Senin, 13 Oktober 2014

PENERAPAN CTL DENGAN KOOPERATIF NHT PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI

MAKALAH
PENERAPAN CTL DENGAN KOOPERATIF NHT PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 MALANG
Diajukan untuk memenuhi tugas mandiri
Mata kuliah: Model Pembelajaran Biologi
Dosen pengampu : Eka Fitriah, S.Si, M.Pd


Logo IAIN CIREBON
 





Disusun oleh:
Nama                  : Helmi Apriliyatmi Hapwiyah           
NIM                   : 14111610109
Kelas/Semester   : Biologi B/5


KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI  CIREBON 
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Proses pembelajaran secara umum baik pada pendidikan dasar dan terutama pendidikan menengah, masih sedikit sekali dan bahkan jarang ditemukan sebuah proses pembelajaran yang mampu menciptakan dan menumbuhkan motivasi belajar dan kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim atau kelompok bagi peserta didiknya. Umumnya dalam proses pembelajaran masih sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan kekontekstualitas materi ajar sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran biologi di sekolah-sekolah pada umumnya masih menggunakan model pembelajaran konvensional, yang biasanya menggunakan pembelajaran yang bersifat langsung. Model pembelajaran konvensional memiliki ciri yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada guru atau yang sering disebut dengan Teacher Center, dan memiliki urutan pembelajaran: penjelasan, contoh-contoh, latihan, balikan.
Pembelajaran yang terpusat pada guru mengakibatkan peserta didik kurang aktif, oleh karena itu perlu digeser sedemikian rupa sehingga menjadi lebih terpusat pada peserta didik. Demikian pula adanya asumsi bahwa seluruh peserta didik di kelas mempunyai karakteristik sama membawa konsekuensi pada pemberian perlakuan belajar yang serba sama pula pada mereka, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk berkembang sesuai perbedaan yang dimilikinya. Menurut Murphy, seorang psikolog kenamaan, berpandangan bahwa proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara organisme yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu (Suryabrata, 2002).
 Kurang aktifnya siswa dalam mengajukan pertanyaan atau bertanya menunjukkan rendahnya minat belajar, berbicara atau mengobrol dengan teman sebangku di luar materi pelajaran dan tertidur saat pelajaran berlangsung menunjukkan rendahnya perhatian belajar, tidak mencatat dan bermain telepon seluller menunjukkan rendahnya konsentrasi belajar sedangkan yang menunjukkan rendahnya ketekunan adalah tidak mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas dan meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung tanpa alasan yang jelas.
 Usaha untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar tersebut, salah satunya dengan memperbaiki kualitas proses pembelajaran. Adanya proses pembelajaran yang lebih menyenangkan, tidak monoton, melibatkan siswa dan bermakna bagi siswa diharapkan mampu menumbuhkan motivasi belajar yang akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.    

B.            Rumusan Masalah
Permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Pengertian model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
2.    Apa saja karakteristik dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
3.    Apa langkah-langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
4.    Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT pada bidang studi biologi?

C.           Tujuan
1.    Mengetahui tentang model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT Mengetahui karakteristik model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT
2.    Mengetahui langkah-langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT
3.    Mengetahui kelebihan dan kekurangan pada model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT pada bidang studi biologi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Model Pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT Pada Bidang studi Biologi
CTL adalah suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam hidupnya. CTL mempunyai beberapa strategi dan komponen yang mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Strategi tersebut antara lain relating, applying dan transferring, sedangkan komponen CTL antara lain konstruktivisme, inkuiri, pemodelan dan bertanya. (Buana, 2009:5)   
Setjo (2004:7) menyatakan bahwa strategi applying dan transferring sangat memotivasi siswa untuk belajar. Dua strategi ini membuat siswa termotivasi karena memberi pengalaman dalam menerapkan konsep pengetahuan yang diperolehnya dan memberi pengalaman siswa untuk menggunakan pengalaman dalam konteks yang baru. Komponen kontruktivisme, inkuiri dan pemodelan membuat hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, siswa dituntut dan didorong untuk aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran, sehingga mampu membangkitkan motivasi belajar siswa. Adanya komponen bertanya dalam CTL, mengembangkan rasa keingintahuan siswa terhadap materi yang dipelajari, rasa ingin tahu ini mencerminkan suatu bentuk kebutuhan akan suatu informasi yang dilandasi oleh motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang penting atau bermanfaat bagi diri siswa.
Oleh sebab itu, melalui model pembelajaran kontekstual, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghapal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik). Akan tetapi, secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan permasalaha kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat). (Rusman, 2012:190)
Pembelajaran kooperatif adalah kerja kelompok yang terkelola dan terorganisasikan sedemikian sehingga peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan-tujuan akademik, effektif dan sosial (Johnson dan Johnson,1989). Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat lima prinsip yang harus tercermin didalamnya.. lima prinsip tersebut adalah : 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi proses kelompok.
Dalam model pembelajaran kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilisator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. (Rusmana, 2012).
Salah satu model dalam pembelajaran kooperatif adalah NHT. Model NHT adalah suatu model pembelajaran yang dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawan. Model ini menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memenuhi pola-pola interaksi khusus siswa. Struktur-struktur tersebut menghendaki agar para siswa bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif (Nurhadi dan Senduk, 2003:65). Kelebihan belajar kooperatif dengan model struktural NHT menurut Hill & Hill (1993) dalam Arief (2004:28) yaitu: 1) meningkatkan prestasi siswa, 2) memperdalam pemahaman siswa, 3) menyenangkan siswa dalam belajar, 4) mengembangkan sikap positif siswa, 5) mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, 6) mengembangkan rasa percaya diri siswa, 7) mengembangkan rasa saling memiliki dan 8) mengembangkan keterampilan untuk masa depan.
Metode kooperatif model NHT terdiri dari tahap Heads Together, saat pelaksanaan tahap ini siswa dalam satu kelompok saling bekerjasama supaya kelompoknya menjadi yang terbaik ketika memasuki tahap Answering. Tahap Answering menuntut konsentrasi semua siswa dalam menyiapkan jawaban pertanyaan dengan sebaik-baiknya, apabila jawaban benar maka akan diberi reward bagi individu dan kelompok, begitu pula ketika ada siswa yang memberi penjelasan atau tanggapan atas jawaban siswa lainnya.
Kagan (1993) menjelaskan, pada saat Heads Together akuntabilitas setiap individu juga dibangun, sedangkan saat Answering siswa tahu bahwa salah satu dari nomor akan dipanggil, maka dibutuhkan kemampuan untuk konsentrasi mendengarkan jika nomornya dipanggil, kemudian kemampuan untuk sharing jawaban bagi siswa yang nomornya tidak dipanggil karena mereka ingin kelompoknya menjadi yang terbaik. Sardiman (2008:93) menjelaskan bahwa saingan atau kompetisi antar kelompok dan individu dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Hamachek (1990:292) menjelaskan, pendekatan kooperatif dan kompetisi dapat meningkatkan motivasi.

B.            Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan strategi koopertif Number Head Together (NHT), antara lain sebagai berikut:
1.         Kerja sama.
2.         Saling menunjang.
3.         Menyenangkan tidak membosankan.
4.         Belajar dengan bergairah.
5.         Pembelajaran terintegrasi.
6.         Menggunakan berbagai sumber.
7.         Siswa aktif.
8.         Sharing dengan teman.
9.         Siswa kritis guru kreatif.
10.     Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel).
11.     Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dn lain-lain. (Rusman, 2012: 198)
12.     Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
13.     Bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
14.     Pengahargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.

C.           Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Pada intinya pengembangan setiap komponen  CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang akan dimilikinya.
2.    Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang akan diajarkan.
3.    Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4.    Mengembangkan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, tanya jawab, dn lain sebagainya.
5.    Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.
6.    Membiasakan anak untuk melalukan refleksi diri setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
7.    Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa. (Rusmana, 2012: 192)
Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks NHT:
a.       Fase 1 : Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5.
b.      Fase 2 : Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertnyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, “Berapakah jumlah gigi orang dewasa?” atau berbentuk arahan, misalnya “Pastikan setiap orang mengetahui 5 buah ibu kota provinsi yang terletak di Pulau Sumatera.” 
c.       Fase 3: Berpikir bersama
Kelompok saling mendekat dan mencoba menjawab bersama dengan menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
d.      Fase 4: Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor tertentu, kemudian siswa yanng nomornya sesuai mengcungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Kegiatan ini diulang kembali oleh guru sampai semua pertanyaan terjawab habis.
( Wrasono, 2012: 261).

D.           Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. Kelebihan dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT, diantaranya sebagai berikut:
1.        Meningkatkan prestasi akademik.
2.        Meningkatkan saling pengertian antar ras dan antar etnik.
3.        Meningkatkan kepercayaan diri.
4.        Meningkatkan tumbuhnya empati.
5.        Meningkatkan berbagai keterampilan sosial, seperti mau mendengar, resolusi konflik, sabar untuk antre menunggu giliran, keterampilan kepemimpinan, serta keterampilan bekerja sama dalam tim kerja.
6.        Mempererat hubungan sosial.
7.        Iklim kelas menjadi baik dengan meningkatnya kesukaan bersekolah, kesukaan asyik dalam kelas, kesukaan belajar isi/kurikulum pembelajaran dan kesukaan terhadap guru.
8.        Meningktakan inisiatif siswa dan bertanggung jawab untuk memperoleh pencapaian yang baik dalam belajar, meningkatkan kontrol diri para siswa untuk tidak mengabaikan pembelajaran.
9.        Meningkatkan ketrampilan untuk menerima perbedaan.
10.    Salah satu jalan menuju tahap pemikiran tingkat tinggi adalah berinteraksi dengan sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang orang lain.
11.    Meningkatkan tanggung jawab pribadi.
12.    Meningkatkan partisipasi secara setara dan adil.
13.    Meningkatkan durasi partisipasi. Presentase waktu yang digunakan untuk benar-benar belajar oleh setiap siswa meningkat.
14.    Memperbaiki orientasi sosial. Para siswa tidak lagi melihat siswa yang lain sebagai penghalang, tetapi sebagai mitra untuk mencapai keberhasilan. Para siswa paham bahwa kesuksesan anggota tim yang lain akan meningkatkan probabilitas pencapaian kesuksesannya sendiri.
15.    Memperbaiki orientasi pembelajaran. Sasaran pembelajaran siswa sekarang tidak lagi semat-mata untuk memperoleh nilai, tetapi demi kesenangan karena bekerja sama dalam tim, kepuasan karena menyelesaikan tugas yang menantang bersama-sama, dan merasa dihargai sebagai anggota kelompok dan warga kelas.
16.    Meningkatkan pengetahuan pribadi dan keterampilan perwujudan pribadi, para siswa akan menyadari dirinya apakah mereka terlalu dominan, pemalu atau bersikap kasar atau bersikap terlalu membantu siswa yang lain dan mendapatkan umpan balik sebagai hasil interaksi tersebut.
17.    Meningkatkan kecakapan sebagai pekerja (workplace skill), para siswa banyak belajar bagamana saling bergantung secara positif dalam suatu tim. (Warsono, 2012: 243)
Adapun kekurangan pada model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT:
1.        Timbulnya pemikiran tingkat tinggi (higher order thinking) dari para siswa yang ternyata sesuai dengan keterbatasan kemampuan berfikir dan tingkat kedewasaan para siswa.
2.        Seringkali siswa yang lebih cerdas meninggalkan siswa yang lebih lemah pembelajarannya.
3.        Kesempatan untuk menerapkan pemikiran tingkat tinggi (higher order thinking). Karena waktu yang sering kali terbatas, kebanyakan kelompok siswa hanya berfokus pada implementasi pemikiran tingkat rendah, asalkan tugas-tugas dari guru dapat diselesaikan.
4.        Upaya pengelompokan para siswa dengan kecakapan yang berbeda-beda. Sementara para ahli meyakini bahwa pembentukan kelompok heterogen terhadap siswa-siswa yang berbakat, seperti itu justru akan menurunkan kemampuan belajar mereka atau kemampuan belajar mereka menjadi kurang berkembang karena diganggu dengan keharusan membantu teman lain yang kurang cepat berfikir.
5.        Umumnya jumlah siswa di Indonesia  masih terlalu besar, sehingga kelas sulit diatur untuk melakukan diskusi kelompok kecil. (Warsono, 2012: 240).





BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai model pembelajaran contextual teaching and leraning (CTL) dengan kooperatif number head together (NHT) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.         Model pembelajaran contextual teaching and learning  dengan kooperatif number head together (NHT) adalah suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam hidupnya dengan menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memenuhi pola-pola interaksi khusus siswa.
2.         Karakteristik model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT adalah kerja sama, saling menunjang, menyenangkan tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel), laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dn lain-lain, kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda, dan pengahargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.
3.         Langkah-langkah model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT adalah fase 1 : penomoran, fase 2 : mengajukan pertanyaan, fase 3: berpikir bersama, fase 4: Menjawab.
4.         Kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT. Kelebihan model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT adalah: a). meningkatkan prestasi akademik. b). meningkatkan saling pengertian antar ras dan antar etnik. c). meningkatkan kepercayaan diri. d). meningkatkan tumbuhnya empati. e). meningkatkan berbagai keterampilan sosial. f). mempererat hubungan sosial. g). iklim kelas menjadi baik dengan meningkatnya kesukaan bersekolah. h). meningktakan inisiatif siswa dan bertanggung jawab. i). meningkatkan ketrampilan untuk menerima perbedaan. j). salah satu jalan menuju tahap pemikiran tingkat tinggi. k). meningkatkan tanggung jawab pribadi. l). meningkatkan partisipasi secara setara dan adil. m). meningkatkan durasi partisipasi. n). meningkatkan pengetahuan pribadi dan keterampilan perwujudan pribadi. o). meningkatkan kecakapan sebagai pekerja (workplace skill).
Sedangkan kekurangannya adalah: a). Timbulnya pemikiran tingkat tinggi (higher order thinking) dari para siswa. b). Seringkali siswa yang lebih cerdas meninggalkan siswa yang lebih lemah pembelajarannya. c). Kebanyakan kelompok siswa hanya berfokus pada implementasi pemikiran tingkat rendah. d). Pembentukan kelompok heterogen terhadap siswa-siswa yang berbakat, seperti itu justru akan menurunkan kemampuan belajar. e). Umumnya jumlah siswa di Indonesia  masih terlalu besar, sehingga kelas sulit diatur untuk melakukan diskusi kelompok kecil.










DAFTAR PUSTAKA
Buana, 2009. Muhammad Fajar. Penerapan CTL dengan Kooperatif NHT pada Mata Pelajaran Biologi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Muhammadiyah ! Malang (Jurnal). Semarang:
Rusman, 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Bandung: PT Rajagrafindo Persada.
Trianto, 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Surabaya: Prenada Media Group.
Wahidin, 2006. Metode Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: Sangga Buana.
Warsono dan Hariyanto, 2012. Pembelajaran aktif Teori dan Assemen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
 

Kamis, 02 Oktober 2014

PENERAPAN CTL DENGAN KOOPERATIF NHT PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 MALANG




MAKALAH
PENERAPAN CTL DENGAN KOOPERATIF NHT PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 MALANG
Diajukan untuk memenuhi tugas mandiri
Mata kuliah: Model Pembelajaran Biologi
Dosen pengampu : Eka Fitriah, S.Si, M.Pd


Description: Logo IAIN CIREBON
 





Disusun oleh:
Nama                  : Helmi Apriliyatmi Hapwiyah           
NIM                   : 14111610109
Kelas/Semester   : Biologi B/5


KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI  CIREBON
2013 


KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat, hidayah­­, serta kemudahan dalam segala hal sehingga dalam pembuatan makalah ini, yang kami beri judul “penerapan CTL dengan kooperatif NHT pada mata pelajaran biologi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang” dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Tak lupa pula shalawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya, dan semmoga kita termasuk umatnya yang diberi syafa’at di yaumil akhir nanti. Amin.
            Selanjutnya kami ucapkan terimakasih terutama kepada dosen pengampu mata kuliah Model Pembelajaran Biologi yang telah membimbing dalam pembuatan makalah. Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan seperjuangan yang memberi dorongan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
            Dari makalah yang kami buat ini, berharap semoga dapat memberikan manfaat yang berarti bagi para pembacanya dan dapat memberikan informasi tambahan.  Akhir kata kami ucapkan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah ini.  Untuk itu, kami  mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk dapat memperbaiki makalah selanjutnya.



                                                                                    Cirebon, September 2013


                                                                                                Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Proses pembelajaran secara umum baik pada pendidikan dasar dan terutama pendidikan menengah, masih sedikit sekali dan bahkan jarang ditemukan sebuah proses pembelajaran yang mampu menciptakan dan menumbuhkan motivasi belajar dan kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim atau kelompok bagi peserta didiknya. Umumnya dalam proses pembelajaran masih sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan kekontekstualitas materi ajar sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran biologi di sekolah-sekolah pada umumnya masih menggunakan model pembelajaran konvensional, yang biasanya menggunakan pembelajaran yang bersifat langsung. Model pembelajaran konvensional memiliki ciri yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada guru atau yang sering disebut dengan Teacher Center, dan memiliki urutan pembelajaran: penjelasan, contoh-contoh, latihan, balikan.
Pembelajaran yang terpusat pada guru mengakibatkan peserta didik kurang aktif, oleh karena itu perlu digeser sedemikian rupa sehingga menjadi lebih terpusat pada peserta didik. Demikian pula adanya asumsi bahwa seluruh peserta didik di kelas mempunyai karakteristik sama membawa konsekuensi pada pemberian perlakuan belajar yang serba sama pula pada mereka, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk berkembang sesuai perbedaan yang dimilikinya. Menurut Murphy, seorang psikolog kenamaan, berpandangan bahwa proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara organisme yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu (Suryabrata, 2002).
 Kurang aktifnya siswa dalam mengajukan pertanyaan atau bertanya menunjukkan rendahnya minat belajar, berbicara atau mengobrol dengan teman sebangku di luar materi pelajaran dan tertidur saat pelajaran berlangsung menunjukkan rendahnya perhatian belajar, tidak mencatat dan bermain telepon seluller menunjukkan rendahnya konsentrasi belajar sedangkan yang menunjukkan rendahnya ketekunan adalah tidak mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas dan meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung tanpa alasan yang jelas.
 Usaha untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar tersebut, salah satunya dengan memperbaiki kualitas proses pembelajaran. Adanya proses pembelajaran yang lebih menyenangkan, tidak monoton, melibatkan siswa dan bermakna bagi siswa diharapkan mampu menumbuhkan motivasi belajar yang akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.    

B.            Rumusan Masalah
Permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Pengertian model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
2.    Apa saja karakteristik dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
3.    Apa langkah-langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT?
4.    Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT pada bidang studi biologi?

C.           Tujuan
1.    Mengetahui tentang model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT Mengetahui karakteristik model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT
2.    Mengetahui langkah-langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT
3.    Mengetahui kelebihan dan kekurangan pada model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT pada bidang studi biologi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Model Pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT Pada Bidang studi Biologi
CTL adalah suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam hidupnya. CTL mempunyai beberapa strategi dan komponen yang mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Strategi tersebut antara lain relating, applying dan transferring, sedangkan komponen CTL antara lain konstruktivisme, inkuiri, pemodelan dan bertanya. (Buana, 2009:5)   
Setjo (2004:7) menyatakan bahwa strategi applying dan transferring sangat memotivasi siswa untuk belajar. Dua strategi ini membuat siswa termotivasi karena memberi pengalaman dalam menerapkan konsep pengetahuan yang diperolehnya dan memberi pengalaman siswa untuk menggunakan pengalaman dalam konteks yang baru. Komponen kontruktivisme, inkuiri dan pemodelan membuat hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, siswa dituntut dan didorong untuk aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran, sehingga mampu membangkitkan motivasi belajar siswa. Adanya komponen bertanya dalam CTL, mengembangkan rasa keingintahuan siswa terhadap materi yang dipelajari, rasa ingin tahu ini mencerminkan suatu bentuk kebutuhan akan suatu informasi yang dilandasi oleh motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang penting atau bermanfaat bagi diri siswa.
Oleh sebab itu, melalui model pembelajaran kontekstual, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghapal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik). Akan tetapi, secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan permasalaha kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat). (Rusman, 2012:190)
Pembelajaran kooperatif adalah kerja kelompok yang terkelola dan terorganisasikan sedemikian sehingga peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan-tujuan akademik, effektif dan sosial (Johnson dan Johnson,1989). Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat lima prinsip yang harus tercermin didalamnya.. lima prinsip tersebut adalah : 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi proses kelompok.
Dalam model pembelajaran kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilisator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. (Rusmana, 2012).
Salah satu model dalam pembelajaran kooperatif adalah NHT. Model NHT adalah suatu model pembelajaran yang dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawan. Model ini menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memenuhi pola-pola interaksi khusus siswa. Struktur-struktur tersebut menghendaki agar para siswa bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif (Nurhadi dan Senduk, 2003:65). Kelebihan belajar kooperatif dengan model struktural NHT menurut Hill & Hill (1993) dalam Arief (2004:28) yaitu: 1) meningkatkan prestasi siswa, 2) memperdalam pemahaman siswa, 3) menyenangkan siswa dalam belajar, 4) mengembangkan sikap positif siswa, 5) mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, 6) mengembangkan rasa percaya diri siswa, 7) mengembangkan rasa saling memiliki dan 8) mengembangkan keterampilan untuk masa depan.
Metode kooperatif model NHT terdiri dari tahap Heads Together, saat pelaksanaan tahap ini siswa dalam satu kelompok saling bekerjasama supaya kelompoknya menjadi yang terbaik ketika memasuki tahap Answering. Tahap Answering menuntut konsentrasi semua siswa dalam menyiapkan jawaban pertanyaan dengan sebaik-baiknya, apabila jawaban benar maka akan diberi reward bagi individu dan kelompok, begitu pula ketika ada siswa yang memberi penjelasan atau tanggapan atas jawaban siswa lainnya.
Kagan (1993) menjelaskan, pada saat Heads Together akuntabilitas setiap individu juga dibangun, sedangkan saat Answering siswa tahu bahwa salah satu dari nomor akan dipanggil, maka dibutuhkan kemampuan untuk konsentrasi mendengarkan jika nomornya dipanggil, kemudian kemampuan untuk sharing jawaban bagi siswa yang nomornya tidak dipanggil karena mereka ingin kelompoknya menjadi yang terbaik. Sardiman (2008:93) menjelaskan bahwa saingan atau kompetisi antar kelompok dan individu dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Hamachek (1990:292) menjelaskan, pendekatan kooperatif dan kompetisi dapat meningkatkan motivasi.

B.            Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan strategi koopertif Number Head Together (NHT), antara lain sebagai berikut:
1.         Kerja sama.
2.         Saling menunjang.
3.         Menyenangkan tidak membosankan.
4.         Belajar dengan bergairah.
5.         Pembelajaran terintegrasi.
6.         Menggunakan berbagai sumber.
7.         Siswa aktif.
8.         Sharing dengan teman.
9.         Siswa kritis guru kreatif.
10.     Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel).
11.     Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dn lain-lain. (Rusman, 2012: 198)
12.     Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
13.     Bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
14.     Pengahargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.

C.           Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Pada intinya pengembangan setiap komponen  CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang akan dimilikinya.
2.    Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang akan diajarkan.
3.    Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4.    Mengembangkan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, tanya jawab, dn lain sebagainya.
5.    Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.
6.    Membiasakan anak untuk melalukan refleksi diri setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
7.    Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa. (Rusmana, 2012: 192)
Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks NHT:
a.       Fase 1 : Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5.
b.      Fase 2 : Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertnyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, “Berapakah jumlah gigi orang dewasa?” atau berbentuk arahan, misalnya “Pastikan setiap orang mengetahui 5 buah ibu kota provinsi yang terletak di Pulau Sumatera.” 
c.       Fase 3: Berpikir bersama
Kelompok saling mendekat dan mencoba menjawab bersama dengan menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
d.      Fase 4: Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor tertentu, kemudian siswa yanng nomornya sesuai mengcungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Kegiatan ini diulang kembali oleh guru sampai semua pertanyaan terjawab habis.
( Wrasono, 2012: 261).

D.           Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. Kelebihan dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT, diantaranya sebagai berikut:
1.        Meningkatkan prestasi akademik.
2.        Meningkatkan saling pengertian antar ras dan antar etnik.
3.        Meningkatkan kepercayaan diri.
4.        Meningkatkan tumbuhnya empati.
5.        Meningkatkan berbagai keterampilan sosial, seperti mau mendengar, resolusi konflik, sabar untuk antre menunggu giliran, keterampilan kepemimpinan, serta keterampilan bekerja sama dalam tim kerja.
6.        Mempererat hubungan sosial.
7.        Iklim kelas menjadi baik dengan meningkatnya kesukaan bersekolah, kesukaan asyik dalam kelas, kesukaan belajar isi/kurikulum pembelajaran dan kesukaan terhadap guru.
8.        Meningktakan inisiatif siswa dan bertanggung jawab untuk memperoleh pencapaian yang baik dalam belajar, meningkatkan kontrol diri para siswa untuk tidak mengabaikan pembelajaran.
9.        Meningkatkan ketrampilan untuk menerima perbedaan.
10.    Salah satu jalan menuju tahap pemikiran tingkat tinggi adalah berinteraksi dengan sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang orang lain.
11.    Meningkatkan tanggung jawab pribadi.
12.    Meningkatkan partisipasi secara setara dan adil.
13.    Meningkatkan durasi partisipasi. Presentase waktu yang digunakan untuk benar-benar belajar oleh setiap siswa meningkat.
14.    Memperbaiki orientasi sosial. Para siswa tidak lagi melihat siswa yang lain sebagai penghalang, tetapi sebagai mitra untuk mencapai keberhasilan. Para siswa paham bahwa kesuksesan anggota tim yang lain akan meningkatkan probabilitas pencapaian kesuksesannya sendiri.
15.    Memperbaiki orientasi pembelajaran. Sasaran pembelajaran siswa sekarang tidak lagi semat-mata untuk memperoleh nilai, tetapi demi kesenangan karena bekerja sama dalam tim, kepuasan karena menyelesaikan tugas yang menantang bersama-sama, dan merasa dihargai sebagai anggota kelompok dan warga kelas.
16.    Meningkatkan pengetahuan pribadi dan keterampilan perwujudan pribadi, para siswa akan menyadari dirinya apakah mereka terlalu dominan, pemalu atau bersikap kasar atau bersikap terlalu membantu siswa yang lain dan mendapatkan umpan balik sebagai hasil interaksi tersebut.
17.    Meningkatkan kecakapan sebagai pekerja (workplace skill), para siswa banyak belajar bagamana saling bergantung secara positif dalam suatu tim. (Warsono, 2012: 243)
Adapun kekurangan pada model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT:
1.        Timbulnya pemikiran tingkat tinggi (higher order thinking) dari para siswa yang ternyata sesuai dengan keterbatasan kemampuan berfikir dan tingkat kedewasaan para siswa.
2.        Seringkali siswa yang lebih cerdas meninggalkan siswa yang lebih lemah pembelajarannya.
3.        Kesempatan untuk menerapkan pemikiran tingkat tinggi (higher order thinking). Karena waktu yang sering kali terbatas, kebanyakan kelompok siswa hanya berfokus pada implementasi pemikiran tingkat rendah, asalkan tugas-tugas dari guru dapat diselesaikan.
4.        Upaya pengelompokan para siswa dengan kecakapan yang berbeda-beda. Sementara para ahli meyakini bahwa pembentukan kelompok heterogen terhadap siswa-siswa yang berbakat, seperti itu justru akan menurunkan kemampuan belajar mereka atau kemampuan belajar mereka menjadi kurang berkembang karena diganggu dengan keharusan membantu teman lain yang kurang cepat berfikir.
5.        Umumnya jumlah siswa di Indonesia  masih terlalu besar, sehingga kelas sulit diatur untuk melakukan diskusi kelompok kecil. (Warsono, 2012: 240).





BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai model pembelajaran contextual teaching and leraning (CTL) dengan kooperatif number head together (NHT) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.         Model pembelajaran contextual teaching and learning  dengan kooperatif number head together (NHT) adalah suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam hidupnya dengan menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memenuhi pola-pola interaksi khusus siswa.
2.         Karakteristik model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT adalah kerja sama, saling menunjang, menyenangkan tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel), laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dn lain-lain, kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda, dan pengahargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.
3.         Langkah-langkah model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT adalah fase 1 : penomoran, fase 2 : mengajukan pertanyaan, fase 3: berpikir bersama, fase 4: Menjawab.
4.         Kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT. Kelebihan model pembelajaran CTL dengan kooperatif NHT adalah: a). meningkatkan prestasi akademik. b). meningkatkan saling pengertian antar ras dan antar etnik. c). meningkatkan kepercayaan diri. d). meningkatkan tumbuhnya empati. e). meningkatkan berbagai keterampilan sosial. f). mempererat hubungan sosial. g). iklim kelas menjadi baik dengan meningkatnya kesukaan bersekolah. h). meningktakan inisiatif siswa dan bertanggung jawab. i). meningkatkan ketrampilan untuk menerima perbedaan. j). salah satu jalan menuju tahap pemikiran tingkat tinggi. k). meningkatkan tanggung jawab pribadi. l). meningkatkan partisipasi secara setara dan adil. m). meningkatkan durasi partisipasi. n). meningkatkan pengetahuan pribadi dan keterampilan perwujudan pribadi. o). meningkatkan kecakapan sebagai pekerja (workplace skill).
Sedangkan kekurangannya adalah: a). Timbulnya pemikiran tingkat tinggi (higher order thinking) dari para siswa. b). Seringkali siswa yang lebih cerdas meninggalkan siswa yang lebih lemah pembelajarannya. c). Kebanyakan kelompok siswa hanya berfokus pada implementasi pemikiran tingkat rendah. d). Pembentukan kelompok heterogen terhadap siswa-siswa yang berbakat, seperti itu justru akan menurunkan kemampuan belajar. e). Umumnya jumlah siswa di Indonesia  masih terlalu besar, sehingga kelas sulit diatur untuk melakukan diskusi kelompok kecil.










DAFTAR PUSTAKA
Buana, 2009. Muhammad Fajar. Penerapan CTL dengan Kooperatif NHT pada Mata Pelajaran Biologi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Muhammadiyah ! Malang (Jurnal). Semarang:
Rusman, 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Bandung: PT Rajagrafindo Persada.
Trianto, 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Surabaya: Prenada Media Group.
Wahidin, 2006. Metode Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: Sangga Buana.
Warsono dan Hariyanto, 2012. Pembelajaran aktif Teori dan Assemen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.