Golongan darah A       : apabila dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen A, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin b
Ø Golongan darah B       : apabila dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen B, sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a
Ø Golongan darah AB    : apabila dalam butir darahnya mempunyai aglutinogen A dan B, sedangkan dalam plasma darahnya tidak mengandung aglutinin.
Ø Golongan darah A : apabila dalam butir darahnya tidak mempunyai aglutinogen , sedangkan dalam plasma darahnya mengandung aglutinin a dan b.
Bila antigen A bercampur dengan aglutinin a atau aglutinogen B bercampur dengan aglutinin b maka akan terjadi aglutinasi/penggumpalan. Dalam transfusi darah yang diperhatikan bagi si donor adalah aglutinogennya.

C.  ALAT DAN BAHAN
1.    Alat
Ø Mikroskop
Ø kaca objek
Ø Jarum outoclick
2.    Bahan
Ø Serum a dan b
Ø Alkohol 96%
D.  METODE KERJA
1.    Golongan darah
Ø Sediakan sebuah kaca objek yang bersih
Ø Bersihkan jari anda dengan alkohol kemudian dengan menggunakan autoclick ambil darah pada ujung jari sebanyak 1 tetes pada kedua ujung kaca objek
Ø Tambahkan pada masing-masing darah tersebut serum a dan b
Ø Aduklah masing-masing campuran serum dan darah anda tadi dengan menggunakan tusuk gigi
Ø Perhatikan apa yang terjadi pada keduanya, bila perlu amati dengan menggunakan loupe

Bila campuran darah pada serum a menggumpal, maka anda bergolongan darah A
Bila campuran darah pada serum b menggumpal, maka anda bergolongan darah B
Bila kedua campuran darah menggumpal, maka anda bergolongan darah AB
Bila kedua campuran darah tidak menggumpal, maka anda bergolongan darah O
2.    Tekanan darah
Ø Dengan menggunakan spigmomanometer, ukurlah tekanan darah anda.
Ø Catat hasilnya dalam tabel bandingkan hasilnya dengan teman sekelompokmu.
3.    Denyut nadi
Ø Hitunglah berapa denyut nadimu selama 1 menit dalam keadaan istirahat/ aktivitas rendah.
Ø Lari-lari di tempat selama 1 menit, kemudian hitung kembali denyut nadimu.
Ø Catat hasilnya dalam tabel, kemudian bandingkan hasilnya dengan teman sekelompokmu.

E.   HASIL PENGAMATAN
Tabel Pengamatan
1.    Golongan Darah
No
Nama
Anti A
Anti B
Golongan Darah







  1. Denyut Nadi
No
Nama
Frekuensi Denyut Nadi
Diam
Aktivitas






  1. Tekanan Darah
No
Nama
Sistole
Diastole






  1. Tinggi Badan – Berat Badan
No
Nama
Tinggi Badan
Berat Badan







2.    Alat-alat Peredaran Darah
Alat-alat peredaran pada manusia terdiri dari jantung dan pembuluh-pembuluh darah.
a.    Jantung
Text Box: Gambar 9. Jantung (coretandokter.wordpress.com)Description: jantung.jpgJantung manusia yang berada persis di bawah tulang dada (sternum) misalnya, berukuran sekitar satu kepalan tangan. Jantung terutama tersusun dari jaringan otot jantung. Kedua atria mempunyai dinding yang relatif tipis dan berfungsi sebagai ruangan penampungan bagi darah yang kembali ke jantung dan hanya memompa darah dalam jarak yang sangat dekat menuju ventrikel. Ventrikel mempunyai dinding yang lebih tebal dan jauh lebih kuat dibandingkan dengan atrium khususnya ventrikel kiri, yang harus memompakan darah keluar ke seluruh organ tubuh melalui sirkuit sistemik.
Empat katup dalam jantung, yang masing-masing terdiri atas kelepak-kelepak (flaps) jaringan ikat, berfungsi untuk mencegah aliran balik darah. Antara setiap atrium dan ventrikel terdapat katup atrioventrikel (artioventricular valva, AV). Katup AV ditambatkan oleh serabut kuat yang mencegah terjadinya perputaran balik aliran darah dari dalam keluar. Tekanan yang dibangkitkan oleh kontraksi ventrikel yang sangat kuat akan menutup katup AV, sehingga menjaga darah tidak mengalir kembali ke dalam atrium. Katup semilunar (semilunar valve) terletak di kedua pintu keluar jantung, tempat aorta meninggalkan ventrikel kiri dan artei pulmoner meninggalkan ventrikel kanan. Darah dipompakan keluar dan masuk ke dalam arteri melalui katup semilunar, yang dipaksa membuka oleh tekanan yang diciptakan oleh kontraksi ventrikel. Ketika ventrikel berelaksasi, darah mulai mengalir kembali menuju jantung, menutup katup semilunar, yang mencegah darah mengalir kembali ke dalam ventrikel. Dinding arteri yang elastis akan mengembang ketika menerima darah yang dikeluarkan dari ventrikel. (Campbell. 2001: 46-47).
b.    Pembuluh-Pembuluh Darah
Pada abad ke-17, penyelidikan tentang peredaran darah telah dilakukan oleh para ahli. Penelitian tersebut menemukan bahwa darah di dalam tubuh mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah.
1)   Pembulu Nadi (Arteri)
Pada saat jantung berkontraksi (sistol), darah akan keluar dari bilik menuju pembuluh nadi (arteri). Pembuluh nadi adalah pembuluh yang membawa darah dari jantung dan umumnya mengandung banyak oksigen. Pembuluh ini tebal, elastis, dan memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar jantung. Letak pembuluh nadi biasanya di dalam tubuh, hanya beberapa yang terletak di dekat permukaan sehingga dapat dirasakan denyutnya.
Secara anatomi, pembuluh nadi tersusun atas tiga lapisan jaringan. Lapisan luar berupa jaringan ikat yang kuat dan elastis. Lapisan tengah berupa otot polos yang berkontraksi secara tak sadar. Otot polos akan merenggang pada saat darah melewatinya sehingga lapisan ini tidak melipat. Lapisan dalam berupa jaringan endotelium yang melindungi jaringan di dalamnya. Pembuluh nadi yang dilewati darah adalah sebagai berikut. (Pratiwi. 2007: 88).
a)   Pembuluh nadi besar (aorta)
Aorta adalah pembuluh yang dilewati darah dari bilik kiri jantung menuju ke seluruh tubuh. Aorta becabang-cabang, makin lama makin kecil, dan disebut pembuluh nadi (arteri). Arteri becabang-cabang lagi makin kecil, disebut arteriola. Arteriola becabang halus diseluruh tubuh dan disebut kapiler.
Kapiler sangat halus dan tersusun oleh satu lapis jaringan endotelium. Kapiler dapat masuk sampai ke sel-sel tubuh. Disinilah terjadi pertukaran gas, air, dan garam mineral ataupun larutan bahan organik dari kapiler darah dengan sel-sel darah tubuh. Kapiler-kapiler akan saling bertautan dinamakan venula. Darah yang telah beredar dari seluruh tubuh melewati venula dan menuju vena yang lebih besar, kemudian akhirnya menuju vena kava (pembuluh balik tubuh) dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990: 190).
b)   Pembuluh Nadi Paru-Paru (Arteri Pulmonalis)
Pembuluh nadi paru-paru adalah pembuluh yang dilewati darah dari bilik kanan menuju paru-paru (pulmo). Pembuluh ini banyak mengandung karbon dioksida yang akan dilepaskan ke paru-paru. Di dalam paru-paru, yaitu di alveolus, darah melepas karbon dioksida dan mengikat oksigen. Dari kapiler di paru-paru, darah akan menuju ke venula, kemudian ke vena pulmonalis dan kembali ke jantung. (Wildan. 1990: 192-193).
2)   Pembuluh Balik (Vena)
Pembuluh balik adalah pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung, yang umumnya mengandung karbon dioksida. Pembuluh balik (vena) lebih mudah dikenali daripada nadi karena letaknya di daerah permukaan. Seperti halnya nadi, pembuluh balik juga disusun oleh tiga lapisan, tetapi dinding pembuluh ini lebih tipis dan tidak elastis. Tekanan pembuluh balik lemah lemah dibandingkan dengan tekanan pembuluh nadi dan di sepanjang pembuluh balik terdapat katup yang menjaga agar darah tak kembali.
Saat jantung berelaksasi (diastol), darah dari tubuh dan paru-paru akan masuk ke jantung melalui vena. Pembuluh balik ini merupakan tempat masuknya darah ke jantung. Vena diselubungi oleh otot rangka dan memiliki sebuah katup, yaitu valvula semilunaris.
Pembuluh balik yang masuk ke jantung adalah sebagai berikut:
a)   Vena Kava
Vena kava bercabang-cabang menjadi pembuluh yang lebih kecil, yaitu vena. Vena bercabang-cabang lagi menjadi kapiler vena yang disebut venula. Venula berada di dalam sel-sel tubuh dan berhubungan dengan kapiler arteri. Ada dua macam vena kava, yaitu vena kaca superior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari bagian atas tubuh (kepala, leher dan anggota badan atas) ke serambi kanan jantung dan vena kava inferior: vena ini membawa darah yang mengandung karbon dioksida dari bagian tubuh lainnya dan anggota badan bawah tubuh ke serambi kanan jantung. (Wldan. 1990: 195-196).
b)   Vena Pulmonalis
Vena ini mebawa darah yang mengandung O2 dari paru-paru ke serambi kiri jantung.

3.    Mekanisme Peredaran Darah Manusia
Text Box: Gambar 11. Sistem Peredaran Manusia (learningjust4u.wordpress.com)Description: sistem peredaran manusia.jpgAda dua macam peredaran darah dalam tubuh manusia. Peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis disebut peredaran darah kecil. Sedangkan peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava disebut peredaran darah besar. Oleh karena pada manusia terdapat kedua macam peredaran  darah tersebut, maka manusia dikatakan memiliki peredaran darah ganda. (Pratiwi. 2007: 88-89).

D.  Kelainan Pada Sistem Peredaran Darah
Kelainan dan gangguan pada sistem peredaran darah dapat ditimbulkan karena pewarisan sifat (keturunan), rusaknya alat peredaran darah akibat kecelakaan, atau akibat makanan yang dikonsumsi banyak mengandung lemak dan zat kapur. Zat makanan tersebut dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah atau berkurangnya elastisitas otot jantung dalam mekanisme pompa dan isap.
Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain:
a.    Anemia (kurang darah), dikarenakan kurangnya kadar Hb atau kurangnya jumlah eritrosit dalam darah.
b.    Varises adalah pelebaran pembuluh darah di betis.
c.    Hemoroid (ambeien), adalah pelebaran pembuluh darah di sekitar dubur (anus).
d.    Arteriosklerosis, adalah pengerasan pembuluh nadi karena timbunan atau endapan kapur.
e.    Artherosklerosis, ialah pengerasan pembuluh nadi karena endapan lemak.
f.     Embolus, ialah tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang bergerak.
g.    Trombus, ialah tersumbatnya pembuluh darah karena benda yang tidak bergerak.
h.    Hemofilia, ialah kelainan darah sukar membeku karena faktor hereditas atau keturunan.
i.      Leukemia (kanker darah), ialah bertambahnya leukosit secara tak terkendali.
j.      Penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), adalah rusaknya eritrosit bayi atau janin akibat aglutinasi dari antibodi ibu, apabila ibu bergolongan darah Rh- dan embrio Rh+. Penyakit ini terjadi pada kandungan kedua, jika kandungan pertama embrio juga bergolongan darah Rh+.
k.    Penyakit jantung koroner (PJK), yaitu penyempitan arteikoronaria yang mengangkut O2 ke jantung.
l.      Talasemia, merupakan anemia akibat rusaknya gen pembentuk hemoglobin yang bersifat menurun.

Rangkuman
Sistem peredaran darah mengangkut cairan keseluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutien, dan membuang zat-zat sisa.
Sistem peredaran darah pada hewan terbagi menjadi sistem peredaran darah terbuka yaitu sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah tertutup adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati pembuluh-pembuluh darah. Sistem peredaran darah pada hewan avertebrata dan sistem peredaran pada hewan vertebrata.
Sistem peredaran manusia terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Alat peredaran darahnya berupa jantung sebagai pusat peredaran darah dan pembuluh-pembuluh darah. Mekanisme sistem peredaran darah manusia terdiri dari dua macam yaitu, sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran darah besar. Sistem peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar adalah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
Mekanisme pembekuan darah yaitu kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase. Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati. Pembentukannya dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh kita.
Penggolongan darah terbagi menjadi dua yaitu, penggolongan darah sistem ABO dan penggolongan darah sistem rhesus. Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises, hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus, trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.
Soal Latihan
A.  Pilihlah satu jawaban yang tepat!

1.    Peredaran darah cacing tanah merupakan sistem peredaran darah ...
a.      Ganda     b. Tunggal     c. Tertutup       d. Terbuka       e. Primer
2.    Peredaran darah pada belalang adalah sistem peredaran darah yang ....
a.      Tertutup                        c. Tunggal                   e. Terbuka
 b.      Ganda                          d. primer
3.    Jantung katak terdiri dari ...
a.      1 serambi, dan 2 bilik               d. 2 serambi, dan 1 bilik
b.      2 serambi, dan 2 bilik               e. 1 serambi, dan 1 bilik
c.       3 serambi, dan 1 bilik
4.    Sistem peredaran darah manusia terdiri dari komponen berikut kecuali:
a.    Darah
b.    Jantung
c.    Vena
d.   Arteri
e.    Ginjal
5.    Fungsi hemoglobin adalah…
a.    Membawa CO2 ke jaringan
b.    Membawa CO2 dari jaringan
c.    Membantu dalam proses pembekuan darah
d.   Mengikat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh
e.    Membawa glukosa ke seluruh tubuh
6.    Darah tersusun dari sel-sel darah dan…
a.    Plasma darah
b.    Eritrosit
c.    Leukosit
d.   Trombosit
e.    Fibrinogen
7.    Sel darah sebagai pertahanan tubuh dari sel-sel asing yang menyebabkan penyakit adalah fungsi dari…
a.    Eritrosit
b.    Trombosit
c.    Leukosit
d.   Trombokinase
e.    Agranuler
8.    Golongan darah A memiliki aglutinogen…
a.    A
b.    B
c.    AB
d.   O
e.    Rh+
9.    Enzim yang berperan dalam pengubahan protrombin menjadi trombin adalah…
a.    Polimerase
b.    Histamin
c.    Heparin
d.   Trombokinase
e.    Vitamin K
10.    Zat yang menentukan golongan darah manusia adalah . . . .
a.    aglutinin dan eritrosit
b.    aglutinin dan leukosit
c.    aglutinin dan aglutinogen
d.   aglutinogen dan eritrosit
e.    aglutinogen dan leukosit

B.   Jawablah pertanyaan berikut!
1.    Apa yang dimaksud dengan sistem peredaran darah terbuka dengan sistem peredaran darah tertutup?
2.    Secara teori, bila seseorang bergolongan darah AB memerlukan transfusi darah, orang bergolongan darah apa saja yang dapat menyumbangkan darahnya untuk orang tersebut? Jelaskan!
3.    Jelaskan sistem peredaran darah kecil dan sistem peredaran darah besar?
4.    Bagaimana mekanisme pembekuan darah?
5.    Sebutkan kelainan-kelainan yang terjadi pada sistem peredaran darah?
KUNCI JAWABAN
A.  Pilihan Ganda
1.    C
2.    E
3.    D
4.    E
5.    E
6.    D
7.    C
8.    A
9.    D
10.     C

B.   Essay
1.    Sistem peredaran darah terbuka adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang tidak selalu melewati pembuluh darah, sedangkan sistem peredaran darah tertutup adalah sistem peredaran darah ke seluruh tubuh yang melewati pembuluh darah.
2.    Seluruh golongan darah yang menyumbang orang yang bergolongan darah AB, karena golongan darah AB  memiliki aglutinogen A dan B, sedangkan tidak mempunyai aglutinin anti-A dan anti-B.
3.    Sistem peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis. Sedangkan peredaran darah besar adalah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava.
4.    Mekanisme pembekuan darah yaitu kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase. Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca²+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati. Pembentukannya dibantu oleh vitamin K. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh kita.
5.    Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah antara lain: Anemia (kurang darah), varises, hemoroid (ambeien), arteriosklerosis, artherosklerosis, embolus, trombus, hemofilia, leukemia (kanker darah), penyakit kuning pada bayi (eritroblastosis fetalis), penyakit jantung koroner, talasemia.













DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil. A. 2001. “Biologi edisi ke-5 jilid ke-2”. Erlangga : Jakarta
Pratiwi, dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI. Erlangga: Jakarta.
Yatim, Wildan. 1990. Histologi. Tarsito: Bandung.


























BIOGRAFI PENULIS
Description: Foto008.jpgPenulis memiliki nama lengkap Helmi Apriliyatmi Hapwiyah, lahir pada tanggal 21 April 1993 di Indramayu. Pendidikan dasar di SD Negeri Eretan Wetan 1, pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2005.  Kemudian, melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Kandanghaur dari tahun 2005 sampai dengan selesai pada tahun 2008. Seusai menjalani pendidikan sekolah menengah, penulis kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Kandanghaur dari tahun 2008 sampai 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar